Pokok pemikiran dari filsafat dan kebudayaan Cina adalah
perikemanusiaan. Filsafat Cina lebih pragmatis dengan mengajarkan
bagaimana harus bertindak supaya keseimbangan antara dunia dan surga
tercapai. Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa semua makhluk
dikuasai oleh suatu nasib buta (Moira), dan ketika kebudayaan
India masih mengajarkan bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda
reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa
manusia sendiri dapat menentukan nasib dan tujuannya. Filsafat Cina
dibagi atas 4 periode besar. Zaman Klasik (600 - 200 SM), zaman
Neo-taoisme dan Buddhisme (200 SM - 1000 M), zaman Neo-konfusianisme
(1000 - 1900 M) dan zaman Modern (setelah 1900).
1. ZAMAN KLASIK
1. ZAMAN KLASIK
Zaman klasik terletak antara sekitar 600 dan 200 SM. Menurut tradisi,
dalam periode ini dibedakan seratus sekolah filsafat, seratus aliran
yang mempunyai ajaran yang berbeda. Namun demikian ada beberapa konsep
yang diajarkan secara umum seperti tao (jalan), te (keutamaan atau seni hidup), yen (perikemanusiaan), i (keadilan), ti'en (surga), dan yin-yang
(harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif laki-laki dan prinsip pasif
perempuan). Sekolah-sekolah terpenting pada zaman klasik diuraikan
secara ringkas sebagai berikut:
a. Konfusianisme
Konfusius (Latin = Kong-Fu-tse yang berarti guru dari suku Kung) hidup antara 551 dan 497 SM, mengajarkan bahwa Tao adalah jalan manusia. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia kalau ia hidup dengan baik. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan. Perikemanusiaan adalah model yang berlaku untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama, walaupun tindakan mereka berbeda.
b. Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru tua) yang hidup sekitar tahun 550 SM. Lao Tse melawan Konfusius. Menurutnya bukan jalan manusia melainkan jalan alamlah yang merupakan Tao. Dia mengajarkan Tao adalah prinsip kenyataan obyektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak, dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih bersifat metafisika, sedangkan Konfusius lebih ke etika.
c. Yin-Yang
Yang terpenting lainnya adalah sekolah mementingkan Yin dan Yang, kedua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu prinsip pasif yaitu prinsip ketenangan, surga, bulan, air, dan perempuan, simbol untuk kematian dan simbol untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintetis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat yang tertentu.
d. Moisme
Didirikan oleh Mo Tse, antara 500 dan 400 SM. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah cinta universal, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat ini sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Tetapi Mo Tse melawan musik karena dianggap tidak berguna dan oleh karenanya dianggap jelek. Etika Mo Tse mengenal prinsip yang antara lain dalam agama kristen disebut kaidah emas : setiap orang harus memperlakukan negara-negara asing seperti tanah air sendiri, keluaga lain seperti keluarga sendiri, orang lain seperti dirinya sendiri. Perintah ini cukup untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran umum.
e. Ming Cia
Ming Cia atau sekolah nama-nama menganalisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk memakai bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tata bahasa.
f. Fa Chia
Merupakan sekolah hukum yang cukup berbeda dari semua aliran klasik lainnya. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus dimulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan suatu sistem undang-undang yang keras sekali.
Dari keenam sekolah klasik tersebut juga dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Konfusianisme dari kaum ilmuwan, Taoisme dari rahib-rahib, Yin-Yang dari okultisme (ahli-ahli magis), Moisme berasal dari kasta ksatrya. Ming Chia dari para pendebat, dan Fa Vhia dari ahli-ahli politik.
2. ZAMAN NEO-TAOISME dan BUDDHISME
a. Konfusianisme
Konfusius (Latin = Kong-Fu-tse yang berarti guru dari suku Kung) hidup antara 551 dan 497 SM, mengajarkan bahwa Tao adalah jalan manusia. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia kalau ia hidup dengan baik. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan. Perikemanusiaan adalah model yang berlaku untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama, walaupun tindakan mereka berbeda.
b. Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru tua) yang hidup sekitar tahun 550 SM. Lao Tse melawan Konfusius. Menurutnya bukan jalan manusia melainkan jalan alamlah yang merupakan Tao. Dia mengajarkan Tao adalah prinsip kenyataan obyektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak, dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih bersifat metafisika, sedangkan Konfusius lebih ke etika.
c. Yin-Yang
Yang terpenting lainnya adalah sekolah mementingkan Yin dan Yang, kedua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu prinsip pasif yaitu prinsip ketenangan, surga, bulan, air, dan perempuan, simbol untuk kematian dan simbol untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintetis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat yang tertentu.
d. Moisme
Didirikan oleh Mo Tse, antara 500 dan 400 SM. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah cinta universal, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat ini sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Tetapi Mo Tse melawan musik karena dianggap tidak berguna dan oleh karenanya dianggap jelek. Etika Mo Tse mengenal prinsip yang antara lain dalam agama kristen disebut kaidah emas : setiap orang harus memperlakukan negara-negara asing seperti tanah air sendiri, keluaga lain seperti keluarga sendiri, orang lain seperti dirinya sendiri. Perintah ini cukup untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran umum.
e. Ming Cia
Ming Cia atau sekolah nama-nama menganalisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk memakai bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tata bahasa.
f. Fa Chia
Merupakan sekolah hukum yang cukup berbeda dari semua aliran klasik lainnya. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus dimulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan suatu sistem undang-undang yang keras sekali.
Dari keenam sekolah klasik tersebut juga dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Konfusianisme dari kaum ilmuwan, Taoisme dari rahib-rahib, Yin-Yang dari okultisme (ahli-ahli magis), Moisme berasal dari kasta ksatrya. Ming Chia dari para pendebat, dan Fa Vhia dari ahli-ahli politik.
2. ZAMAN NEO-TAOISME dan BUDDHISME
Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti
baru. Tao sekarang dibandingkan dengan Nirwana dari ajaran Buddha, yaitu
transendensi di seberang segala nama dan konsep. Transendensi merupakan
dasar dari dua unsurnya yang lain. Transendensi hendak menjadikan
nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses
membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang
sangat sentral.
3. ZAMAN NEO-KONFUSIANISME
3. ZAMAN NEO-KONFUSIANISME
Dari tahun 1000 M, Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat
terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan
dengan corak berpikir Cina. kepentingan dunia ini, kepentingan hidup
berkeluarga, dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai
tradisional di Cina, sama sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam
Buddhisme. Sehingga ajaran ini oleh orang dialami sebagai sesuatu yang
sama sekali asing.
4. ZAMAN MODERN
4. ZAMAN MODERN
Sejarah modern Cina di mulai sekitar tahun 1900. Pada permulaan abad
kedua puluh, pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan
pemikir-pemikir Barat diterjemahkan kedalam bahasa Cina dan yang paling
populer adalah pragmatisme
, suatu jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Pengaruh besar
yang diberikan filsafat Barat ini membuat suatu reaksi, yaitu
kecenderungan untuk kembali ke tradisi-tradisi pribumi. Terutama sejak
1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx , Lenin , dan Mao Tse Tung .
Dalam filsafat Cina, ada tiga hal yang terpenting: harmoni, toleransi, dan perikemanusiaan.
Harmoni antara manusia dan sesama, manusia dengan alam, manusia dengan surga. Selalu dicari keseimbangan antara keduanya.
Harmoni antara manusia dan sesama, manusia dengan alam, manusia dengan surga. Selalu dicari keseimbangan antara keduanya.
Toleransi terlihat dalam keterbukaan terhadap pendapat-pendapat
pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan suatu pluriformitas
yang luar biasa, juga dalam bidang agama.
Perikemanusiaan, karena selalu manusia-lah yang merupakan pusat
filsafat Cina, manusia yang pada hakikatnya baik dan yang harus mencari
kebahagiaannya di dunia ini dengan memperkembangkan dirinya sendiri
dalam interaksi dengan alam dan sesama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar