Kebudayaan dan filsafat merupakan dua hal yang berkaitan erat dan mencirikan kehidupan bangsa Cina. Kebudayaan mungkin tidak hanya dimiliki oleh bangsa Cina saja, melainkan juga oleh bangsa lain. Namun, hal yang paling melekat, mendasar dan mencirikan bangsa Cina adalah filsafatnya, yaitu filsafat-filsafat Cina yang menjadi pedoman hidup para bangsa Cina dan akhirnya menyebar hingga menjadi sebuah ajaran yang dikenal oleh banyak masyarakat baik di dalam wilayah Cina maupun di luar kawasan Cina. Hal ini disebabkan karena banyak para ahli yang menyatakan bahwa peradaban Cina telah dianggap sebagai pusat kebudayaan di Timur (di Barat adalah peradaban Yunani). Hal ini disebabkan karena peradaban Cina dianggap sebagai peradaban dan kebudayaan yang paling tua dan terkaya yang diketahui oleh manusia, baik pada masa kuno maupun pada masa sekarang. Namun dewasa ini, peradaban dan kebudayaan Cina sedikit banyak mulai mendapat pengaruh dari budaya Barat yang merupakan dampak dari globalisasi.
Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan sedikit tentang asal mula terminologi “kebudayaan” dan definisinya secara harfiah. Selanjutnya, pada tulisan ini penulis akan membahas sedikit mengenai istilah “filsafat”. Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Namun, tidak ada definisi pasti yang dapat menggambarkan istilah filsafat ini karena pengertiannya secara terminologi sangat beragam, Dr. Harry Hamersma (1981) mencoba untuk mendefinisikan filsafat sesuai dengan pemahamannya, yaitu merupakan sebuah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, antara lain; keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan.
Filsafat Cina merupakan sebuah filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiran Cina. Filsafat Cina berbeda dengan filsafat Yunani yang lebih cenderung pada ilmu pengetahuan. Filsafat Cina Kuno memandang soal perubahan dan transformasi sebagai sebuah sifat dunia yang tidak bisa direduksikan lagi, termasuk di dalamnya benda-benda dan manusia itu sendiri. Ada perbedaan yang mencolok antara Filsafat Cina dengan filsafat Barat. Filsafat Cina menekankan pada perubahan, becoming, waktu dan temporalitas, dan tidak hanya membedakan metafisika Cina tentang realitas dan alam dari trend utama tradisi filsafat Barat tetapi juga dari orientasi filsafat India. Ketika berbicara tentang filsafat Cina, terdapat tiga tema utama yang perlu diperhatikan, antara lain; Harmoni, yaitu menghindari bentuk kekerasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan surga. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati yang tampak pada keterbukaan sikap terhadap pendapat yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Kemanusiaan, dimana manusia merupakan pusat pemikiran filsafat Cina (Filsuf) yang mengembangkan diri dalam interaksi dengan sesama dan alam demi keinginannya untuk mengejar kebahagiaan dunia Konfusianisme Konfusianisme merupakan ajaran atau filsafat Cina yang sangat terkenal dan dapat dikatakan sebagai ajaran yang mencirikan bangsa Cina. Ajaran ini pertama kali dibawa oleh seorang filsuf Cina yang hidup pada antara 552 dan 479 S.M bernama Konfusius. Ajaran yang merupakan hasil buah pikirannya ini adalah suatu filsafat sosial yang mencita-citakan suatu negara kesatuan untuk seluruh daerah Cina, khususnya, dan seluruh peradaban manusia, umumnya. Lahirnya pemikiran ini didasarkan pada situasi dan keadaa yang kacau pada masa itu dimana terjadi perebutan kekuasaan oleh raja-raja Cina. Konfusius pun menganjurkan ajaran harmonic antara manusia dengan alam maupun antara maunsia dengan manusia. Dengan adanya kesadaran untuk menjalankan tugas sesuai kedudukannya, maka tidak akan terjadi perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, ajaran ini menitikberatkan pada ceremonie atau rituel untuk menentukan posisi dan tugas masing-masing sesuai jabatannya. Hal ini disebabkan karena Konfusius meyakini bahwa untuk menghasilkan suatu moral yang baik, tidak akan dapat dicapai dengan kekuatan raja atau bangsawan saja, tetapi hanya dapat dicapai dengan memelihara upacara-upacara tradisional (Tjeng 1977).
Di Indonesia, istilah Konfusianisme dikenal dengan nama Kong Hu Tju atau Kong Fu Tse (Guru dari suku Kung). Pengikut ajaran ini berpendapat bahwa manusia dapat mencapai keharmonisan yang terbaik antara langit dan bumi. Titik berat dari ajaran ini terletak pada kekuatan manusia dengan pemeliharaan sopan santun dalam realitas pembinaan keharmonisan sosial, bukan pada fenomena alam.
Taoisme
Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Ajaran ini adalah ajaran pertama bagi orang Cina, yang merupakan suatu spekulasi filsafat. Taoisme diajarkan oleh seorang Lao Tse (Guru tua) yang diperkirakan hidup sekitar 550 S.M. Taoisme didasarkan pada ajaran Tao yaitu suatu jalan yang seharusnya atau jalan benar (wu-wie). Dengan ajaran ini, manusia dapat menghindarkan diri dari segalam keadaan yang bertentangan dengan ritme alam semesta (Tjeng 1977). Atau dapat dikatakan bahwa ajaran yang diajarkan oleh Lao Tse ini telah melawan ajaran Konfusianisme yang diajarkan oleh Konfusius. Lao Tse menyebutnya sebagai “jalan alam” bukan “jalan manusia” yang menjadi hal yang diajarkan dalam ajaran Tao. Menurut Lao Tse, ajaran Taoisme lebih metafisika, lebih mutlak dengan prinsip kenyataan objektif dibandingkan dengan ajaran Konfusianisme yang lebih pada etika Tao adalah jalan Tuhan. Menurut mitologi Cina, pencipta tunggal (Tuhan) bernama “Wu-Chi” yang akhirnya kemudian menciptakan “Tai-Chi”, dan “Tai-Chi” inilah yang kemudian menciptakan prinsip “Yin-Yang” alam semesta. Inti dari ajaran Taoisme ini sejatinya adalah fokus pada jalan alam dimana segala pranata dan konvensi sosial harus diabaikan dan ditinggalkan. Sehingga, manusia harus menarik diri dari peradaban sosial dan kembali kepada alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Taoisme adalah ajaran yang menjunjung tinggi Tao (Tuhan) dan alam. Hal inilah yang mengakibatkan pemikiran Taoisme disebut sebagai pemikiran naturalistik.
Yin-Yang
Menurut dasar pemikiran orang Cina, seluruh fenomena alam dapat dibagi dalam dua klasifikasi, yaitu “Yin” dan “Yang”. Tentunya istilah ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua karena istilah ini kerap menjadi patokan dalam berbagai hal, salah satunya adalah kesehatan a la Cina (Sin Se). Pada dasarnya, aliran ini merupakan cabang dari ajaran Taoisme. Aliran ini mengajarkan tentang adanya prinsip “Yin” yang melambangkan perempuan, bulan, gelap (malam), kematian dan pasif. Sedangkan “Yang” melambangkan laki-laki, matahari, panas, cahaya (siang), kehidupan dan aktif. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat “Yin” tertentu dan derajat “Yang” tertentu. Berdasarkan ajaran ini, manusia harus menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta, yaitu kehidupan harus harmonis dengan tiga dasar kehidupan, yaitu: kehidupan langit, kehidupan bumi dan kehidupan manusia itu sendiri. Selain itu, manusia juga harus disesuaikan dengan angin dan air (Feng-Shui). Dengan penyesuaian ini diharapkan dapat menghindarkan manusia dari segala malapetaka dan membuat setiap manusia semakin hormat terhadap para dewa (Tjeng 1977). Hal ini didasarkan pada lima aspek kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam menjalani kehidupan, yaitu: Takdir, Keberuntungan, Amal, Upaya dan Feng-Shui.
Buddhisme
Buddhisme adalah suatu sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, yang serupa dengan sistem pendidikan Konfusianisme yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan, yang mana sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.Terkait dengan pembahasan sebelumnya, dalam pandangan agama Buddha (Buddhisme), takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Dalam ajaran Buddha, karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Namun, bukan berarti ajaran ini sama dengan ajaran Feng-Shui. Perbedaannya adalah, para ahli Feng-Shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Namun, dalam pandangan ajaran Buddha, jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Dengan kata lain, para Buddhis mengganggap bahwa kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, karena hina atau mulia perbuatan tersebut tidak dapat ditentukan dengan hanya mengatur Feng Shui tanpa ada akibat dan balasan dari setiap perbuatannya
Dalam penerapannya, orang-orang Cina intelek telah mempergunakan dan mengimplementasikan ajaran Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme sebagai landasan yang pertama-tama dalam sistem falsafahnya. Dalam praktek menjalankan tiga agama tersebut, orang Cina memeluk dan menjalankan semuanya dengan mencampurkan ajaran-ajarannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang Cina sangat bebas dalam memilih kepercayaan dari agama yang dianutnya, dan hanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk satu agama saja.
Walaupun dapat dengan bebas memeluk agam dan mencampurkan ketiganya, namun ajaran Konfusianisme lah yang telah mempengaruhi orang-orang Cina secara mendalam dan berkelanjutan dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan orang Cina berfilsafat humanistis yang dianggap sebagai sifat Tuhan (Thien) (Tjeng 1977).
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Timur/cina
Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan sedikit tentang asal mula terminologi “kebudayaan” dan definisinya secara harfiah. Selanjutnya, pada tulisan ini penulis akan membahas sedikit mengenai istilah “filsafat”. Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Namun, tidak ada definisi pasti yang dapat menggambarkan istilah filsafat ini karena pengertiannya secara terminologi sangat beragam, Dr. Harry Hamersma (1981) mencoba untuk mendefinisikan filsafat sesuai dengan pemahamannya, yaitu merupakan sebuah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, antara lain; keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan.
Filsafat Cina merupakan sebuah filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiran Cina. Filsafat Cina berbeda dengan filsafat Yunani yang lebih cenderung pada ilmu pengetahuan. Filsafat Cina Kuno memandang soal perubahan dan transformasi sebagai sebuah sifat dunia yang tidak bisa direduksikan lagi, termasuk di dalamnya benda-benda dan manusia itu sendiri. Ada perbedaan yang mencolok antara Filsafat Cina dengan filsafat Barat. Filsafat Cina menekankan pada perubahan, becoming, waktu dan temporalitas, dan tidak hanya membedakan metafisika Cina tentang realitas dan alam dari trend utama tradisi filsafat Barat tetapi juga dari orientasi filsafat India. Ketika berbicara tentang filsafat Cina, terdapat tiga tema utama yang perlu diperhatikan, antara lain; Harmoni, yaitu menghindari bentuk kekerasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan surga. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati yang tampak pada keterbukaan sikap terhadap pendapat yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Kemanusiaan, dimana manusia merupakan pusat pemikiran filsafat Cina (Filsuf) yang mengembangkan diri dalam interaksi dengan sesama dan alam demi keinginannya untuk mengejar kebahagiaan dunia Konfusianisme Konfusianisme merupakan ajaran atau filsafat Cina yang sangat terkenal dan dapat dikatakan sebagai ajaran yang mencirikan bangsa Cina. Ajaran ini pertama kali dibawa oleh seorang filsuf Cina yang hidup pada antara 552 dan 479 S.M bernama Konfusius. Ajaran yang merupakan hasil buah pikirannya ini adalah suatu filsafat sosial yang mencita-citakan suatu negara kesatuan untuk seluruh daerah Cina, khususnya, dan seluruh peradaban manusia, umumnya. Lahirnya pemikiran ini didasarkan pada situasi dan keadaa yang kacau pada masa itu dimana terjadi perebutan kekuasaan oleh raja-raja Cina. Konfusius pun menganjurkan ajaran harmonic antara manusia dengan alam maupun antara maunsia dengan manusia. Dengan adanya kesadaran untuk menjalankan tugas sesuai kedudukannya, maka tidak akan terjadi perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, ajaran ini menitikberatkan pada ceremonie atau rituel untuk menentukan posisi dan tugas masing-masing sesuai jabatannya. Hal ini disebabkan karena Konfusius meyakini bahwa untuk menghasilkan suatu moral yang baik, tidak akan dapat dicapai dengan kekuatan raja atau bangsawan saja, tetapi hanya dapat dicapai dengan memelihara upacara-upacara tradisional (Tjeng 1977).
Di Indonesia, istilah Konfusianisme dikenal dengan nama Kong Hu Tju atau Kong Fu Tse (Guru dari suku Kung). Pengikut ajaran ini berpendapat bahwa manusia dapat mencapai keharmonisan yang terbaik antara langit dan bumi. Titik berat dari ajaran ini terletak pada kekuatan manusia dengan pemeliharaan sopan santun dalam realitas pembinaan keharmonisan sosial, bukan pada fenomena alam.
Taoisme
Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Ajaran ini adalah ajaran pertama bagi orang Cina, yang merupakan suatu spekulasi filsafat. Taoisme diajarkan oleh seorang Lao Tse (Guru tua) yang diperkirakan hidup sekitar 550 S.M. Taoisme didasarkan pada ajaran Tao yaitu suatu jalan yang seharusnya atau jalan benar (wu-wie). Dengan ajaran ini, manusia dapat menghindarkan diri dari segalam keadaan yang bertentangan dengan ritme alam semesta (Tjeng 1977). Atau dapat dikatakan bahwa ajaran yang diajarkan oleh Lao Tse ini telah melawan ajaran Konfusianisme yang diajarkan oleh Konfusius. Lao Tse menyebutnya sebagai “jalan alam” bukan “jalan manusia” yang menjadi hal yang diajarkan dalam ajaran Tao. Menurut Lao Tse, ajaran Taoisme lebih metafisika, lebih mutlak dengan prinsip kenyataan objektif dibandingkan dengan ajaran Konfusianisme yang lebih pada etika Tao adalah jalan Tuhan. Menurut mitologi Cina, pencipta tunggal (Tuhan) bernama “Wu-Chi” yang akhirnya kemudian menciptakan “Tai-Chi”, dan “Tai-Chi” inilah yang kemudian menciptakan prinsip “Yin-Yang” alam semesta. Inti dari ajaran Taoisme ini sejatinya adalah fokus pada jalan alam dimana segala pranata dan konvensi sosial harus diabaikan dan ditinggalkan. Sehingga, manusia harus menarik diri dari peradaban sosial dan kembali kepada alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Taoisme adalah ajaran yang menjunjung tinggi Tao (Tuhan) dan alam. Hal inilah yang mengakibatkan pemikiran Taoisme disebut sebagai pemikiran naturalistik.
Yin-Yang
Menurut dasar pemikiran orang Cina, seluruh fenomena alam dapat dibagi dalam dua klasifikasi, yaitu “Yin” dan “Yang”. Tentunya istilah ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua karena istilah ini kerap menjadi patokan dalam berbagai hal, salah satunya adalah kesehatan a la Cina (Sin Se). Pada dasarnya, aliran ini merupakan cabang dari ajaran Taoisme. Aliran ini mengajarkan tentang adanya prinsip “Yin” yang melambangkan perempuan, bulan, gelap (malam), kematian dan pasif. Sedangkan “Yang” melambangkan laki-laki, matahari, panas, cahaya (siang), kehidupan dan aktif. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat “Yin” tertentu dan derajat “Yang” tertentu. Berdasarkan ajaran ini, manusia harus menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta, yaitu kehidupan harus harmonis dengan tiga dasar kehidupan, yaitu: kehidupan langit, kehidupan bumi dan kehidupan manusia itu sendiri. Selain itu, manusia juga harus disesuaikan dengan angin dan air (Feng-Shui). Dengan penyesuaian ini diharapkan dapat menghindarkan manusia dari segala malapetaka dan membuat setiap manusia semakin hormat terhadap para dewa (Tjeng 1977). Hal ini didasarkan pada lima aspek kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam menjalani kehidupan, yaitu: Takdir, Keberuntungan, Amal, Upaya dan Feng-Shui.
Buddhisme
Buddhisme adalah suatu sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, yang serupa dengan sistem pendidikan Konfusianisme yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan, yang mana sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.Terkait dengan pembahasan sebelumnya, dalam pandangan agama Buddha (Buddhisme), takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Dalam ajaran Buddha, karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Namun, bukan berarti ajaran ini sama dengan ajaran Feng-Shui. Perbedaannya adalah, para ahli Feng-Shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Namun, dalam pandangan ajaran Buddha, jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Dengan kata lain, para Buddhis mengganggap bahwa kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, karena hina atau mulia perbuatan tersebut tidak dapat ditentukan dengan hanya mengatur Feng Shui tanpa ada akibat dan balasan dari setiap perbuatannya
Dalam penerapannya, orang-orang Cina intelek telah mempergunakan dan mengimplementasikan ajaran Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme sebagai landasan yang pertama-tama dalam sistem falsafahnya. Dalam praktek menjalankan tiga agama tersebut, orang Cina memeluk dan menjalankan semuanya dengan mencampurkan ajaran-ajarannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang Cina sangat bebas dalam memilih kepercayaan dari agama yang dianutnya, dan hanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk satu agama saja.
Walaupun dapat dengan bebas memeluk agam dan mencampurkan ketiganya, namun ajaran Konfusianisme lah yang telah mempengaruhi orang-orang Cina secara mendalam dan berkelanjutan dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan orang Cina berfilsafat humanistis yang dianggap sebagai sifat Tuhan (Thien) (Tjeng 1977).
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Timur/cina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar