Kamis, 17 Mei 2012

Pokok Pikiran Filsafat Cina


Pokok pemikiran dari filsafat dan kebudayaan Cina adalah perikemanusiaan. Filsafat Cina lebih pragmatis dengan mengajarkan bagaimana harus bertindak supaya keseimbangan antara dunia dan surga tercapai. Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa semua makhluk dikuasai oleh suatu nasib buta (Moira), dan ketika kebudayaan India masih mengajarkan bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasib dan tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas 4 periode besar. Zaman Klasik (600 - 200 SM), zaman Neo-taoisme dan Buddhisme (200 SM - 1000 M), zaman Neo-konfusianisme (1000 - 1900 M) dan zaman Modern (setelah 1900).

1. ZAMAN KLASIK
Zaman klasik terletak antara sekitar 600 dan 200 SM. Menurut tradisi, dalam periode ini dibedakan seratus sekolah filsafat, seratus aliran yang mempunyai ajaran yang berbeda. Namun demikian ada beberapa konsep yang diajarkan secara umum seperti tao (jalan), te (keutamaan atau seni hidup), yen (perikemanusiaan), i (keadilan), ti'en (surga), dan yin-yang (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif laki-laki dan prinsip pasif perempuan). Sekolah-sekolah terpenting pada zaman klasik diuraikan secara ringkas sebagai berikut:

a. Konfusianisme
Konfusius (Latin = Kong-Fu-tse yang berarti guru dari suku Kung) hidup antara 551 dan 497 SM, mengajarkan bahwa Tao adalah jalan manusia. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia kalau ia hidup dengan baik. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan. Perikemanusiaan adalah model yang berlaku untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama, walaupun tindakan mereka berbeda.

b. Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru tua) yang hidup sekitar tahun 550 SM. Lao Tse melawan Konfusius. Menurutnya bukan jalan manusia melainkan jalan alamlah yang merupakan Tao. Dia mengajarkan Tao adalah prinsip kenyataan obyektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak, dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih bersifat metafisika, sedangkan Konfusius lebih ke etika.

c. Yin-Yang
Yang terpenting lainnya adalah sekolah mementingkan Yin dan Yang, kedua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu prinsip pasif yaitu prinsip ketenangan, surga, bulan, air, dan perempuan, simbol untuk kematian dan simbol untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintetis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat yang tertentu.

d. Moisme
Didirikan oleh Mo Tse, antara 500 dan 400 SM. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah cinta universal, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat ini sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Tetapi Mo Tse melawan musik karena dianggap tidak berguna dan oleh karenanya dianggap jelek. Etika Mo Tse mengenal prinsip yang antara lain dalam agama kristen disebut kaidah emas : setiap orang harus memperlakukan negara-negara asing seperti tanah air sendiri, keluaga lain seperti keluarga sendiri, orang lain seperti dirinya sendiri. Perintah ini cukup untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran umum.

e. Ming Cia
Ming Cia atau sekolah nama-nama menganalisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk memakai bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tata bahasa.

f. Fa Chia
Merupakan sekolah hukum yang cukup berbeda dari semua aliran klasik lainnya. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus dimulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan suatu sistem undang-undang yang keras sekali.


Dari keenam sekolah klasik tersebut juga dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Konfusianisme dari kaum ilmuwan, Taoisme dari rahib-rahib, Yin-Yang dari okultisme (ahli-ahli magis), Moisme berasal dari kasta ksatrya. Ming Chia dari para pendebat, dan Fa Vhia dari ahli-ahli politik.


2. ZAMAN NEO-TAOISME dan BUDDHISME
Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan Nirwana dari ajaran Buddha, yaitu transendensi di seberang segala nama dan konsep. Transendensi merupakan dasar dari dua unsurnya yang lain. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral.


3. ZAMAN NEO-KONFUSIANISME
Dari tahun 1000 M, Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga, dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sama sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme. Sehingga ajaran ini oleh orang dialami sebagai sesuatu yang sama sekali asing.


4. ZAMAN MODERN
Sejarah modern Cina di mulai sekitar tahun 1900. Pada permulaan abad kedua puluh, pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan kedalam bahasa Cina dan yang paling populer adalah pragmatisme , suatu jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Pengaruh besar yang diberikan filsafat Barat ini membuat suatu reaksi, yaitu kecenderungan untuk kembali ke tradisi-tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx , Lenin , dan Mao Tse Tung .
Dalam filsafat Cina, ada tiga hal yang terpenting: harmoni, toleransi, dan perikemanusiaan.
Harmoni antara manusia dan sesama, manusia dengan alam, manusia dengan surga. Selalu dicari keseimbangan antara keduanya.
Toleransi terlihat dalam keterbukaan terhadap pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan suatu pluriformitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama.
Perikemanusiaan, karena selalu manusia-lah yang merupakan pusat filsafat Cina, manusia yang pada hakikatnya baik dan yang harus mencari kebahagiaannya di dunia ini dengan memperkembangkan dirinya sendiri dalam interaksi dengan alam dan sesama manusia.

Sejarah Agama Konghucu di Indonesia

PENDAHULUAN


Latar Belakng

Untuk sekedar memberikan gambaran bahwa kehadiran Agama Khonghucu di Indonesia telah berabad-abad lamanya, Kelenteng Ban Hing Kiong di Manado didirikan pada tahun 1819 . Di Surabaya didirikan tempat ibadah Agama Khonghucu yang disebut mula-mula : Boen Tjhiang Soe, kemudian dipugar kembali dan disebut sebagai Boen Bio pada tahun 1906. Sampai dengan sekarang Boen Bio yang terletak di Jalan Kapasan 131 Surabaya masih terpelihara dengan baik dibawah asuhan Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) “Boen Bio” Surabaya.
Sejarah perjalanan dan perkembangan agama Khonghucu (Kong jiao) sangatlah panjang. Agama Khonghucu adalah agama yang ada dengan mengambil nama Sang Nabi Khongcu (Kongzi/Kong Fuzi) yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM di negeri Lu (kini jasirah Shandong). Awalnya agama ini bernama Ru jiao 儒 教 Huruf Ru 儒 berasal dari kata 亻-人 ‘ren’ (orang) dan 需 ‘xu’ (perlu) sehingga berarti ‘yang diperlukan orang.. Dan ‘Ru’ sendiri bermakna 柔 Rou lembut budi-pekerti, penuh susila, .优 Yu – Yang utama, mengutama perbuatan baik, lebih baik,..和 He – Harmonis, Selaras,.. 濡 Ru – Menyiram dengan kebajikan, bersuci diri,.. ‘Jiao 教 berasal dari kata ‘xiao’孝 (berbakti) dan 文 ‘wen’ (sastra, ajaran). Jadi ‘jiao’ berarti ajaran/sastra untuk berbakti; =agama. Maka Ru jiao adalah ajaran/agama untuk berbakti bagi kaum lembut budi pekerti yang mengutamakan perbuatan baik, selaras dan berkebajikan. Ru jiao ada jauh sebelum Sang Nabi Kongzi lahir. Dimulailah dengan sejarah Nabi-Nabi suci Fuxi(2952 – 2836 SM), Shen-nong (2838 – 2698 SM), Huang-di (2698 – 2596 SM), Yao (2357 – 2255 SM), Shun (2255 – 2205 SM), Da-yu (2205 – 2197 SM), Shang-tang (1766 – 1122 SM),Wen, Wu Zhou-gong (1122 – 255 SM), sampai Nabi Agung Kongzi (551 – 479 SM) dan Mengzi (371 – 289 SM). Para nabi inilah peletak Ru jiao. Sedangkan Nabi Kongzi adalah penerus, pembaharu dan penyempurna. Maka Ru jiao juga disebut Kong jiao.
Agama Kong-Hu-Chu aslinya bernama Ru-Jiao (agama bagi mereka yang lembut hati). Agama ini sejarahnya sudah 5.000 tahun. Nabi pertamanya Fu-Xi, yang hidup 1900-an sebelum masehi. Beliau nabi pertama yang menerima wahyu, kemudian diikuti belasan nabi berikutnya dan yang terakhir, yaitu nabi Kong-Hu-Chu atau Kong-Ze. Beliau juga adalah nabi kelima yang menerima wahyu Tuhan.
Semua ajaran yang dibawakan para nabi sebelum Kong-Hu-Chu ditulis dalam sebuah kitab yang ditulis Kong-Hu-Chu sendiri, yaitu kitab Wucing (5 kitab yang mendasari). Sabda Kong-Hu-Chu sendiri dibukukan dalam kitab Si-Shu (4 kitab yang didasari), yaitu Da- Xue (ajaran besar moral dan masyarakat), Zhong-Yong (kitab keimanan), Lun-Yu (sabda suci), dan Meng-Zi (menegakkan kembali agama Kong-Hu-Chu). Kong-Hu-Chu adalah agama monotheis yang percaya pada satu tuhan, yakni Thian (Satu Yang Maha Tunggal) atau Shang-Di (Tuhan Yang Maha Kuasa). Kami percaya tidak ada tempat meminta maaf selain kepadaNya.
Inti ajarannya adalah mendidik manusia untuk menjadi manusia, yaitu manusia yang menghargai harkat kemanusiaan-mencintai sesama. Tidak mungkin kita bicara soal Tuhan kalau hubungan antarmanusianya tidak baik. Tidak ada jalan menuju Tuhan kecuali dengan cara mencintai sesama manusia. Kong-Hu-Chu mengajak agar kita bisa kembali pada Xing (fitrah). Kebaikan harus dididik. Untuk kembali pada fitrah diajarkan jalan menuju Xing, yaitu jalan suci (To). Untuk menuju ke jalan itu kita butuh tuntunan yaitu agama. Jadi, agama hanyalah alat bukan tujuan.
Namun dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/ BA.01.2/ 4683/95 tanggal 18 November 1978 antara lain menyatakan bahwa agama yang diakui oleh pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha mulailah keberadaan umat Khonghucu dipinggirkan. Keputusan politik ini yang sesungguhnya batal demi hukum, karena sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia, disamping itu bertentangan dengan UUD pasal 29 ayat 2 yang memberikan kebebasan beragama dan beribadat, justru dijadikan pegangan oleh aparat pemerintah sampai sekarang ini kendatipun telah dicabut per tanggal 31 Maret 2000. Surat edaran ini juga mengingkari realita bahwa warga negara Indonesia yang memeluk Agama Khonghucu ada di Indonesia. Karena berdasarkan sensus penduduk yang diadakan lembaga resmi pemerintah yaitu Biro Pusat Statistik Indonesia pada tahun 1976 penduduk Indonesia yang beragama Khonghucu mencapai 0,7% yang berarti lebih dari 1 juta jiwa.
Selama tidak kurang dari 20 tahun umat Khonghucu di Indonesia hidup dalam tekanan dan pengekangan sebagai akibat tindakan represif dan diskriminatif terhadap umat Khonghucu. Hal ini tentu saja berdampak negatif bagi perkembangan kelembagaan umat Khonghucu. Walaupun umat Khonghucu ada di setiap propinsi di Indonesia, belum semua propinsi ada lembaga agama Khonghucu yang terorganisasi dan dibawah pembinaan langsung MATAKIN.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka timbullah masalah yang akan diajukan dalam makalah ini diantaranya adalah :
Bagaimana sejarah dan perkembangan MATAKIN ?
Apa asas dan tujuan didirikannya MATAKIN ?

SEJARAH PERKEMBANGAN MATAKIN


Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (disingkat MATAKIN, bahasa Inggris: The Supreme Council for Kongzism of Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama Konghucu di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1955.
Pada tanggal 11-12 Desember 1954 di Sala diadakan konferensi antar tokoh-tokoh Agama Khonghucu untuk membahas kemungkinan ditegakkan kembali Lembaga Agama Khonghucu secara Nasional setelah tidak ada kegiatan semenjak pecahnya perang dunia ke-II dan masuknya Jepang ke Indonesia. Akhirnya pada konferensi yang diselenggarakan di Sala pada tanggal 16 April 1955 disepakati dibentuk kembali Lembaga Tertinggi Agama Khonghucu Indonesia dengan memakai nama Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia yang diketuai Dr. Sardjono. Tanggal 16 April 1955 disepakati sebagai hari jadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, disingkat MATAKIN.
Kehendak untuk dibentuk kembali lembaga agama Khonghucu secara nasional, paling tidak menandai telah adanya berbagai lembaga yang berbasis agama khonghucu sebelum tanggal 16 Aprik 1955. dalam catatan sejarah memang banyak peristiwa-peistiwa bersejarah yang sangat erat berkaiatan dengan ummat Khonghucu.
Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu diantara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara .
Pada tahun 1918 diresmikan Khong Kauw Hwee (Kong Jiao Hui) di kota Surakarta, kemudian menyusul pula kota-kota lainnya. Pada tahun 1923 mulai dilakukan musyawarah untuk membentuk badan pusat yang dinamakan Khong Kauw Tjong Hwee (Kong Jiao Zong Hui) di Jogjakarta. Bandung dipilih sebagai kedudukan pusat organisasi dan Poei Kok Gwan terpilih sebagai ketua umum. Keputusan ini didukung oleh Khong Kauw Hwee dari kota Surabaya, Sumenep, Kediri, Surakarta, Semarang, Blora, Purbolinggo, Cicalengka, Wonogiri, Jogjakarta, Kartasura, Pekalongan. Pada tahun itu pula, diterbitkan majalah Khong Kauw Gwat Poo atau Kong Jiao Yue Bao.
Pada tahun 1942, karena imbas perang dunia ke II dan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia, Khong Kauw Tjong Hwee yang dianggap anti-Jepang dibekukan. Masa Penjajahan Jepang (1942-1945) Pada masa itu, Litang (tempat ibadah umat Khonghucu) banyak menampung pengungsi tanpa memandang Ras. Hal ini sesuai dengan prinsip ummat Khonghucu “Di Empat Penjuru Samudera Semua Umat Bersaudara” (四海之內,皆兄弟也 Si Hai Zhi Nei, Jie Xiong Di Ye).
Masa Kemerdekaan - Pada awal-awal kemerdekaan NKRI, kegiatan Khong Kauw Hwee lebih banyak bersifat lokal. Pada bulan Desember 1954 di Solo diselenggarakan konferensi tokoh-tokoh agama Khonghucu untuk persiapan membangun kembali Khong Kauw Tjong Hwee. Baru pada tgl 16 April 1955 dibentuk PKCHI (Perserikatan Khong Chiao Hwee Indonesia / Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) sebagai penjelmaan kembali Khong Kauw Tjong Hwee dengan kedudukan pusat di Solo dengan Ketua umum: Dr. Kwik Tjie Tiok. Sekretaris: Oei Kok Dhan.
Nama PKCHI kemudian dirubah menjadi LASKI (Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia). Pada waktu organisasi ummat Khonghucu menggunakan nama LASKI inilah para tokoh Khonghucu mengutus Thio Tjoan Tek, salah seorang ketua LASKI, bersama dengan Prof. Dr. Mustopo dari Bandung, memohon agar agama Khonghucu dikukuhkan dalam bimbingan kehidupan masyarakatnya oleh Kementerian Agama RI.
Nama LASKI juga mengalami perubahan pada konferensi 22-23 Desember 1963 di Solo nama LASKI diubah menjadi GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu Se Indonesia). Lalu pada Konggres ke V di Tasikmalaya 5-6 Desember 1964, singkatan GAPAKSI diubah menjadi Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu Se Indonesia.
Namun, pada Konggres ke VI GAPAKSI di Solo 23-27 Agustus 1967, nama GAPAKSI diubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Tan Sing Hoo terpilih sebagai pengurus atau ketua Umumnya.
Sejak berdirinya secara periodik diadakan Kongres/MUNAS. Pada awal pemerintahan Orde Baru, tepatnya tanggal 23-27 Agustus 1967 telah diadakan Kongres ke-VI di mana Soeharto yang pada waktu itu sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia berkenan memberikan Sambutan tertulis yang antara lain mengatakan bahwa, "Agama Konghutju mendapat tempat yang layak dalam negara kita jang berlandaskan Pantjasila ini”.
Pada era roformasi, pengakuan hak asasi manusia mulai membaik, terbukti Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Reformasi memberikan kesempatan kepada Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengadakan Musyawarah Nasional XIII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 22 – 23 Agustus 1998 yang dihadiri perwakilan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN), Kebaktian Agama Khonghucu Indonesia (KAKIN) dan Wadah Umat Agama Khonghucu lainnya dari berbagai penjuruh tanah air Indonesia. Dengan demikian, perjalanan MATAKIN sebagai lembaga agama yang mengatur perkembangan agama khonghucu di Indonesia, pada era reformasi semakin lancar.


Asas dan Tujuan MATAKIN
Mengetahui Asas MATAKIN pada dasarnya dapat dilihat melalui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga (AD/ART) organisasi tersebut. Sesuai yang tertera dalam BAB II, pasal 4 Anggaran Dasar, MATAKIN berasaskan Pancasila
Sifatnya, sebagaimana di dalam Anggaran Dasar MATAKIN Bab XIII pasal 21.2 dengan tegas disebutkan bahwa,” MATAKIN bersifat independen, dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial-politik manapun, baik di dalam dan di luar negeri”.
Banyak Tujuan dari dibentuknya MATAKIN, diantara yang terpenting adalah pertama, mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. Kedua, Mengintensifkan penyeragaman tata ibadah.
Tujuan mengintensifkan penyeragaman tata ibadah, dapat dipetik dari beberapa hasil konsfrensi yang dilakukan oleh lembaga agama Khonghucui Indonesia ini dianataranya adalah : Pada tanggal 25 September 1924 di Bandung diadakan Kongres ke dua yang antara lain membahas tentang Tata Agama Khonghucu supaya seragam di seluruh kepulauan Nusantara. Tanggal 20-23 Desember 1976 diselenggarakan MUKERSIN II di Jakarta yang dihadiri utusan-utusan dari 35 daerah untuk konsolidasi umat Khonghucu demi mensukseskan Pembangunan Nasional. Dan tanggal 25-27 Desember 1970 diadakan Musyawarah Kerja (Muker) Makin-Makin se Jawa Barat dan DKI Jaya untuk meningkatkan perkembangan Agama Khonghucu.
 
Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (disingkat MATAKIN, bahasa Inggris: The Supreme Council for Kongzism of Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama Konghucu di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1955.
Organisasi ini mengalami beberpa perubahan nama mulai dari Khong Kauw Tjong Hwee. Kemudian berubaha menjadi PKCHI (Perserikatan Khong Chiao Hwee Indonesia / Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) kemmudian berubah lagi menjadi LASKI (Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia).dan berubah lagi menjadi GAPAKSI. Setelah itu barulah dirubah menjadi MATAKIN, setelah GAPAKSI mengalami perubahan kepenjangannya sebanyak dua kali.
Adapu asas MATAKIN adalah pancasila dan dianatra tujuan terpentingnya adalah pertama, mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. Kedua, Mengintensifkan penyeragaman tata ibadah.
  • 1883 – Boen Tjhiang Soe (Wen Chang Shi), setelah dibangun kembali pada tahun 1906 yang kemudian menjadi Boen Bio (Wen Miao) Jl.Kapasan No. 131 Surabaya.  Oleh pihak Belanda disebut “Gredja Boen Bio atau Geredja Khonghoetjoe (de kerk van Confucius).  Dewasa ini sebagai tempat ibadah umat Agama Khonghucu Indonesia.  Dibina oleh MAKIN – Majelis Agama Khonghucu Indonesia Surabaya.
  • 1886 – diterbitkan kitab Hikayat Khonghucu, disusun oleh Lie Kim Hok.
  • 1900 – terjemahan Kitab Thay Hak (Da Xue, Ajaran Besar) dan Tiong Yong (Zhong Yong, Tengah Sempurna) disusun oleh Tan Ging Tiong.
  • 1897 – SoeSie (Si Shu, Empat Kitab) terjemahan Toean Njio Tjoen Ean dicetak di Ambon.
  • 17 Maret 1900 – 20 pemimpin Tionghoa mendirikan lembaga sosial kemasyarakatan Khonghucu yang disebut Tiong Hoa Hwee Kwan (Zhong Hua Hui Guan) yang bermaksud memurnikan Agama dan menghapuskan sinkretisme.

Berdirinya lembaga-lembaga agama Konghucu di Indonesia
  • 1918 diresmikan Khong Kauw Hwee (Kong Jiao Hui) di kota Surakarta, menyusul pula kota-kota lainnya.
  • Tahun 1920an Kong Jiao Hui Surabaya menerbitkan majalah Djiep Tek Tjie Boen (Ru De Zhi Men).
  • 1923 mulai dilakukan musyawarah untuk membentuk badan pusat yang dinamakan Khong Kauw Tjong Hwee (Kong Jiao Zong Hui) di Jogjakarta. Bandung dipilih sebagai kedudukan pusat organisasi dan Poei Kok Gwan terpilih sebagai ketua umum.  Keputusan ini didukung oleh Khong Kauw Hwee dari kota Surabaya, Sumenep, Kediri, Surakarta, Semarang, Blora, Purbolinggo, Cicalengka, Wonogiri, Jogjakarta, Kartasura, Pekalongan.  Pada tahun itu pula, diterbitkan majalah Khong Kauw Gwat Poo atau Kong Jiao Yue Bao.
  • 25 September 1924 diadakan Konggres di Bandung yang tujuan utamanya membahas lebih lanjut penyeragaman tata ibadah di seluruh tanah air.
  • 25 Desember 1938 diadakan konferensi di Surakarta dan kedudukan pusat dialihkan ke kota Surakarta, dengan ketua umum Tio Tjien Ik, sekretaris Auw Ing Kiong dan diterbitkan majalah bulanan Bok Tok Gwat Po (Mu Duo Yue Bao).
  • 20 Februari 1939 diadakan perayaan Tahun Baru Imlek bersama di Surakarta.
  • 24 April 1940 diadakan konferensi Kong Jiao Zong Hui di Surabaya yang hasil antara lain :
  • Konferensi tahun 1941 akan diselenggarakan di Cirebon Semua sekolah Khong Kauw Hwee diberi pelajaran agama Khonghucu. Upacara pernikahan dan kematian supaya diselidiki dan disesuaikan dengan keadaan jaman tapi tetap berpatokan pada nilai-nilai Ru Jiao.
  • Pada tahun 1942, karena imbas perang dunia ke II dan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia, Khong Kauw Tjong Hwee yang dianggap anti-Jepang dibekukan.
  • Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)  Pada masa itu, Litang (tempat ibadah umat Khonghucu) banyak menampung pengungsi tanpa memandang Ras.  Hal ini sesuai dengan prinsip “Di Empat Penjuru Samudera Semua Umat Bersaudara” (四海之內,皆兄弟也  Si Hai Zhi Nei, Jie Xiong Di Ye). Lun Yu 12:5.
  • Masa Kemerdekaan - Pada awal-awal kemerdekaan NKRI, kegiatan Khong Kauw Hwee lebih banyak bersifat lokal. Pada bulan Desember 1954 di Solo diselenggarakan konferensi tokoh-tokoh agama Khonghucu untuk persiapan membangun kembali Khong Kauw Tjong Hwee,
  • Pada tgl 16 April 1955 dibentuk PKCHI (Perserikatan Khong Chiao Hwee Indonesia / Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) sebagai penjelmaan kembali Khong Kauw Tjong Hwee dengan kedudukan pusat di Solo dengan  Ketua umum: Dr. Kwik Tjie Tiok. Sekretaris: Oei Kok Dhan.

Konggres agama Konghucu
Konggres pertama diselenggarakan 6-7 Juli 1956 di Solo. Dalam Konggres ini disempurnakan AD dan ART PKCHI. Kedudukan pusat tetap di Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan Sekretaris Tjan Bian Lie.
Konggres kedua diselenggarakan di Bandung, tgl 6-9 Juli 1957. Kedudukan pusat tetap dipilih kota Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan Tjan Bian Lie sebagai sekretaris.
Konggres ketiga diselenggarakan di Boen Bio Surabaya tgl 5-7 Juli 1959 dengan ketua umum Tan Hok Liang dan sekretaris Tan Liong Kie untuk periode 1959-1961 dengan kedudukan pusat di Bogor Di dalam konggres ke empat di Solo 14-16 Juli 1961 diputuskan :
  • Mengintensifkan penyeragaman tata ibadah.
  • Mengubah nama PKCHI menjadi LASKI (Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia)
  • Mengutus Thio Tjoan Tek, salah seorang ketua LASKI, bersama dengan Prof. Dr. Mustopo dari Bandung, memohon agar agama Khonghucu dikukuhkan dalam bimbingan kehidupan masyarakatnya oleh Kementerian Agama RI.
  • Solo kembali dipilih sebagai pusat organisasi, Tjan Bian Lie sebagai ketua umum dan The Ping Hap sebagai sekretaris..
Pada konferensi 22-23 Desember 1963 di Solo nama LASKI diubah menjadi GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu Se Indonesia).
Pada Konggres ke V di Tasikmalaya 5-6 Desember 1964, singkatan GAPAKSI diubah menjadi Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu Se Indonesia.
Pada Konggres ke VI GAPAKSI di Solo 23-27 Agustus 1967, nama GAPAKSI diubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).  Terpilih sebagai pengurus: Ketua Umum: Tan Sing Hoo.
Wakil Ketua Umum: Suryo Hutomo. Sekretaris: Ws. Oei Tjien San. Di dalam konggres ini Pejabat Presiden RI Soeharto dan Ketua MPRS A.H. Nasution, memberikan sambutan tertulis.  Dirjen Bimasa agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI, I.B.P. Mastra yang saat itu sudah memberi tempat bagi umat agama Khonghucu di Departemennya, ikut memberikan sambutan atas nama Menteri Agama.
Konggres  ke VII diselenggarakan di Pekalongan tgl 24-28 Desember 1969. Kedudukan pusat tetap di Solo. Kepengurusan periode 1969-1971 adalah; Ketua Umum: - Suryo Hutomo. Sekretaris: Tjiong Giok Hwa. Pada Konggres ini IBP Mastra, Dirjen Bimasa Agama Hindu dan Buddha, memberi sambutan mewakili Menteri Agama KH. Mochammad Dahlan.  Juga ikut memberikan sambutan tertulis Ketua MPRS A.H. Nasution.
Tanggal 25-27 Desember 1970 diadakan Musyawarah Kerja (Muker) Makin-Makin se Jawa Barat dan DKI Jaya untuk meningkatkan perkembangan Agama Khonghucu.
Tanggal 3 Juli 1971 diadakan Musyawarah Kerja Seluruh Indonesia (MUKERSIN I), yang dihadiri utusan-utusan dari 41 daerah dengan tujuan mensukseskan Pelita dan Pemilihan Umum.
Tanggal 23-27 Desember 1971 diselenggarakan Konggres ke VIII Matakin di Semarang. Hasilnya kedudukan pusat tetap di Solo dan terpilih: Ketua umum: Suryo Hutomo dan Sekretaris: Ibu Tjiong Giok Hwa.
Tanggal 19-22 Desember 1975 di Tangerang diselenggarakan MUNAS III Dewan Rokhaniwan Agama Khonghucu Indonesia yang dihadiri oleh Rokhaniwan dari 25 daerah. Keputusan-keputusan penting di dalam munas ini: Disahkan penyempurnaan hukum perkawinan dan pelaksanaan upacara.

Penyempurnaan dan penyeragaman Tata Agama Khonghucu.
Tanggal 20-23 Desember 1976 diselenggarakan MUKERSIN II di Jakarta yang dihadiri utusan-utusan dari 35 daerah untuk konsolidasi umat Khonghucu demi mensukseskan Pembangunan Nasional.
Pada tanggal 28 s/d 9 September 1979 MATAKIN mengirim utusan mengikuti World Conference on Religion for Peace ke III di New Yersey, Amerika Serikat.
Tanggal 23-31 Agustus 1984 MATAKIN mengirim utusan menghadiri World Conference on Religion for Peace di Nairobi Kenya (Afrika).
Tanggal 15 Januari 1987 di Solo diselenggarakan  konferensi MATAKIN secara interen dan hasilnya telah terpilih Ketua Umum MATAKIN periode 1987-1991 yaitu Ws. Leo Kuswanto.
Pada tanggal 14 Maret 1987 diadakan pertemuan MATAKIN dan disepakati untuk mengadakan revisi dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam rangka menyesuaikan diri dengan Undang-undang No.8/ 1985.
Tahun 1993 diadakan Munas (Konggres) MATAKIN XII di Jakarta dan terpilih sebagai Koordinator Presidium Hengky Wijaya dengan Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian Js. Chandra Setiawan dan Sekretaris Irwanto.  Kedudukan pusat MATAKIN di Jakarta.
Tanggal 22-23 Agustus 1998 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta diselenggarakan Munas (Konggres) MATAKIN XIII yang dibuka oleh H. Amidhan mewakili Menteri Agama Malik Fadjar. Terpilih sebagai Ketua Umum Js.  Chandra Setiawan dan Sekretaris Umum Budi S. Tanuwibowo.
Tanggal 13-15 September 2002 diselenggarakan Musyawarah Nasional ke XIV  MATAKIN di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta yang dibuka oleh Ketua MPR RI, Amien Rais.  Ikut memberikan pengarahan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar, Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Kwik Kian Gie, mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid, Sekjen MUI Din Syamsudin, Ketua MUI Sulastomo.  Pada Munas ini ditetapkan Ketua Umum untuk periode 2002-2006  Js. Budi S. Tanuwibowo dan Sekretaris Umum Dede Hasan Senjaya.

Berdirinya Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)
Pada tanggal 11-12 Desember 1954 di Sala diadakan konferensi antar tokoh-tokoh Agama Khonghucu untuk membahas kemungkinan ditegakkan kembali Lembaga Agama Khonghucu secara Nasional setelah tidak ada kegiatan semenjak pecahnya perang dunia II dan masuknya Jepang ke Indonesia. Akhirnya pada konferensi yang diselenggarakan di Sala pada tanggal 16 April 1955 disepakati dibentuk kembali Lembaga Tertinggi Agama Khonghucu Indonesia dengan memakai nama Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia yang diketuai Dr. Sardjono. Tanggal 16 April 1955 disepakati sebagai hari jadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, disingkat MATAKIN.
Sejak berdirinya secara periodik diadakan Kongres/MUNAS. Pada awal pemerintahan Orde Baru, tepatnya tanggal 23-27 Agustus 1967 telah diadakan Kongres ke-VI di mana Soeharto yang pada waktu itu sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia berkenan memberikan sambutan tertulis yang antara lain mengatakan bahwa, "Agama Konghutju mendapat tempat yang layak dalam negara kita jang berlandaskan Pantjasila ini”.
Dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/ BA.01.2/ 4683/95 tanggal 18 November 1978 antara lain menyatakan bahwa agama yang diakui oleh pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha mulailah keberadaan umat Khonghucu dipinggirkan. Keputusan politik ini yang sesungguhnya batal demi hukum, karena sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia, disamping itu bertentangan dengan UUD pasal 29 ayat 2 yang memberikan kebebasan beragama dan beribadat, justru dijadikan pegangan oleh aparat pemerintah sampai sekarang ini kendatipun telah dicabut per tanggal 31 Maret 2000. Surat edaran ini juga mengingkari realita bahwa warga negara Indonesia yang memeluk Agama Khonghucu ada di Indonesia. Karena berdasarkan sensus penduduk yang diadakan lembaga resmi pemerintah yaitu Biro Pusat Statistik Indonesia pada tahun 1976 penduduk Indonesia yang beragama Khonghucu mencapai 0,7% yang berarti lebih dari 1 juta jiwa.
Riwayat Singkat MATAKIN.
Sejarah dan posisi hukum keberadaan Konfusianisme di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan

Perkembangan Lembaga dan Agama Khonghucu pada era Reformasi
Patut disyukuri pengakuan hak asasi manusia pada era reformasi mulai membaik, terbukti Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Reformasi memberikan kesempatan kepada Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengadakan Musyawarah Nasional XIII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 22 – 23 Agustus 1998 yang dihadiri perwakilan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN), Kebaktian Agama Khonghucu Indonesia (KAKIN) dan wadah umat Agama Khonghucu lainnya dari berbagai penjuruh tanah air Indonesia.
Harus diakui karena selama tidak kurang dari 20 tahun umat Khonghucu di Indonesia hidup dalam tekanan dan pengekangan sebagai akibat tindakan represif dan diskriminatif terhadap umat Khonghucu mempunyai dampak negatif bagi perkembangan kelembagaan umat Khonghucu. Walaupun umat Khonghucu ada di setiap provinsi di Indonesia, belum semua propinsi ada lembaga agama Khonghucu yang terorganisasi dan dibawah pembinaan langsung MATAKIN.

Asas MATAKIN
Sesuai yang tertera dalam BAB II, pasal 4 Anggaran Dasar, MATAKIN berasaskan Pancasila.

Hubungan dengan organisasi lain
Di dalam Anggaran Dasar MATAKIN Bab XIII pasal 21.2 dengan tegas disebutkan bahwa,” MATAKIN bersifat independen, dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial-politik manapun, baik di dalam dan di luar negeri”.

PANDANGAN HIDUP DAN KEPERCAYAAN ORANG CINA: TAOISME, KONFUSIANISME, DAN BUDHISME

Taoisme juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi  sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing. Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi.
Menurut ajaran Tao, manusia pada hakekatnya terlahir dalam keadaan suci dan baik. Jalan yang ditempuh untuk mempertahankan dan memelihara kesucian dan keadaan baik. Ia percaya jalan ini dapat menghindarkan manusia dari segala hal yang bertentangan dengan ritme atau irama alam semesta. Terdapat lima budi baik jalan Tuhan yakni:
  1. Berkelakuan ramah tamah
  2. Berkelakuan sopan santun
  3. Harus cerdas
  4. Harus jujur
  5. Harus adil
Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah De. Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Taoisme yang merupakan landasan kealamian. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa. Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang, dalam Daode Jing Bab 42.
Secara terminologi, Yin dan Yang diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda bersifat dualisme yang terdiri dari unsur positif dan unsur negatif. Benda yang tidak memiliki unsur negatif dan positif, itu bermakna kosong dan hampa. Seperti halnya magnet, magnet mempunyai unsur positif dan negatif, kedua-duanya bersifat saling melengkapi. Magnet tanpa unsur positif, maka tidak terwujudnya unsur negatif. Itu bermakna bahwa magnet tidak akan terwujud jika tidak memiliki kedua unsur tersebut.
Konfusianisme
Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang mekanismenya untuk mengawasi tingkah laku masyarakat tersebut yang dilahirkan dan dibesarkan dibawah pengaruh budaya Konfusianisme yang menekankan pada kehidupan keluarga dan perkembangan pribadi. Budaya Konfusianisme ini adalah dasar yang unik dari tingkah laku/sikap masyarakat di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan inti dari sikap masyarakat di Barat. Saat ini kita tidak dapat melupakan orang Asia-Amerika. Berdasarkan harian Washington Post, “Meskipun Orang Asia-Amerika hanya merupakan 2.4 persen dari populasi negara, mereka merupakan 17.1 persen mahasiswa di universitas Harvard, 18 persen di Massachussets Institute of Technology dan 27.3 persen di Universitas California -Berkeley. Di Universitas California- Irvine, 35.1 persen dari mahasiswanya adalah orang Asia-Amerika, bahkan perbandingan class barunya lebih tinggi : 41 persen. Sifat kerja keras orang-orang Asia merupakan warisan Konfusianisme secara umum, filsafat 5 abad sebelum masehi, orang Bijaksana dari Cina yang mengajarkan orang untuk menjadi sempurna hanya melalui pendidikan dan latihan (praktek). Khonghucu (Confucius) bukan hanya merupakan karakter pada masa lalu, beliau adalah kenyataan hidup dari masayarakat tersebut.
Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu (Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban. Peperangan harus dihindarkan; dan Persatuan Besar dari seluruh dunia harus dikembangkan.
Konfusianisme bukan satu-satunya yang disebut agama. Khonghucu sendiri sangat percaya kepada Tuhan dan mengajarkan Tao-nya yang membimbing umat manusia ke Jalan yang terang, dengan cara ini akan menyatu/manunggal dengan Tuhan, dengan tanpa mempertujukkan orang dapat membuktikannya; dengan tanpa menggerakkan orang membuat perubahan, dan tanpa berusaha orang dapat memperoleh hasil akhirnya. Ajaran Khonghucu adalah yang paling suci diantara ajaran suci, dan mungkin di atas semua agama dan tidak pernah bertentangan dengan mereka. Beliau percaya bahwa semua orang di dunia ini adalah bersaudara di bawah Tuhan Yang Esa.
Analisis
Pada dasarnya kepercayaan orang Cina pada umumnya didasarkan pada keyakinan bahwa di dunia ini manusia merupakan refleksi dari kehidupan alam semesta. Baik Konfusianisme maupun Taoismme, kedua lebih menekankan pada way of life, bagaimana seharusnya manusia hidup, berinteraksi dan saling menjaga suatu kondisi damai. Oleh karenanya banyak orang menganggap keduanya bias menjadi ajaran hidup atau filsafat daripada teologi kendati keduanya juga tidak melepaskan adanya ritual-ritual di dalamnya. Ini mungkin adalah sebuah alasan yang mempermudah kepercayaan ini masuk dan dipelajari oleh bangsa-bangsa lainnya sebagaimana di Indonesia  sendiri. Pada kenyataannya bangsa Cina pada saat ini memeluk agama Kristem Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu namun mereka tetap memegang erat ajaran hidup dan kepercayaan Taoisme dan Konfusianisme yang dipercaya akan menyeimbangkan kehidupan mereka
.
Referensi:
Tjeng, Lie T. 1983. Studi Wilayah pada Umumnya Asia Timur Pada Khususnya. Bandung: Penerbit Alumni
homepage://www.wam.umd.edu/-tkang, email: tkang@wam.umd.edu (diakses 22 Maret 2010)
http://www.taoist.org.cn/jingdian (diakses 22 Maret 2010)

Karakter berdasarkan 12 Shio Cina

Latar Belakang

(Gemintang.com) Shio adalah simbol binatang cina yang mewakili 12 siklus tahunan. Mereka mewakili konsep siklus waktu, tidak seperti konsep waktu Barat yang diwakili dengan bintang-bintang. Kalendar Bulan Cina dibuat berdasarkan siklus dari bulan, dan dibangun dalam format berbeda dari kalendar Barat yang berbasiskan Matahari. Dalam kalendar Cina, awal tahun dimulai antara akhir Januari dan awal Februari. Cina mengadopsi kalender barat sejak tahun 1911, meskipun kalendar lunar (berbasiskan bulan) masih digunakan untuk acara-acara festival seperti Chinese New Year atau yang lebih dikenal dengan Imlek. Banyak kalendar Cina termasuk yang beredar di Indonesia mencetak dua versi baik itu kalendar yang berdasarkan matahari dan penanggalan Cina berdasarkan bulan.
Di Amerika, setiap tahun ditandai berdasarkan kelahiran Yesus Kristus, sebagai contoh, 1998 berarti 1,998 tahun setelah kelahiran Kristus. Ini mewakili persepsi linear waktu, dimana waktu berproses secara garis lurus dari masa lalu masa kini dan masa mendatang. Dalam adat Cina tradisional, metode penanggalan adalah berdasarkan siklus, siklus berarti sesuatu terjadi berdasarkan siklus waktu. Metode rakyat yang populer dimana kita dapat melihat metode siklus ini adalah perekaman tahun ke dalam Dua Belas Tanda Binatang. Setiap tahun di tandai dengan nama binatang atau “shio” sesuai dengan siklus yang berputar : Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi. Oleh karena itu, setiap dua belas tahun binatang atau shio yang sama akan muncul.
Shio binatang juga menandakan fungsi sosial yang berguna untuk mencari tahu umur seseorang. Daripada menanyakan berapa umur seseorang, seringkali orang hanya bertanya apa shio dari orang tersebut. Ini akan menaruh orang tersebut dalam siklus 12 tahun, dan dengan sedikit akal sehat, kita bisa menghitung umur orang tersebut.
Legenda Shio

Menurut legenda tradisional Cina, ke dua belas binatang dikumpulkan dalam satu hari untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin dalam siklus pertahunan. Sang Khalik membuat kontes tersebut: siapapun yang dapat menyeberang sungai akan mendapat giliran pertama, dan sisanya akan mengikuti urutan sesuai dengan kedatangan mereka.
Pada awalnya kedua belas binatang berkumpul di dalamnya termasuk kucing. Kucing memberitahu berita ini kepada teman baiknya si Tikus, dan mereka setuju untuk pergi berdua keesokan harinya. Namun, ketika hari dimana kontes dimulai Tikus tidak membangunkan Kucing, yang sebagai seorang kucing senang sekali tidur sepanjang hari. Maka itu kucing tidak mengikuti lomba dan tidak masuk dalam siklus tahunan shio.
Pada saat kompetesi, tikus yang penuh akal menumpang pada si Kerbau yang kuat dan gagah untuk menyeberangi sungai. Ketika kerbau sudah mau meloncat ke tepian seberang sungai, tanpa sepengetahuan Kerbau, si Tikus meloncat dari punggung kerbau, dan menjadikan dia pemenang kontes. Binatang terakhir adalah binatang malas yaitu Babi yang pemalas, oleh karena itu Tikus menjadi tahun pertama dari siklus shio, dan diakhiri oleh babi tanpa adanya shio Kucing dalam dua belas siklus tahun itu. Dan oleh karena itu juga, menurut legenda, permusuhan antara kucing dengan tikus dimulai dan masih berlanjut sampai sekarang.
Shio Tikus Rat – TIKUS
Kamu imajinatif, menyenangkan dan benar benar murah hati terhadap orang yang kamu cintai. Namun, kamu cenderung mudah marah dan terlalu kritis. Kamu juga dikenal sebagai orang yang opportunis. Lahir dalam shio ini, kamu akan senang bekerja dalam sales atau penulis, kritikus atau penerbit. Lahir di Tahun 1924, 1936, 1948, 1960, 1972, 1984, 1996, 2008.
Lebih detail klik disini
Shio Kerbau Ox – KERBAU
Dilahirkan sebagai pemimpin, kamu menjadi inspirasi untuk orang di sekitar kamu. Kamu memilih metode konservatif dan berbakat menggunakan tangan kamu. Sangat mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan pilihan kamu. Shio kerbau akan sangat berhasil sebagai dokter, jendral atau penata rambut. Lahir di Tahun 1925, 1937, 1949, 1961, 1973, 1985, 1997, 2009.
Lebih detail klik disini
Shio Macan Tiger – MACAN
Kamu sensitif, emosional dan mampu menciptakan cinta yang luar biasa. Namun, kamu memiliki kecenderungan mengambil semua dan menjadi kerasa kepala dengan apa yang kamu anggap benar; lebih dikenal dengan istilah pemberontak. Shio macan ini sangat cocok sebagai boss, penjelajah, pembalap atau matador. Lahir di Tahun 1926, 1938, 1950, 1962, 1974, 1986, 1998, 2010.
Lebih detail klik disini
Shio Kelinci Rabbit – KELINCI
Kamu adalah orang yang baik, sangat patuh dan menyenangkan. Kamu memiliki kecenderungan menjadi sentimentil. Menjadi hati-hati dan konseratif, kamu sangat berhasil dalam bisnis dan juga menjadi pengacara, diplomat atau aktor yang baik. Lahir di Tahun 1927, 1939, 1951, 1963, 1975, 1987, 1999, 2011.
Lebih detail klik disini
Shio Naga Dragon – NAGA
Penuh fitalitas dan antusias, Naga adalah individu yang popular meskipun dengan reputasi yang buruk dan ‘mulut besar’. Kamu sangat pandai, berbakat dan perfeksionis namun kualitas ini menjadikan kamu kompeten di lingkungan kamu. Kamu akan sangat cocok sebagai artis, pendeta atau politikus. Lahir di Tahun 1916, 1928, 1940, 1952, 1964, 1976, 1988, 2000.
Lebih detail klik disini
Shio Ular Snake – ULAR
Kaya di dalam kebijakan dan ramah, kamu sangat romantis dan berpikir dalam dan intuisi kamu memandu dengan kuat. Hindari sikap rakus terhadap uang. Jaga selera humor mengenai hidup kamu. Shio ular biasanya cocok sebagai guru, filosofi, penulis, psikiater dan peramal. Lahir di Tahun 1917, 1929, 1941, 1953, 1965, 1977, 1989, 2001.
Lebih detail klik disini
Shio Kuda Horse – KUDA
Kapasitas kamu dalam bekerja keras sangat mengagumkan. Kamu adalah orang yang mandiri. Selain pandai dan ramah, kamu cenderung menjadi egois dan tajam dan harus menjaga diri agar tidak terlalu mementingkan diri sendiri. Shio kamu menandakan sukses sebagai petualang, peneliti, puitis atau politikus. Lahir di Tahun 1918, 1930, 1942, 1954,1966, 1978, 1990, 2002, 2014.
Lebih detail klik disini
Shio Kambing Goat – KAMBING
Selain sering merasa salah tingkah dihadapan orang lain, Shio Kambing dapat menjadi teman yang menyenangkan. Kamu sangat elegan dan artistik namun menjadi yang pertama dalam memberikan komplain apapun. Singkirkan rasa pesimisme dan kekhawatiran dan coba untuk menjadi tidak tergantung terhadap kenyamanan materi. Kamu akan cocok sebagai aktor, pengebun atau penata rias. Lahir di Tahun 1919, 1931, 1943, 1955, 1967, 1979, 1991, 2003, 2015…
Lebih detail klik disini
Shio Monyet Monkey – MONYET
Kamu sangat pintar, karena sifat alami kamu yang luar biasa dan personalitas yang menarik, kamu sangat disukai. Monyet, bagaimanapun juga, harus menjaga agar tidak menjadi orang yang oportunis dan tidak dipercaya oleh orang lain. Shio kamu menjanjikan kesuksesan disegala bidang yang kamu coba. Lahir di Tahun 1920, 1932, 1944, 1956, 1968, 1980, 1992, 2004, 2016…
Lebih detail klik disini
Shio Ayam Rooster – AYAM
Ayam adalah pekerja keras; tegas dalam mengambil keputusan juga jarang mengutarakan pemikiranya. Oleh karena ini, kamu cenderung menjadi ekslusif terhadap orang lain. Kamu adalah pemimpi, pemilih busana yang baik dan ekstravaganza. Lahir dalam shio ini kamu dapat bahagia menjadi pemilik restoran, penerbit, tentara atau turis. Lahir di Tahun 1921, 1933, 1945, 1957, 1969, 1981, 1993, 2005, 2017…
Lebih detail klik disini
Shio Anjing Dog – ANJING
Anjing tidak pernah mengecewakan kamu. Lahir dalam shio ini kamu sangat jujur, dan setia orang yang kamu cintai. Kamu selalu merasa khawatir, perkataan yang tajam dan cenderung mencari kesalahan. Namun kamu akan menjadi businessman, aktivis, guru atau polisi yang baik. Lahir di Tahun 1922, 1934, 1946, 1958, 1970, 1982, 1994, 2006, 2018…
Lebih detail klik disini
Shio Babi Pig – BABI
Kamu adalah teman yang baik, orang yang pintar dengan kebutuhan yang kuat untuk mencapai tujuan apapun. Kamu sangat baik, toleran dan jujur namun juga mengharapkan hal yang sama dari orang lain, tentunya hal ini sangat naif. Pencarian kamu terhadap material dapat menjadi kegagalan. Babi akan sangat berhasil dalam bidang seni seperti penghibur atau juga pengacara. Lahir di Tahun 1923, 1935, 1947, 1959, 1971, 1983, 1995, 2007, 2019…
Lebih detail klik disini

Mengenal Lao Tzu Dan Tao Te Ching





"Perjalanan seribu Li dimulai dari satu langkah kecil. "
( Tao Te Cing, Bab 64,5).
Ungkapan di atas dikutip dari kitab Tao Te Ching karya Lao Tzu atau Lao Zi. Ungkapan yang sangat sederhana tetapi menjadi sangat terkenal dan sering dijadikan pendorong semangat dalam setiap usaha atau kegiatan pada kehidupan manusia saat ini.
Lao Tzu hidup pada rentang masa 604-531 SM. Ia dilahirkan di negara Ch'u yang terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan Provinsi Hunan. Ia bernama asli Li Erh dengan gelar Dewata, Lau C'un, Th'ai Shang Lau C'un, atau Th'ai Shang Hsuan Yuan Huang Ti. Nama keluarganya Li, dan nama panggilannya Erh. Nama Lao Tzu secara hurufiah mengandung pengertian 'empu tua.' Menurut sejarawan Tiongkok, Suma Xian (Shu Xian) yang menulis sekitar tahun 100 SM, Lao Tzu berasal dari desa Ch'u-jen, Provinsi Hunan, dan hidup sekitar abad ke-6 SM, di Ibukota Loyang negara Ch'u. Lao Tzu hidup pada era Ciu dan hampir satu era dengan Confucius dan Buddha Gautama. Pada masa pemerintahan Dinasti Chou (1111-255 SM), Lao Tzu sempat diangkat sebagai seorang ahli perpustakaan (Shih). Sebagai seorang ahli perpustakaan, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang perbintangan dan peramalan, yang juga menguasai berbagai kitab kuno.
Sedikit sekali catatan yang dapat ditemukan mengenai kehidupan Lao Tzu. Karya besarnya adalah sebuah kitab yang memakai namanya sebagai judul, yakni Lao Tzu yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Tao Te Ching (kitab klasik mengenai jalan dan daya). Kitab ini dipandang sebagai karya kefilsafatan pertama dalam sejarah China. Dalam berbagai perubahan kebudayaan di China, Lao Tzu tidak pernah hilang. Bagi para Confucianis, Lao Tzu dipandang sebagai seorang filsuf yang agung, dan bagi kebanyakan orang, ia adalah seorang dewa atau orang suci. Sedangkan bagi para Taois, ia merupakan pancaran dari Tao dan sesuatu yang merupakan keilahian agung mereka.
Legenda Kehidupannya
Banyak sekali versi yang mengisahkan tentang kelahiran Lao Tzu, salah satunya dipengaruhi oleh cerita tentang kelahiran Sang Buddha. Dikisahkan bahwa ibunda Lao Tzu mengandung selama 72 tahun, dan ia dilahirkan melalui ketiak kirinya. Menurut legenda ini, ia telah berulang kali turun dari langit dalam berbagai wujud manusia sepanjang sejarah untuk menurunkan ajaran Taoisme kepada para kepala negara. Legenda lainnya dari keluarga Li mengisahkan, bahwa bayi tersebut terlahir bersinar di bawah kaki pohon plum ('Li') sehingga diputuskan bahwa 'Li' adalah nama keluarganya. Legenda ini berkembang dari cerita perjalanan Lao Tzu ke Barat (India). Bahkan legenda ini mempercayai bahwa Sang Buddha merupakan perwujudan Lao Tzu juga.
Suma Xian melakukan penelitian mendalam dengan menemui beberapa orang yang pernah bertemu Lao Tzu, seperti Lau-Lai-Tzu, seorang Taois pengikut Confucius dan seorang ahli perbintangan bernama Tan. Hasilnya adalah bahwa kemungkinan Lao Tzu telah hidup 150 tahun, malahan ada yang mengatakan lebih dari 200 tahun. Perlu diketahui bahwa menurut kepercayaan kuno, seorang Guru Agung dapat hidup kekal. Kepercayaan ini kemungkinan lebih berkembang pada tradisi sebelum Chuang Zi, seorang Guru Agung Taois yang hidup sekitar abad ke-4, karena dalam karya-karya Chuang Zi, walaupun ia menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan kematian tetapi tanpa diberikan penekanan khusus terhadap bentuk kekekalan. Oleh karena itu menurut Suma Xian, Lao Tzu kemungkinan seorang pertapa yang tak meninggalkan jejak kehidupannya. Sebab pada kenyataannya dalam sepanjang sejarah China, selalu tercatat adanya para pertapa yang meninggalkan kehidupan duniawi.
"Tao Te Ching"
Ajaran Lao Tzu, lebih dikenal dengan sebutan Taoisme, yakni suatu paham spiritual yang lahir di Tiongkok dan telah mengalami berbagai perkembangan selama ribuan tahun. Taoisme dikembangkan oleh Lao Tzu dengan kitab utamanya yang disebut Tao Te Ching yakni kitab tentang Jalan Kebenaran. Kitab ini merupakan suatu buku spiritual singkat yang sangat rumit dan hanya terdiri dari 5.250 huruf. Penulisan Tao Te Ching sendiri menurut kisahnya berawal ketika pada usia tuanya Lao Tzu meninggalkan negara Chu dan hendak hidup bertapa. Dalam perjalanannya, ia dihentikan di pintu gerbang Hsien Ku oleh seorang penjaga yang bernama Yin Hsi, di perbatasan negara Chin. Yin Hsi mengenali Lao Tzu sebagai seorang Yang Suci, lalu ia memintanya untuk menuliskan kebijaksanaannya dalam suatu kitab. Lao Tzu menyanggupi dan selang tiga hari kemudian, ia berhasil menyelesaikannya.
Setelah menyelesaikan bukunya, menurut kisahnya Lao Tzu dengan menunggang seekor kerbau dan bernyanyi, ia meninggalkan kehidupan duniawi menuju ke arah Barat (India/ pegunungan Himalaya). Sejak saat itulah tidak pernah terdengar kabar lagi mengenai dirinya. Sedangkan Yin Hsi sendiri setelah membaca kitab tersebut, lalu menjalani kehidupan pertapaan dan mencapai dunia dewata sebagai seorang dewa. Menurut catatan sejarah dari Suma Xian, Yin Hsi juga menulis sebuah buku yang berkaitan dengan metode meditasi Taois, dengan judul Kuan Yin Zi. Sesudah itu ia pun ikut merantau ke Barat (India/pegunungan Himalaya) dan kemudian tidak terdengar kabar beritanya lagi.
Ide ajaran dalam Tao Te Ching yang terkenal adalah mengenai wuwei (tanpa upaya disengaja). Wuwei mengandung pengertian membiarkan segala hal terjadi sesuai dengan apa adanya, alami, dan bukan dibuat-buat atau direncanakan. Doktrin 'wuwei' merupakan suatu bentuk pengolahan diri untuk mencapai kesunyian diri sejati, dan penyucian pikiran.
Konsep pemikiran maupun pandangan-pandangan Lao Tzu erat kaitannya tentang dunia dan alam semesta serta hubungannya dengan kehidupan manusia, pemerintahan, dan Yang Mahaesa (Tao). Tao terkesan tidak logis, dan memang Tao melampaui batas-batas logika. Sehingga untuk dapat memahami dan mengerti secara mendalam ajaran Lao Tzu yang sulit ini diperlukan usaha yang tekun dan perenungan yang mendalam secara intuisi. Kebanyakan orang mengidentikkan Taoisme sebagai sesuatu yang bersifat gaib dan mistik. Hal ini disebabkan pada zaman Hao Han, terdapat seorang pengikut Taoisme bernama Zhang Tao Ling yang bergelar Zhang Thien She menyebarkan ajaran Lao Tzu dengan menambahkan ilmu gaib dan mempraktikkan mistik.
Skeptisme Cendekiawan
Keberadaan legenda Lao Tzu sempat dipertanyakan oleh para cendekiawan, dengan alasan Tao Te Cing tidak mungkin ditulis oleh satu orang saja. Beberapa cendekiawan mengatakan bahwa Tao Te Cing kemungkinan berasal dari era Confucius, dan beberapa lainnya mengatakan kitab tersebut berasal dari sekitar abad ke-3 SM. Kesimpangsiuran ini menyebabkan beberapa cendekiawan yang menyatakan bahwa pengarang Tao Te Cing dilakukan oleh Tan, seorang ahli perbintangan.
Sementara berdasarkan biografi Suma Xian dari penelusuran garis keturunan Sang Guru Agung tersebut, berhasil mengaitkan kehidupan Lau Tan pada sekitar abad ke-4 SM. Akan tetapi hasil penelusuran garis keturunan tersebut tentunya agak sulit dipertimbangkan dari sudut sejarah. Ini hanya dapat membuktikan bahwa pada masa kehidupan Suma Xian, terdapat keluarga bermarga Li yang mengakui sebagai keturunan dari Guru Agung Lao Tzu. Hal ini tidak meletakkan suatu dasar yang kuat untuk memastikan keberadaan Lao Tzu.
Keraguan lain mengatakan bahwa nama Lao Tzu sendiri ada kemungkinan untuk menunjukkan gelar kehormatan terhadap Guru Agung Tao daripada nama pribadi seseorang. Dalam biografi Shih Chi dan sebagaimana sempat disinggung juga secara sekilas dalam beberapa kitab kuno lainnya, bahwa terdapat banyak riwayat para Guru Agung yang ditulis mulai dari abad ke-2 SM. Hal ini cukup menarik perhatian apabila dikaitkan dengan sejarah pembentukan Taoisme Agama (Tao Chiao). Selama Dinasti Han, Lao Tzu dianggap sebagai suatu figur mistik yang disembah oleh rakyat bahkan oleh raja sendiri. Perkembangan berikutnya, ia diangkat sebagai Lau Agung (Lau C'un), penjaga dan pewarta kitab kuno dan sang penyelamat umat manusia.
Namun demikian lepas dari berbagai kontroversi yang ada, patutlah disimak penghormatan Confusius pada Lao Tzu, seperti yang ditulis oleh Suma Xian, bagaimana Lao Tzu pada suatu hari bertemu dengan Confucius, yang dikritiknya sebagai seorang budiman yang menimbun kebajikan begitu rapat, seolah-olah kosong adanya. Sesudah pertemuan, Confucius berkata kepada murid-muridnya, "Saya tahu bagaimana burung terbang, bagaimana ikan berenang, bagaimana binatang darat berlari. Tetapi yang berlari, tetap saja bisa terperangkap, yang berenang bisa terjala, yang terbang bisa terpanah. Namun siapa yang tahu bagaimana seekor naga mengendarai angin melalui awan menuju surga? Hari ini saya bertemu Lao Tzu dan hanya dapat membandingkannya dengan seekor naga."

Lao Tse Termasuk 100 Tokoh Terhebad

75 LAO TSE ± ABAD KE-4 SM

Dari beribu-ribu judul buku yang pernah ditulis di Cina, mungkin yang paling banyak diterjemahkan dan dibaca di luar negeri itu adalah sebuah buku ditulis lebih dari 2000 tahun yang lalu, terkenal dengan nama Lao Tse atau Tao Te Ching. Buku Tao Te Ching ini atau "Cara lama dan Kekuatannya" adalah naskah utama di mana filosofi Taoisme diperinci.
Buku ini buku ruwet, ditulis dalam gaya khas yang luar biasa dan mampu menyuguhkan pelbagai rupa penafsiran. Ide sentralnya berkaitan dengan masalah Tao yang lazim diterjemahkan dengan "Jalan" atau "Jalur." Tetapi, konsepnya agak kabur, karena buku Tao Te Ching sendiri dimulai dengan kalimat: "Tao yang akan dijelaskan bukanlah Tao yang abadi; nama yang disebut di sini bukanlah nama yang abadi." Tetapi, dapatlah kita katakan bahwa Tao berarti secara kasarnya "Alam" atau "Hukum Alam."
Taoisme beranggapan bahwa individu jangan bergulat melawan Tao melainkan harus tunduk menghambakan diri dan bekerja bersamanya. (Seorang Taoist dapat menunjuk contoh air yang lembutnya tak terbatas, yang mengalir tanpa protes menuju daratan rendah dan yang tak melawan kekuatan selemah apa pun, tak terhancurkan, tetapi karang yang sekokoh apa pun bisa luluh pada akhirnya).
Untuk seorang pribadi manusia, kesederhanaan dan kewajaran merupakan hal jadi anjuran. Kekerasan harus dijauhi, seperti juga halnya bergulat untuk uang dan prestise. Orang tidak boleh bernafsu mengubah, dunia, melainkan harus menghormatinya. Bagi pemerintahan, langkah yang dianggap bijak adalah berbuat tidak begitu aktif, banyak mengatur ini melarang itu. Apalagi, aturan dan batasan sudah kelewat banyak. Karena itu menambah lagi undang-undang, atau memperkeras ketentuan-ketentuan lama yang sudah ada, hanya mengakibatkan keadaan tambah buruk. Pajak yang tinggi, rencana-rencana pemerintah yang terlalu ambisius, menggalakkan perang, kesemuanya ini berlawanan dengan filosofi Taoisme.
Menurut tradisi Cina, penulis Tao Te Ching adalah seorang bernama Lao Tse yang katanya sejaman tetapi lebih tua dari Kong Hu-Cu. Tetapi, Kong Hu-Cu hidup di abad ke-6 SM. Dan keduanya --baik dari sudut gaya maupun isi tulisan-- hanya sedikit ilmuwan masa kini percaya bahwa Tao Te Ching ditulis pada masa begitu dini. Ada beda pendapat tentang waktu yang sesungguhnya penyusunan buku itu. (Tao Te Ching sendiri tak pernah menyebut nama orang tertentu, tidak juga tempat, tanggal, atau kejadian-kejadian historis). Tetapi, tahun 320 SM merupakan perkiraan yang pantas-sebetulnya dalam waktu delapan puluh tahun dari waktu yang sesungguhnya, dan mungkin lebih dekat lagi.
Keluarga penganut faham Taoisme memberi persembahan kepada bulan purnama menjelang musim gugur.
Masalah ini membuat suatu sengketa pendapat tajam mengenai waktu bahkan menyangkut adanya Lao Tse sendiri. Sementara pihak yang berwenang percaya tradisi bahwa Lao Tse hidup di abad ke-6 SM, karenanya berkesimpulan dia tidaklah menulis Tao Te Ching. Sarjana-sarjana lain menganggap orang itu tak lebih dari tokoh dongeng belaka. Pendapat saya sendiri, yang hanya disepakati oleh sebagian kecil sarjana, adalah sebagai berikut: (1) Lao Tse itu memang betul-betul ada orangnya dan memang penulis Tao Te Ching; (2) dia hidup di abad ke-4 SM ; (3) Cerita bahwa Lao Tse sejaman tetapi lebih tua dari Kong Hu-Cu adalah keterangan yang dibikin-bikin, yang fiktif dan dikarang oleh filosof Taoist yang datang belakangan sekedar untuk tujuan menambah prestise terhadap orangnya dan bukunya.
Baik dicatat, dari para penulis-penulis Cina terdahulu baik Kong Hu-Cu (551-479 SM), atau Mo Ti (abad 5 SM), atau Meng-tse (371-289 SM) tak satu pun menyebut baik Lao Tse maupun Tao Te Ching. Tetapi, Chuang Tse, seorang filosof Taoist kenamaan --yang muncul sekitar tahun 300 SM menyebut nama Lao Tse berulang kali.
Karena soal ada atau tidaknya di dunia ini manusia yang namanya Lao Tse itu masih jadi pertanyaan, selayaknya kita pun meragukan detail-detail biografinya. Tetapi, ada sumber yang patut dihargai dalam bentuk pernyataan sebagai berikut: Lao Tse dilahirkan dan hidup di Cina bagian utara. Sebagian dari masa hidupnya dia menjadi ahli sejarah atau seorang pembimbing bagian arsip pemerintahan, besar kemungkinan di kota Loyang, ibukota kerajaan dinasti Chou. Lao Tse bukanlah namanya yang sesungguhnya, melainkan sekedar panggilan kehormatan yang secara kasarnya berarti "sesepuh." Dia beristri dan punya putera bernama Tsung. Si Tsung ini kemudian jadi jendral di negeri Wei.
Meskipun Taoisme bermula dari falsafah sekuler, tetapi semacam gerakan keagamaan berkembang dari sana. Tetapi, karena Taoisme sebagai sebuah filosofi melanjut atas dasar khususnya gagasan yang tertuang dalam buku Tao Te Ching, "Agama Taoist" ini segera diliputi dengan kepercayaan dan cara ibadah yang penuh takhyul yang sedikit sekali kaitannya dengan ajaran Taoisme.
Berpegang pada dugaan bahwa Lao Tse adalah penulis sesungguhnya buku Tao Te Ching, pengaruhnya betul-betul luas. Buku itu amat ringkas (isinya kurang dari 6000 huruf Cina, karena itu masih kurang banyak untuk dimuat dalam selembar koran!), tetapi dia berisi banyak buah pikiran yang mendalam. Seluruh barisan filosof Taoisme berpegang pada buku ini selaku pangkal tolak dari ide-idenya sendiri.
Di Barat, Tao Te Ching jauh lebih populer ketimbang tulisan-tulisan Kong Hu-Cu atau filosof Kong Hu-Cu yang mana pun. Nyatanya, sedikitnya ada empat puluh macam terjemahan bahasa Inggris diterbitkan dari buku itu, lebih banyak dari terjemahan buku apa pun, kecuali Injil.
Sedangkan di Cina, faham Kong Hu-Cu umumnya merupakan falsafah anutan yang dominan, dan jelas ada pertentangan antara buah pikiran Lao Tse dengan Kong Hu-Cu. Kebanyakan orang Cina menganut faham yang disebut belakangan itu. Tetapi Lao Tse secara pukul rata dihargai tinggi oleh para penganut Kong Hu-Cu. Dan lebih dari itu, dalam banyak hal, ide-ide Taoisme dibaur begitu saja dengan ide-ide Kong Hu-Cu, karena itu berpengaruh terhadap berjuta-juta orang walau tidak menamakan dirinya Taoist. Begitu pula, Taoisme punya pengaruh yang jelas terhadap perkembangan filosofi Buddha di Cina, khususnya terhadap Buddha Zen. Kendati sedikit orang sekarang menyebut dirinya Taoist, tak ada seorang filosof Cina kecuali Kong Hu-Cu yang punya pengaruh begitu luas dan begitu mantap jalan pikiran manusia seperti halnya Lao Tse

Riwayat Lao Tzu

Riwayat Hidup Lao-tse

A.Sejarah Hidup Lao-tse

Pakar sejarah Huston Smit menjelaskan, bahwa Taoisme yang ada di China termasuk agama terbesar kedua dari Agama Buddha, berasal dari seorang pemikir yang bernama Lo-tse.[2] Beliau Lahir di negeri China pada tahun 640 S.M. Tidak diketahui di desa dan kabupaten mana di China dia lahir. Bahkan para sarjana juga tidak menjelaskan kapan dia meninggal dunia dan dimana dia dikuburkan. Dikatakan bahwa dia juga mempunyai orang tua, tapi juga tidak dapat diketahu siapa nama kedua orang tuanya.

Dikatakan juga bahwa dia hidup tiga abad kemudian dari tahun tersebut(640 SM), sedangkan sarjana lain meragukan tokoh yang unik ini, apakah dia benr-benar ada atau hanya dongeng saja yang berkembang dalam masyarakat China. Kata para sarjana yang meragukan keberadaan beliau, bahwa jika benar  Lao-tse itu ada dan pernah hidup di dunia, maka sama sekali tidak pernah tahu tentang siapa nama yang sebenarnya. Lao-tse, yang diterjemahkan sebagai ‘putra tua”,’sahabat tua”,atau ‘sang guru tua”, atau sering juga kita terjemahkan sebagai “guru”, merupakan gelar kecintaan dan penghormatan kepada seseorang dan bukan namanya. Demikian menurut para ssarjana yang meragukan keberadaan Lao-tse tersebut, dan diikuti oleh sebagian orang China yang tidak mempercayainya.

Dapat dikatakan bahwa Lao-tse memang benar-benar ada dan hidup pada tahun 640 SM. Tapi karena tidak banyak orang yang berjumpa dengannya, dan kurangnya bukti-bukti sejarah yang menejlaskan tentangnya, makabanyak sarjana yang meragukan keberadaanya. Berdasarkan kitab Tao-te-ching sudah dapat menjelaskan keberadaan Lo-tse didunia. Tidak mungkin ada sebuah kitab yang cukup bagus yang menjelaskan tentang kehidupan dan hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan, jika tidak berasal dari sumber yang jelas dan penulis yang bijaksana.

Diberitakan dari beberapa legenda yang berkembang didaerah sekitar Lao-Tse bahwasannya dia dilahirkan tanpa dosa,meskipun banyak yang tidak tahu betul tentang kelahirannya. Dia dilahirkan tanpa dosa sama sekali oleh sebuah meteor dan dikandung oleh ibunya selama delapan puluh dua tahun. Oleh sebab itu,ia lahir sebagai orang yang sudah tua dengan rambut dikepalanya yan sudah memutih. Dia lahir sebagai orang yang bijaksana dan penuh dengan wibawa. berita lain juga memberikan penjelasan yang berbeda,bukan menyoroti masalah kelahirannya tapi pekerjaannya. Berdasarkan berita ini,dia diceritakan memiliki pekerjaan sebagai pemelihara arsip di negaranya, yaitu disebelah barat Barat di China. Berkatnya, semua arsip-arsip Negara terjaga dengan rapi  dan tersimpan ditempat ditempat-tempat yang aman, karena dia tergolong orang yang tekun dalam mengurus persoalan kearsipan. Sudah dapat kita bayangkan bahwa pekerjaan seorang penjaga arsip tersebut tidaklah banyak mendatangkan uang, sehingga dalam hayatnya dia hidup dengan cara sederhana.[3]

Menurut Huston Smith, bahwa gambaran mengenai keseluruhn pribadi Lao-tse didasarkan pada buku kecil(tao-te-ching) yang diyakini ditulisannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada juga sebagian orang menganggap bahwa buku kecil tersebut adalah bukan ditulis oleh Lao-tse tapi orang yang hidup setelah beliau. Buku tersebut memberitakan bahwasannya Lao-tse adala petapa yang  hidup dalam kesepian dan senang menyendiri, tetapi dia adalah sosok yang humoris atau orang yang senang bergaul dan menyenangkan semua orang, sehingga disimpulkan dia memiliki dua kepribadiaan yang berbeda. Sehubungan dengan dia senang bertapa atau menyendiri, para ahli agama dan filsafat berpendapat bahwa tokoh Lao-tse ini memiliki ajaran-ajaran yang mistisem atau tasawuf dalam ajaran islam yang dipraktekkan oleh banyak fiosouf muslim dinegara-negara Timur Tengah dimasa lampau.

Di akhir riwayatnya, Lao-tse diberitakan menaiki seekor kerbau atau ada berita lain yang meng kabarkan Lao-tse menaiki seekor kud) dan pergi kea rah Barat, yang sekarang ini daerah tersebut dikenal sebagai Tibet. Di Lembah Hankao, Lao-tse bertemu dengan penjaga pintu gerbang yang mengetahui potensi ilmu yang luar biasa yang ada pada diri Lao-tse. Padahal pada saat itu Lao-tse ingin meninggalkan negeri tersebut. Akan tetapi,penjaga pintu gerbang tersebut mengizinkan Lao-tse pergi apabila enuliskan semua yang ada dipikirannya selama tiga hari ditempat asalnya baru dia diperbolehkan pergi oleh penjaga pintu gerbang. Setelah menuliskan semua pikirannya selama tiga hari,dia kembali menemui penjaga pintu gerbang perbatasan utntu menyerahkan karyanya atau buku yang kecil yang memuat 5000 huruf China yang dikenal sebagai to-te ching atau dapat juga diartikan sebagai”jalan dan kekuatannya”. Buku kecil ini dapat dibaca dalam waktu singkat dan meliputi keseluruhan ajaran Tao. Ajaran ini sampai sekarang masih tetap menjadi acuan para pengikut Tao diseluruh dunia.

Ahli sejarah China,Ssuma Ch’ien(145-860) menyatakan bahwa identitas dan sejarah pribadi Lao-tse masih misterius, seperti Tao itu sendiri.
II. Gagasan Lao-tze
Tokoh Lao-tze mempunyai ide-ide atau gagasan yang terdapat dalam Tao te Ching, yang mencakup definisi, khususnya ungkapan-ungkapan kata-kata yang terdapat dalam yijing atau yaking(kitab perubahan), yang menjelaskan teori tentang yin dan yang,yang menyebabkan terjadinya sesuatu didunia ini dan juga dapat menghancurkan satu dengan lainnya.
“Tao melahirkan satu dan satu melahirkan dua”.
Yang dimaksud dengan kata”dua”dia tas adalah yang dan yin, yang mengatur dunia, baik dunia nyata maupun tidak nyata. Yang dan Ying adalah dua aspek yang saling berlawanan dan keduanya sama-sama mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia.
            Yang bersifat terang, aktif ,laki-laki,panas,kering, dan positing, sedangkan yin bersifat gelap,pasif,perempuan,teduh,basah, dan negatif. Mereka saling melengkapi, namun hubungan mereka adalah berjenjang. Yang selalu dianggap paling besar dari pada Yin, yaitu seperti model dimana laki-laki selalu mendominasi dalam masyarakat.
Meskipun Yang dan Yin merupakan dua aspek yang selalu berlawanan namun jika mereka bersatu mereka menjadi harmonis. Yang dan Yin saling membutuhkan atau bergantung antara satu dengan lainnya, misalnya tanpa “dingin”,maka tidak ada konsep “panas”. Yin berada dalam Yang dan Yang berada dalam Yin.[4]
Sebuah model alternatif,model ini selalu dikombinasikan dengan Yang dan Yin,Yang didasarkan pada wu xing,suatu pengertian dengan berbagai cara dengan yang diterjemahkan sebagai lima elemen atau lima bagian, lima agen, lima fase atau tahap, atau lima kualitas operasional. Kayu,api,tanah,logam, dan air: wu xing berhubungan dengan lima pengertian, lima organ dalam, lima suara,lima warna,lima kebaikan,lima hubungan.
-          Mereka(Yang dan Yin) mengontrol petunjuk dalam(timur,barat,utara,selatan, dan tengah).
-          Mereka(Yang dan Yin) melahirkan yang lainnya atau yang ada dialam ini:Kayu menghiduokan api,api menghidupkan bumi,bumi menghidupkan logam, dan logam menghidupkan air.
-          Mereka juga mengontrol semua yang ada dibumi:air mengontrol api,api mengontrol logam,logam mengontrol bumi,bumi mengontrol air.[5]
Termasuk juga gagasan mengenai Chi,energy kehidupan yag dapat menyebabkan semua makhluk hidup dapat bergerak atau hidup. Pengaruh tradisi yang lain adalah dapat dilihat dalam Saman yang dapat memerintah roh-roh untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya, termasuk juga memerintahkan roh-roh untuk melakukan perjalanan,melakukan praktek-praktek kesufian atau mistisme yan g mendalam dan melakukan perenungan atau kontemplasi sebagaimana juga dilakukan oleh agama-agama lain, seperti agama budha.




II. Kitab-Kitab Suci Agama Tao

Ketika agama-agama didunia mudah untuk dipahami oleh pengikutnya dengan melalui kitab-kitab suci yang dianggap benar pada agama tersebut. Seperti agama Tao juga memiliki kitab-kitab yang dipandang suci dan dijadikan oleh penganutnya sebagai acuan dalam berbuat dan bertingkah laku. Kitab-kitab atau buku-buku yang berhubungan dengan agama Tao mencakup koleksi-koleksi dari karya-karya yang sangat luar biasa yang jumlahnya tidak terbilang banyaknya. Buku-buku tersebut meliputi karya-karya yang berhubungan wahyu atau kitab-kitab yang dianggap wahyu oleh para pengikut agama Tao, Kitab-kitab silsilah mengenai keturunan Raja-raja dan orang-orang penting, dan kitab tentang simbol-simbol yang terdapat dalam diagram-diagram suci. Buku-buku yang berkenaan dengan peraturan agama Tao jumlahnya tidak kurang dari 1445 edisi,dan terdiri dari 1120 volume. Kitab-kitab dan buku-buku yang berhubungan dengan agama Tao semakin banyak dikenal masyarakat setelah dicetak kembali pada tahun 1925.[6]
Disamping buku-buku yang berhubungan dengan agama Tao, ada juga hal-hal penting yang tidak berbentuk kitab-kitab atau buku yang terkait dengan agama dan peraturan-peraturan agama Tao, ini termasuk dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan agama. Selain dokumen-dokumen, karya lain mengenai agama Tao para ahli juga menjumpai tulisan-tulisan yang berkaitan dengan agama yang terpahat-pahat dibatu-batu dan ditembaga-tembaga kuno. Batu-batu dan tembaga-tembaga yang menyimpan dokumen-dokumen penting tersebut dapat dijumpai digua-gua,gunung-gunung, dan tempat ibadah orang China..
Bermula dari sebuah kisah yang menerangkan bahwasannya Lao-tze membeli sebuah kereta kecil yang ditarik oleh seekor sapi hitam dan dengan keretanya itu, ia menuju ke daerah Chu, akan tetapi ketika melintas diperbatasan, seorang penjaga mengenalnya yaitu Penjaga perbatasan yang bernama Yin Shi menegurnya,"Tuan selalu menyukai hidup sebagai orang pertapa, akan tetapi Tuan tak pernah menulis ajaran-ajaran Tuan. Sekarang Tuan ingin meninggalkan daerah ini,pelajaran Tuan akan dilupakan orang,maka dari itu saya tak akan mengijinkan Tuan menyebrang sampai Tuan selesai menulis pokok-pokok ajaran Tuan"
            Akhirnya untuk memenuhi permintaan itu, Lao-tze tertahan diperbatasan tersebut untuk menulis ajarannya dalam 5000 kata-kata yang terbagi 81 syair pendek, yang kemudian syair-syair tersebut disebut dengan Tao te Ching. Lao tze kemudian menyerahkan tulisannya kepada Yin Hsi dengan mengatakan bahwa:"Inilah yang harus saya ajarkan, sekarang izinkanlah saya meninggalkan tempat ini.[7]
Setelah Yin Hsi membacanya, ia meletakkan tulisan tersebut diatas meja rumah penjagaan perbatasan tersebut dan kemudian ia kembali kepada Lao tze dan mohon diperbolehkan mengikuti sebagai pengawal dan sekaligus menjadi muridnya yang pertama. Setelah kejadian ini, baik Lao-tze maupun Yin Hsi tidak muncul-muncul lagi, seolah mereka tidak pernah hidup, akan tetapi bukunya"Tao te Ching"tetap dipelajari.
Kitab Tao te Ching tersebut merupakan pemikiran dari Lao-tze yang dijadikan buku pedoman moral dan etika bagi banyak orang. Sebagian orang atau para ahli ada yang menganggap bahwa ada kemungkinan Lao-tze merupakan tokoh mitologi yang tidak pernah dijumpai oleh kebanyakan orang didunia ini, karena kisah-kisah seputar dia sangat unik yang tidak pernah dijumpai oleh kebanyakan orang didunia ini. Kemungkinan-kemungkinan seperti ini  juga sulit untuk dibuktikan, karena kesulitan untuk menemukan data untuk membuktikan hal tersebut.
Berdasarkan ajaran Tao te Ching bahwa kehidupan yang abadi ditemukan dalam kehampaan. Dari kehampaan bersemi kegunaan. Ruang kososng didalam gelisalah yang membuat gelas itu menjadi bermanfaat untuk orang banyak, karena tanpa ada ruang kosong didalamnya, maka gelas tersebut tidak akan dapat diiisi dengan air, dan akhirnya tidak akan bermakna bagi semua orang. Kitab suci tao te Ching adalah kesusasteraan yang paling tinggi, baik dalam segi gaya maupun dalam segi kaligrafi.
Sealin kitab Tao te Ching, kita juga dapat mengenal kitab lain dalam agama Tao, yaitu Chuang_Tzu atau Zhuangzi merupakan kumpulan tiga puluh tiga bab esai yang terbagi menjadi tiga bagian: Bab dalam(nei-p"ien). Bab luar(wui-p"ien0. dan bab lain(tsa-p"ien), sebagaimana banyak naskah kuno yang lain. Chuang-Tzu yang kita miliki sekarang ini kurang lengkap. Kitab Chuang-Tzu yang ada sekarang ini ada kemungkinan disatukan pada awal abad ke-4. Pada masa dinasti T'ang,status Chuang_Tzu terangkatnketika kitab ini menjdai satu dari tiga kitab klasik agama Tao, bersama dengan Tao-te Ching dan Lieh-tzu.[8]
Chuang –tzu atau Zhuangzi, dianggap oleh para ahli sebagai kedua karya terbesar dari filsafat Taoisme.Kitab ini diberi nama oleh pengarangnya pada abad ke-4SM, Zhuangzi(guru Zhuang), dan nama lain dari Zhuangzi adalah Zhuan ho. Kitab ini lebih banyak diperuntukkan untuk rakyat jelata sebagai pedoman hidup mereka, daripada para penguasa. Zhuangzi yang juga dikenal sebagai nama penulisnya, dikenal sebagai tokoh yang senang mewujudkan Tao yang tidak terbatas dalam dirinya, guna untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup ini. Dia melihat realitas alam dan menggambarkan alam sebagai sesuatu yang tidak terbatas atau kekal yang ada di ala mini dengan cara yang berbeda-beda. Dia juga melihat bahwa perubahan-perubahan ang terjadi dalam hidup ini dan juga dalam kematian sebagai perpaduan dengan Tao atau tidak terlepas dari unsur Tao. Kitab Zhuangzi juga bicara tentang keabadian dan kekekalan hidup kesempurnaan individu atau orang –orang yang hidup di atas gunung-gunung, mencari makanan disekielilingnya, menghirup embun pagi, udara segar, dan engalaman diatas gunung yang sangat menyenangkan adalah suatu tindakan yang tidak dapat dilupakan dan membentuk kepribadian mereka. Semua ide-ide yang terkandung dalam kitab ini menjadi sangat penting bagi tradisi keagamaan Taoisme diseluruh dunia.[9]
            Pemikiran Zhuangzi yang tertuang didalam kitabnya(yang juga disebut kitab Zhuangzi atau Chuang-zhu) ditulis dalam tujuuh bab, sedangkan pemikiran yang lain ditulis sebanyaka dua puluh enam bab yang barangkali merupakan karya bagi para murid-muridnya yang sangat cerdas dan bijaksana.
Selain Tao te Ching, Zhuang zi, ada lagi dua karya kefilsafatan Taoisme yang besar lainnya yang ditulis pada abad ke-2SM. Kedua Karya kefilsafat Taoisme tersebut adalah Huainanzhi(guru huainan) dan lei zhi(kira-kira ditulis pada abad ke-3  SM sampai pada abad ke-4M). Kitab Huananzhi menjelaskan bagaimana waktu, alam, dan tindakan manusia satu dengan lainnya dapat saling berhubungan,ketergantungan, sehingga sulit untuk dipisahkan diantara mereka. Kitab Lie ezi menjelaskan mengenai Tao dan perubahan-perubahannya sepanjang sejarah, serta menjelaskan tentang penciptaan alam ini.
Kitab Liezi atau Lieh-tzu, juga dianggap sebagai kumpulan cerita dan hiburan-hiburan dalam filsafat. Kitab ni juga berisikan bahan-bahan yang ditulis selama 600 tahun(berkisar antara 300 SM sampai dengan 300M). Dalam karya aslinya, kitab ini terdiri dari 20 bagian. Dari ke-20 bagian ini kemudian dipadatkan lagimenjadi 8 bagian seperti yagng dapat dijumpai saat ini. Ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab ini dianggap hanya untuk memahami agama Tao pada masa negeri-negeri yang berperang dan kebudayaan-kebudayaaan yang berkembang pada awal kekuasaan dinasti Han.[10]

Selain kitab Tao te Ching,Zhuangzi dan Leizi, ada buku yang tak kalah amat pentingnya juga yaitu Bao Puzi guru yang berpenampilan sedrehana) oleh Ge Hong, yang ditulis pada tahun 230M. Ge Hong adalah anggota keluarga dari kaum ningrat yang berasal dari bagian Selatan China. Karya ini difokuskan untuk menjelaskan tentang waktu-waktu dan tempat-tempat untuk melakukan ibadah atau meditasi. Dalam buku tersebut ada pengaruh jug dalam ilmu Fangsi atau laki-laki dengan makanan', dan tradisi Shaman yang cukup berkembang di China bagian Selatan. Kitab Bao Puzi dibagi dalam dua bagian atau bab, yaitu bab pertama adalah bab"bagian dalam' yaitu bab yang dikhususkan untuk kalangan tokoh-tokoh Tao tertentu saja, dan kedua adalah bab"bagian luar", yaitu bab-bab yang menjelaskan tentang etika konfisius. Bbab-bab bagian dalam berkaitan dengan methode-methode dan tekhnik-tekhnik untuk mencapai keabadian, atau kehidupan yang kekal, termasuk juga penciptaan obat untuk memperoleh keabadiaan yang berasal dari zat-zat mineral. Sedangkan bab-bab dibagian luar berkaitan dengan adat-istiadat masyarakat dan tingkah laku manusia didunia ini,khususnya adapt orang China. Di dalam kitab tersebut juga dijelaskan mengenai moral,kebijaksanaan, dan keabadian hidup.
Pada Abad ke-15,kitab peratutan agama Tao dikelompokkan menjadi tiga bagian. Hal ini dilakukan dikarenakan untuk mempromosikan kitab-kitab Budhisme, yang tumbuh dengan cepat dan popular pada saat itu. Tiga bagian dari kitab-kitab ini mewakili tiga kelompok tradisi agama Tao yang berkembang pada saat itu, yaitu: Shangqiang, Lingbao dan Sanhuang(tiga raja yang berkuasa). Bagian-bagian lain dari kitab tersebut, tidak ada hubungan dengan karya-karya kelompok-kelompok sebelumnya. Tergolong dalam kelompok-kelompok ini adalah Celestial Master 9guru-guru Surga), yang kemudian hari semakin berkembang didaratan China.[11]
Keagamaan Taoisme dipandang mencakup unsure-unsur ketuhanan,penciptaan,kematian dan persoalan etika. Ada juga persoalan yang berkaitan dengan emanasi yang dijelaskan dengan panjang lebar, seperti contohnya bahwa manusia hidup karena ada nafas(yuangi yang ada pada gerakan pertama Tao. Yang pada akhirnya KELOMPOK KEAGAMAAN Tao berawal dengan guru-guru surga Celestial amster ang dipandang sebagai perwujudan Tao diatas muka bumi ini. Seorang penerima wahyu yang cukup terkenal adalah Yang xi, yang dimasukki oleh sejumlah roh-roh para tokoh-tokoh
agama Tao yang terjadi antara tahun 364 dan 370M. Yang xi membuat kitab suci dianggap datang dari langit yang paling tinggi Shanging, dan kitab-kitab ini menjdai pedoman bagi kelompok Shanging. Karya-karya Yang xi yang sangat bagus, yang tersebar ke seluruh masyarakat, bukan saja bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga dapat menungkatkan wibawanya dimata masyarakat.
Kitab-kitab yang lain, seperti kitab klasik tentang perdamaian besar(taiping ling) dari kelompok serban kuning(yellow turban0 memasukkan ajaran-ajaran Tao ke dalamnya, dan mengharapkan keselamatan dari Tuhan Lao atau Laozi, atau seorang yang hadir ditengah-tengah masyarakat, dapat menjadi pelayan dimasa perdamaian, mendatangkan kemakmuran dan umur panjang.
Dalam agama Tao, alam yang luas ini dipandang sebagai makrokosmos, sedangkan badan manusia dipandang sbagai mikrokosmos atau bagian dari alam yang sangat besar. Keduanya saling berhubungan dan saling pengaruh mempengaruhi. Jadi, kitab-kitab atau buku-buku topografi juga menjelaskan mengenai peta langit,bumi, dan gua yang terdapat dibawah tanah. Termasuk hal yang penting lainnya, yang tidak hanya untuk garis lintang bumi,perjalanan, meliat alam, tapi juga untuk memetakan alam dari badan kita. Sebab tubuh manusia itu sendiri adalah bagian dari alam yang cukup besar.[12]

IV. KESIMPULAN
            Riwayat hidup Lao-tze menggugah para ilmuan untuk mengali lebih dalam tentang diri-nya. Dari berbeda-beda penafsiran sejarah periwayatannya,bahwasannya beliau merupakan tokoh sejarah yang sangat mempengaruhi bangasa China pada umumnya. Dari kitab Tao te Ching yang berisi gagasan-gagasan yang dapat menjadi pedoman bagi umat Tao di China dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian Sejarah hidup Lao-tze sangat penting untuk diketahu bagi para mahasiswa dan mahasiswi agar mempunyai wawasan yang luas mengenai perjuangan seorang tokoh penjaga arsip yang mempunyai pemikiran yang hebat di eranya.









[2] M. Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta:Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press.2006,cet 1, h. 69





[4] M.Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press 2006,hal.75-76


[5] Ibid hal92

[6] M.Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press 2006,hal.75-76

[7] Prof.HM.Arifin.M.ed, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar.Jakarta:Golden Trayon Press 1986,hal. 38

[8]M.Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press 2006,hal 81-82

[9] M.Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press 2006,hal 83

[10] Ibid hal 84

[11] M.Ikhsan Tanggok,Mengenal Lebih Dekat Agama Tao. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press 2006,hal86