Pendahuluan
Kajian tentang Taoisme dalam ranah agama-agama menjadi topik yang
cukup menarik, mengingat sejarah perjalanan Taoisme yang pernah kita
baca penuh dengan pesan-pesan kebajikan dan tuntunan hidup bagi ummat
manusia. Memahami Taoisme sebagai sebuah jalan keutuhan, keseimbangan,
dan keserasian. Sebagaimana agama-agama lain, Taoisme turut serta dalam
memberikan sumbangan pemikiran tentang harmonisasi alam semesta dengan
tetap mengedepankan prinsip-prinsip keseimbangan alam guna mencapai
kedamaian dunia. Itulah sebabnya, Taoisme lebih bersifat filosofis
ketimbang agamis, karena memang Taoisme merupakan jalan untuk
menciptakan dan mengarahkan perubahan, bukan sebaliknya menentang dan
meresistensi perubahan itu sendiri.
Taoisme dianggap jalan hidup yang diyakini mampu menciptakan
kesadaran universal bagi ummat manusia. Sejarah telah mencacat, bahwa
pemikiran tentang Taoisme erat kaitannya dengan mutiara-mutiara hikmah
yang dapat kita petik sebagai pelajaran yang mencerahkan dalam
lapisan-lapisan primordial pemikiran manusia. Kita menghendaki adanya
suatu kebajikan yang mampu mengubah situasi sulit menjadi lebih mudah,
dan karena itu dibutuhkan jalan kesederhanan guna menumbuhkan kesadaran
imajiner dalam pikiran manusia itu sendiri. Tao layak dipelajari dan
dikaji secara lebih mendalam, mengingat di dalamnya terbingkas pesan
spiritual yang mengandung nilai-nilai filosofis bagi terciptanya
kedamaian dunia.
Macam-Macam Pengertian Tao
Tao adalah sumber segala sesuatu. Ia tak bernama, tak dapat dilihat,
dan tidak dapat dipahami. Ia tak terbatas dan tidak dapat habis atau
musnah. Apa yang disebut dengan Tao ini, telah mengatasi segenap
perubahan dan permanen. Pengertian mengenai Tao tersebut terdapat pada
kutipan berikut ini: "Tao yang dapat dibicarakan, bukanlah Tao yang
sebenarnya atau yang abadi; dan nama yang dapat diberikan, bukanlah nama
yang sejati." (Tao Te Cing 1:1)[1]
Menurut bahasa arti Tao adalah “jalan”, “cara”, atau “akal”. Bahkan
ada juga yang mengartikannya sebagai “kata-kata suci”. Namun secara umum
terdapat tiga arti untuk memahami arti Tao atau “jalan” ini, yaitu
sebagai berikut:
- Tao diartikan sebagai jalan dari kenyataan terakhir.
Pada dasarnya makna Tao hanyalah sebagai bahasa kiasan agar
manusia dengan mudah bisa memahaminya. Tao merupakan sesuatu yang berada
di luar jangkauan manusia yang tidak dapat diraih. Tao adalah sesuatu
yang menjadi dasar bagi semua yang ada danmelebihinya, baik itu dari
segi pemikiran ataupun penglihatan. Tao dalam arti pertama ini hanya
dapat dirasakan melalui kesadaran mistik. Bukan melalui kata-kata
semata.
- Tao diartikan sebagai jalan alam semesta.
Tao di sini berfungsi sebagai kaidah, irama, dan kekuatan dari
semua yang ada. Berbeda dengan pengertian Tao di atas, yang hanya bisa
dirasakan melalui mistik, Tao di sini bisa diartikan sebagai sesuatu
yang bisa melakukan penyesuaian atau penyerupaan. Tao bukanlah suatu
benda, ia adalah berupa roh yang sama sekali tidak dapat dimusnahkan.
Tao bersifat sangat bermurah hati terhadap alam dan juga kepada
manusia.[2] Walaupun pada akhirnya tao itu transenden, namun ia
sekaligus juga imanen
- Tao diartikan sebagai suatu petunjuk atau cara manusia dalam menata hidupnya.
Tao di sini mempunyai fungsi sebagai jalan yang ditujukan bagi manusia agar bisa selaras dengan alam semesta.[3]
Sejarah Awal Tao
- 1. Kosmologi Orang China
Yang dimaksud kosmologi di sini adalah kosmologi orang China,
alam yang dilihat sebagai wadah (tempat) dan isinya terdiri dari
benda-benda nyata atau tampak dan benda-benda tidak nyata atau gaib
sebagai unsure-unsurnya yang dihidupkan oleh berbagai kekuatan yang
mereka kenal dengan sebutan dewa-dewa dan roh-roh. Alam ini mepunyai
suatu pusat yang dikenal oleh orang China dengan sebutan Thian (Tuhan
Yang Maha Esa). Thian mempunyai kekuasaan cukup luas yang meliputi
seluruh ala mini. Oleh karena itu, orang China memuja serta memohon
sesuatu kepada zthian dengan menghadap ke langit sebelum mereka memuja
dewa-dewa dan roh-roh leluhur. Pemujaan terhadap Thian haruslah
didahulukan dari pemujaan dewa-dewa dan roh-roh leluhur, karena dia
dipandang sebagai pencipta segala yang ada di dunia ini.
Dalam kitab li-khi (kitab atau buku upacara) dikatakan bahwa “ segala
sesuatu yang ada di dunia nyata maupun di dunia tidak nyata berasal
dari langit (Thian) dan semua manusia berasal dari leluhur”, artinya
manusia di dunia mempunyaipendahulu yang melahirkan dan yang membesarkan
mereka. Langit sebagaimana dikatakan oleh C.K. Yang adalah kekuatan
yang maha tinggi di dunia yang secara langsung menggerakkan dunia nyata
dan yang gaib atau tidak nyata. Ada pembagian secara umum di dalam dunia
tidak nyata, yaitu pada tingkat tertinggi dari roh-roh dan berada di
bawah Thian adalah dewa-dewa (shem), tiap-tiap dari mereka mempunyai
fungsi-fungsi tetentu dalam dunia. Pada tingkat yang lebih rendah dari
dewa-dewa sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa roh-roh (p’o) dan
hantu-hantu (kuei) yang berkuasa atas benda-benda secara umum dalam
dunia tidak nyata. Berdasar kosmologi orang China, setiap unsur alam
dihidupkan dan dikuasai oleh salah satu dari berbagai jenis kekuatan
yang menguasai unsure-unsur alam tersebut. Alam ini diisi oleh hal-hal
yang baik dan yang buruk, sesuai dengan kekuatan yang menghidupi
unsure-unsur kehidupan, pertumbuhan dan kemakmuran. Dalam bentuk tidak
nyat, oleh orang China dikenal sebagai roh-roh dan dewa-dewa pelindung
keluarga dan manusia umumnya. Ada dewa-dewa pelindung yang selalu mereka
puja, seperti dewa pelindung empat penjuru (dewa dapur, dewa bumi, dewa
murah rejeki, dewa pelindung keluarga) dan juga ada dalam bentuk
roh-roh, seperti roh-roh leluhur. Menurut ajaran Konfusius bahwa “empat
penjuru alam dan lautan bersaudara bersatu.” Setiap penjuru alam dan
lautan tersebut memiliki penguasa, yang disebut dewa-dewa. Oleh karena
itu, mereka harus diperhatikan dan dipuja dalam upacara-upacara,
khususnya upacara kematian.
Roh-roh sebagaimana disebutkan di atas tidak hanya sekedar dipuja,
tetapi juga dapat dianggap menghidupkan sesuatu atau dapat juga dianggap
menambah kekuatan yang ada dalam diri manusia.contohnya manusia mereka
dapat memilik kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya, seperti dapat
berdiri di atas pedang, memiliki kekebalan dapat mengobati orang lain
dan lain-lain. Ketika tubuh mereka dimasuki roh yang yang memiliki
kekuatan orang ini umumnya disebut loya atau dukun.
Baik dewa-dewa maupun roh-roh dipandang orang China memiliki kekuatan
yang melebihi kekuatan manusia. Jika salah satu kekuatan ini
menghidupkan salah satu unsur yang ada dalam alam, maka unsur tersebut
menjadi kuat atau bertambah kekuatannya. Kekuatan-kekutan yang ada di
dunia tidak nyata dan juga mempunyai sifat-sifat yamg baik dan buruk.
Jika salah satu unsur yang ada di ala mini diisi atau dihidupkan oleh
kekuatan jahat, maka dia akan menjadi jahat.
Suparlan mengatakan bahwa “ kekuatan jahat mempunyai fungsi yang
dapat menyebabkan ketidakteraturan atau kekacaubalauan di dalam alam,
yaitu kehidupan dan pertumbuhan kehidupan manusia yang tidak menentu,
yang dapat menyebabkan sakit, kemalangan, malapetaka, dan semua
jenis-jenis yang tidak harmoni lainnya dan keadaan yang tidak teratur.
Hal yang sama juga berlaku dalam kosmologi orang China bahwa kekuatan
jahat dapat menyebabkan hidup ini menjadi tidak teratur, seperti sakit,
usaha seseorang menjadi gagal, miskin, kehidupan rumah tangga menjadi
berantakan, dan lain-lain. Selain kekuatan jahat, roh-roh leluhur juga
dapat menyebabkan kehidupan menjadi tidak teratur, jika mereka tidak
diperhatiakan oleh anak cucunya di dunia atau mereka tidak memiliki
keturunan yang dapat memperhatikan mereka, sehingga menjadi roh-roh yang
bergentayangan di dunia dan dapat menaganggu kehidupan keluarga dan
manusia lainnya. Sembahyang pada bulan ke-7 Imlek (shi ku) yang
dilakukan oleh orang-orang China setiap tahunnya dengan mempersembahkan
berbagai makanan dan korban adalah salah satu usaha untuk menenangkan
roh-roh yang bergentayangan atau memberi makan roh-roh yang lapar ini
agar mereka tidak mengganggu manusia dan kembali ke alamnya dengan
tenang.
Berdasarkan kosmologi orang China yang juga mengacu pada ajaran Tao
yang dipelopori oleh Lao Tze (lahir 604 SM) dan dikembangkan lebih
lanjut oleh konfusius (551-497 SM), bahwa ketidakteraturan (dapat berupa
sakit)dalam diri manusia tidak semata-mata disebabkan oleh gangguan
dari roh-roh jahat yang ada di luar diri manusia, tapi juga ada yang
disebabkan oleh ketidak seimbangan antara unsure Im atau yin (bumi,
buruk, gelap) dan yang (langit, baik, terang) yang terdapat dalam diri
manusia. Keduanya harus diseimbangkan, sehingga seseorang bisa menjadi
teratur dan sembuh dari penyakitnya. Untuk mengetahui apa yang
menyebabkan seseorang sakit, apakah disebabkan oleh pengaruh roh jahat,
atau ketidakseimbangan antara unsur yin dan yang dalam dirinya, maka
diperlukan bantuan seorang dukun atau dapat juga melalui bantuan seorang
ahli feng shui. Setelah ditemukan penyebabnya, maka seorang dukun atau
seorang ahli feng shui dapat menentukan obatnya atau dengan cara
menyeimbangkan kedua unsure ying & yang sehingga keadaan seseorang
menjadi teratur kembali. Sebagai balasannya, seorang dukun atau seorang
ahli feng shui mendapat upah dari pertolongan yang dia berikan kepada
orang lain.
Pengaruh yin & yang tidak hanya terdapat dalam diri manusia,
tetapi juga terdapat dalam rumah, tempat usaha, kuburan orang mati dan
lain-lain. Jika ketidak seimbangan antara yin dan yang terdapat dalam
kuburan, maka dapat berpengaruh pada orang yang mati, seperti ketidak
tenangan roh-roh mereka yang tinggal di kuburan tersebut. Akibatnya juga
akan berpengaruh pada kehidupan keluarga mereka yang masih hidup,
seperti sakit, mendapat malapetaka, dan bentuk-bentuk ketidakteraturan
lainnya. Pemujaan dan pemberian makan kepada leluhur adalah salah satu
usaha untuk menyeimbangkan pengaruh baik dan pengaruh buruk tersebut.
Disamping usaha-usaha lain yang dilakukan oleh dukun.
Melalui perantara dewa-dewa, roh-roh leluhur dan roh orang setempat,
seseorang juga dapat memberikan pertolongan pada orang lain seperti
halnya loya atau dukun. Loya adalah manusia biasa, oleh karena itu, dia
tidak dapat menolong orang lain tanpa bantuan dari roh-roh dan
dewa-dewa. Melalui kesurupan, roh-roh itu dipanggil untuk masuk dalam
dirinya, maka seorang loya menjadi kuat dan dapat memberikan bantuan
atau pertolongan pada orang lain.
Salah satu bantuan dari loya adalah agar seseorang terhindar dari
gangguan roh-roh jahat, dan untuk itu dia menggunakan jimat atau phu
yang mereka buat sendiri. Sebagai balasannya, orang yang menerima phu
dapat membayar pada loya dengan harga yang tidak ditentukan atau atas
dasar “sukarela” atau “seikhlasnya”. Dalam jimat itu, menurut keyakinan
orang China ada suatu kekuatanyang dapat membuat roh-roh jahat tidak
dapat menganggu seseorang yang ingin dia sakiti atau celakakan sehingga
dapat menhindarkan anggota keluarga yang ada dalah rumah dari bahaya.
Phu ini tidak hanya disimpan dalam kantong baju, celana dan dompet
seseorang sebagai penjaga dirinya, tapi dapat juga digantungkan di depan
pintu masuk rumah 9dalam bentuk secarik kertas kuning atau merah yang
ditulis dalam bahasa Mandarin) sebagai penjaga rumah. Kekuatan seseorang
akan hilang apabila jimat itu hilang atau tidak lagi menempel pada
dirinya. Demikian juga kekuatan jimat itu akan hilang apabila jimat phu
tersebut dibawa ke tempat-tempat yang kotor, seperti tempat pelacuran.
Tidak hanya manusia, jika kendaraan (mobil atau motor) dibekali dengan
phu, maka kendaraan tersebut dapat terhindar dari curian orang lain.
Jimat menjadi kuat apabila dia dimasuki roh-roh yang memberikan kekuatan
padanya.
Menurut orang China bahwa manusia lahir sudah dibekali oleh dua hal,
yaitu nasib dan sifat. Nasib dan sifat adalah pemberian dari Tuhan yang
dibawa sejak manusia itu lahir. Nasib bagi mereka bisa dirubah sendiri
oleh manusia, asalkan manusia banyak berbuat baik dalam hidupnya,
melalui pendidikan, pelatihan dan kerja keras. Berbuat baik itu bisa
berbentuk rajin sembahyang di klenteng atau pekong atau berbuat baik
kepada sesama manusia, seperti membantu seseorang yang dalam kesusahan
dan sebagainya.
Bila seseorang sudah ditentukan Tuhan nasibnya menjadi orang miskin,
dia dapat mengatasi persoalan dengan belajar dan kerja keras. Dengan
kerja keras, dia bisa menjadi orang kaya. Jika nasib bisa diubah oleh
manusia itu sendiri, sebalinya sifat tidak bisa dirubah. Sefat itu
misalnya pemarah, angkuh atu sombong, pemalas dan sebagainya. Nasib
seseorang bisa diketahui dari seorang yang pandai dalam bidang meramal
seseorang.
Menurut orang China bahwa nasib seseorang dapat juga disebabkan oleh
perbuatan orangtuanya yang terdahulu (karma), sehingga harus ditanggung
oleh anaknya. Jika orangtua senang berbuat baik, maka anaknya yang lahir
juga menjadi baik atau dermawan kepada orang lain, begitu pula
sebaliknya. Orang China selalu melihat kejadian masa sekarang dengan
mengacu pada kejadian masa lalu.masa lalu, masa sekarang dan masa yang
akan datang selalu ada keterkaitannya.
Disamping melalui ahli ramal, nasib seseorang juga dapat diketahui
ketika seseorang sudah tua, yaitu ketika dia tidak sanggup lagi untuk
bekerja. Jika orang pada masa mudanya hidup dengan banyak harta, setelah
tua hartanya dihabiskan oleh anak-anaknya, sehingga dia menjadi miskin
di masa tua, maka oleh orang China, kasus semacam ini disebut soi atau
nasib sial. Sebalinya, jika seseorang di masa mudanya miskin, namun
karena nak-naknya dapat membalas budi orangtuanya dengan memelihara dan
merawat orangtuanya dengan baik di masa tuanya, maka nasib seseorang
dikatakan bagus di masa tua dan tidak baik di masa muda atau oleh orang
China disebut hokki (mendapat keberuntungan).
Orang Cina juga meyakini bahwa orang miskin tidak semsts-msts
disebabkan oleh nasib dan kurang maksimalnya seseorang dalam mencari
rezeki, tapi dapat juga disebabkan oleh kerakusan leluhur mereka di masa
lalu, karena rejeki yang semsetinya milik dari anak-anaknya sudah
dihabiskannya sebelum dia (leluhur mereka) meninggal dunia. Sehingga
tidak ada lagi kesempatan bagi anak cucu mereka untuk menikmati kekayaan
tersebut. Jadi, apa yang menyebabkan anak cucu menderita di dunia atau
di masa kini dan yang akan datang, juga akibat dari leluhur mereka di
masa lalu.
Disamping nasib seseorang di dunia sudah ditentukan oleh Tuhan, orang
China, mengartikan orang kaya atau orang yang setelah kematian orang
tua mereka kehidupannya menjadi makmur dan usahanya lancer sebagai
symbol dari kehidupan orangtuanya atau leluhur mereka di dunia roh yang
baik bahagia dan tidak mengalami kesulitan apapun atau serba kecukupan.
Kegagalan dalam usaha, kemiskinan dan nasib buruk yang selalu menimpa
manusia diyakini sebagai tanda dari kehidupan orangtua atau leluhur
mereka di dunia lain yang menderita, yang dapat menyebabkan keturunan
mereka juga menderita di dunia. Agar leluhur mereka hidup dengan tenang
di dunia lain, diperlukan perhatian khusus dari keluarga yang hidup.
Perlakuan khusus tersebut dapat berupa pemujaan dengan
mempersembahkan makanan dan minuman kepada mereka (roh-roh leluhur).
Kebahagiaan leluhur mereka di dunia roh tergantung dari usaha yang
dilakukan oleh keturunannya di dunia. Sebaliknya, keberhasilan anak
cucunya di dunia tidak semata-mata atas usaha keras mereka, tapi juga
dipengaruhi oleh leluhur mereka yang ada di dunia roh. Sebagian orang
China juga percaya adanya suatu kekuatan di luar Tuhan atau Thian yang
dapat dijadikan pegangan dalam hidup jika mereka mendapat suatu masalah.
Pegangan selain Thian ini mereka sebut dengan Thok atau Ci Thok (dialek
Hakka), yang artinya ada suatu pegangan buat mereka untuk meminta
pertolongan selain pada Thian dan leluhur.
Mereka menganggap bahwa Thian jauh, dan mereka mencari wakil-wakil
Thian di dunia ini untuk menghubungkannya kepada Thian. Ini biasanya
bermula dari anak mereka yang jatuh sakit, yang apabila secara medis
tidak memperoleh kesembuhan, mereka akan mendatangi seorang loya
(dukun). Dalam proses pengobatan tersebut loya menyarankan agar mereka
meminta bantuan pada seorang dewa atau roh-roh halus lainnya yang
dipelihara oleh dukun untuk membantunya dalam pengobatan. Setelah
melakukan apa yang disarankan oleh dukun, ternyata orang yang sakit
sembuh. Mulai saat itulah, melalui proses upacara, dukun memindahkan
duplikat patung dewa yang menjadi peliharaan dukun kepada orang yang
sakit untuk dipelihara di rumahnya, sebagai dewa pelindung keluarga.
Artinya, dewa tersebut berfungsi melindungi anggota keluarga dari
gangguan roh-roh jahat yang dapat menyebabkan anggota keluarga menjadi
sakit dan bentu-bentuk keburukan lainnya.
Ada beberapa dewa yang biasa dijadikan orang China sebagai pelindung
hidupnya, diantaranya: dewi khuan im, dewa sun go kong dan datu-datuk
(roh-roh yang berasal dari orang Melayu dan Dayak). Setelah patung dari
dewa-dewa itu ditempatkan di rumah, maka ada kewajiban bagi mereka untuk
melakukan pemujaan setiap hari dan pada hari-hari besar orang China,
seperti Imlek, Cap Go Meh, dll.[4]
- 2. Sejarah Perkembangan Taoisme
Taoisme adalah agama yang selalu mengalami perkembangan dan
evolusi, sehingga selain sulit untuk menentukan waktu kelahirannya, juga
sulit untuk menentukan batas-batasnya. Sehingga Livia Kohn mengatakan:
"Taoisme tidak pernah merupakan suatu agama yang terpadu, dan terbentuk
dari kombinasi [berbagai] ajaran yang didasarkan atas beraneka macam
sumber asli" (lihat buku karyanya yang berjudul "Taoist Mystical
Philosophy: The Scripture of Western Ascension," Albany: State
University of New York Press, 1991) Meskipun tidak dapat menentukan
tanggal yang pasti dari kelahiran Taoisme, namun untuk mengetahui asal
muasalnya kita dapat kembali pada 5000 tahun yang lalu, tatkala
sekelompok suku berdiam di tepi Sungai Kuning (Huang He) di Tiongkok
Utara.
Suku bangsa ini masih belum memiliki identitas kebangsaan. Mata
pencaharian sehari- hari mereka adalah berburu, memancing, memelihara
ternak, serta bercocok tanam gandum dan padi-padian. Pada masa itu
mereka masih harus menaklukkan kekuatan-kekuatan alam, seperti amukan
Sungai Kuning atau hewan-hewan buas yang memangsa ternak mereka. Legenda
menyebutkan mengenai pemimpin-pemimpin mereka (kepala suku) yang
memiliki kekuatan gaib luar biasa, di mana pemimpin- pemimpin tersebut
mampu menaklukkan kekuatan gaib serta banjir Sungai Kuning.
Salah satu pemimpin tersebut adalah Yu. Legenda mengatakan bahwa Yu
tidak memiliki ibu dan ia muncul secara langsung dari tubuh ayahnya yang
bernama Kun. Saat itu Kun ditugaskan oleh pemimpin suku bernama Shun,
untuk menanggulangi banjir Sungai Kuning. Ketika gagal Kun dihukum mati
dan mayatnya dibiarkan tergeletak pada sisi gunung. Sementara itu selama
tiga tahun, Yu berada dalam tubuh ayahnya yang sudah meninggal.
Ajaibnya, ternyata Kun dapat hidup kembali dan menjelma menjadi seekor
beruang coklat, ia membelah perutnya sendiri dan mengelurkan putranya,
Yu Dengan segera, Yu berubah menjadi beruang pula dan legenda mengatakan
bahwa selama hidupnya Yu berubah-ubah wujudnya antara manusia dan
beruang. Pada masa Dinasti Zhou, kira-kira seribu tahun setelah masa Yu
yang legendaris, para pendeta masih berpakaian kulit beruang dan
menari-nari seperti beruang untuk menghormati Yu yang Agung.Kalau bicara
beruang ,masih ada hubungan dengan marga Huang Di yaitu Xiong dan
kerajaannya disebut Xiong juga alias beruang.Kisah selanjutnya
menyebutkan keberhasilan Yu di dalam menyelesaikan tugas yang gagal
diselesaikan oleh ayahnya, yakni menanggulangi banjir.
Keberhasilan ini dikarenakan ia diberi sebuah buku berjudul Shuijing
(Kitab Kekuatan atas Air) oleh para makhluk-makhluk suci. Dikisahkan
pula bahwa Yu mengadakan perjalanan secara teratur ke langit untuk
mempelajari sesuatu dari para makhluk-makhluk kedewaan yang berdiam di
angkasa (celestial spirit). Yu tidak hanya dapat berubah menjadi
binatang, namun ia mengerti pula bahasa mereka. Shun, sebagai pemimpin
pada masa itu pada akhirnya menyerahkan kekuasaannya pada Yu. Ketika
banjir telah berhasil ditanggulangi, Yu melihat seekor kura-kura
merangkak keluar dari sungai. Pada punggungnya terdapat gambar yang
disebut dengan Loshu Bagua, yang menggambarkan perubahan serta
transformasi yang terjadi di alam semesta ini. Pola ini menjadi dasar
bagi teknik peramalan di Tiongkok pada masa-masa selanjutnya hingga
kini.
Legenda-legenda yang dihubungkan dengan Yu memperlihatkan bahwa ia
merupakan seorang shaman. Mircea Eliade dalam studinya mengenai
shamanisme menyebutkan hal-hal berikut, yang merupakan pengalaman
spiritual umum seorang shaman: terbang ke langit, melakukan tarian untuk
mendatangkan kekuatan (seperti yang dilakukan dukun Indian Amerika
serta suku-suku di Afrika), penerimaan pesan- pesan dari para makhluk
suci, kemampuan untuk berbicara dengan hewan, kekuatan atas unsur-unsur
alam, penyembuhan, serta pengetahuan mengenai tanaman obat-obatan.
Pada kenyataannya, masyarakat Tiongkok kuno pada jaman ini memiliki
sekelompok orang yang disebut "wu." Tugas mereka menyerupai tugas-tugas
seorang shaman. Dari fakta-fakta di atas, yakni legenda tentang Yu serta
keberadaan para "wu", kita dapat menyimpulkan bahwa agama asli Bangsa
Tionghoa adalah sejenis shamanisme. Ajaran yang tergolong shamanisme ini
merupakan akar bagi perkembangan pemikiran- pemikiran berikutnya. Hal
lain yang bisa kita gali adalah para pemimpin suku (yang berikutnya
menjadi para kaisar) juga merupakan seorang shaman. Tugas seorang shaman
ini kemudian makin berkembang, pada masa Dinasti Zhou tugas mereka
adalah: memanggil roh-roh halus, menafsirkan mimpi, membaca tanda-tanda
untuk peramalan, memanggil hujan, menyembukan, serta menafsirkan makna
peristiwa-peristiwa yang terjadi di angkasa (misalnya nampaknya komet
atau bintang jatuh).
Masa Klasik (700 - 220 SM)
(i) Latar belakang awal, Lao Zi dan Tao Te Cing
Kini kita meninggalkan jaman legenda dan memasuki masa sejarah. Kita
tiba pada masa seribu tahun setelah Yu, di mana pada masa itu Tiongkok
dikuasai oleh Dinasti Zhou. Saat itu, kaisar tidak lagi merangkap
sebagai seorang shaman, melainkan ia mendelegasikan tugasnya pada
sekelompok orang yang digaji oleh kerajaan. Kaisar hanya hadir pada dua
upacara keagamaan terpenting saja, yakni Upacara Mulai Bercocok Tanam
Musim Semi dan Upacara Berterima kasih Musim Gugur.
Dinasti Zhou menganut sistim feodal, yakni orang-orang yang pernah
berjasa pada raja diberi gelar kebangsawanan secara turun temurun serta
tanah-tanah kekuasaan. Jadi timbullah para bangsawan yang memerintah
wilayah-wilayan mereka sendiri, namun tetap bertanggung jawab pada
kaisar. Para bangsawan tersebut bertugas sebagai kepanjangan tangan
kaisar di wilayah mereka dan bertugas untuk menahan serangan suku barbar
di perbatasan. Selama kaisar merupakan pemimpin yang cakap dan kuat,
sistim feodal ini dapat berjalan lancar. Pada tahun 770 SM, Dinasti Zhou
terpecah menjadi banyak negara-negara feodal yang saling berperang, di
mana masing-masing negeri feodal tersebut sebelumnya telah dikuasai para
bangsawan secara turun temurun.
Periode Peperangan ini disebut Periode Musim Semi dan Rontok (770 -
476 SM) dan selanjutnya disebut dengan Masa Perang Antar Negeri (475-221
SM), tatkala negara-negara terkuat tinggal tersisa tujuh negara. Para
Periode Musim Semi dan Rontok ini lahirlah para filosof besar, seperti
Lao Zi yang terlah disinggung pada bab 1. Lao Zi secara umum diakui
sebagai pendiri dari Taoisme. Riwayat singkat Beliau telah dibahas pada
bab 1, sehingga pada kesempatan kali ini tidak akan dibahas kembali.
Sebagaimana yang kita ketahui, Beliau mewariskan sebuah kitab yang
disebut dengan Tao Te Cing. Kini kita akan membahas secara garis besar
isi Tao Te Cing tersebut.
(ii) Perkembangan berikutnya di bawah Zhuangzi dan Liezi
Ahli filsafat terkenal lainnya yang berkontribusi
terhadapperkembangan Taoisme adalah Zhuangzi (369 SM-286 SM) serta Liezi
(abad 4 SM). Dengan adanya kedua ahli filsafat tersebut, Taoisme
memasuki tahapan baru. Ada perbedaan ajaran-ajaran mereka dengan Taoisme
yang lebih awal ataupun filsafat yang terdapat dalam Tao Te Cing.
Sebelumnya keterlibatan seseorang di dalam politik masih
dimungkinkan, namun Zhuangzi dan Liezi mengajarkan bahwa seorang suciwan
mustahil untuk terlibat dalam politik. Pengertian wuwei (secara
harafiah berarti "tidak berbuat") berubah menjadi "tidak terlibat"
ataupun "membiarkan sesuatu sebagaimana adanya." Para suciwan tidak lagi
memperdulikan hal-hal duniawi. Apabila orang awam terperangkap dalam
kemashyuran serta kemewahan, sebaliknya para suciwan menghindarinya,
sehingga mereka benar-benar bebas. Perbedaan berikutnya, sebagaimana
yang telah diungkapkan di atas, Tao menurut Tao Te Cing adalah kekuatan
yang baik. Namun Zhuangzi dan Liezi, memandang Tao sebagai kekuatan yang
bersifat netral.
Ia masih merupakan dasar bagi keberadaan segala sesuatu, tetapi tidak
lagi merupakan suatu kekuatan yang bajik. Lebih jauh lagi menurut
keduanya, Tao tidak lagi memegang kendali atas segala sesuatu di muka
bumi ini, apa yang akan terjadi, pasti terjadi; dan tidak ada sesuatupun
yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Terlepas dari semua perbedaan
tersebut, Ajaran Zhuangzi dan Liezi, masih memiliki banyak kesamaan
dengan Ajaran Taoisme dari periode sebelum mereka. Tao masih dipandang
sebagai sesuatu yang tak bernama, tanpa bentuk, serta tak dapat dipahami
dengan rasio manusia biasa. Mereka yang dapat memahami hakekat Tao
beserta cara bekerjanya, adalah orang yang tercerahi.
Di dalam Tao Te Cing, Tao dipandang sebagai asal muasal segala
sesuatu. Pandangan ini lebih dikembangkan lagi pada masa ini, dimana
dikembangkan pemikiran bahwa segala sesuatu memiliki asal muasal yang
sama. Tidak ada sesuatupun yang lebih berharga dibandingkan yang
lainnya. Begitu pula manusia tidak lebih berharga dibandingkan hewan.
Prinsip "kesetaraan status segala sesuatu" diperkenalkan oleh Zhuangzi.
Zhuangzi juga mengajarkan bahwa hidup ini mengalami transformasi yang
terus menerus dari Tao. Zhuangzi meninggalkan sebuah kitab yang juga
berjudul Zhuangzi, judul lain dari kitab tersebut adalah Nanhua zhenjing
(Kitab Klasik Kemurnian dari Nanhua).
Di dalamnya juga terdapat pandangan shamanistik mengenai para
suciwan, misalnya dikatakan bahwa mereka dapat terbang ke langit,
berbicara dengan hewan, serta memiliki kekuatan-kekuatan atas
unsur-unsur alam. Sedangkan Liezi meninggalkan sebuah kitab yang juga
diberi judul sesuai dengan namanya. Sebagai tambahan, kitab yang ditulis
Zhuangzi tersebut terdiri dari 33 bagian, yang masih dibagi lagi
menjadi bagian "luar" dan "dalam." Bagian "dalam" meliputi tujuh bagian
pertama. Sebagian besar dari tujuh bagian pertama ini menurut para ahli
dikatakan sebagai asli, sedangkan bagian selanjutnya diduga sebagian
besar palsu. Relativitas dari segala sesuatu juga merupakan ajaran dari
Zhuangzi, berikut ini akan dikutipkan salah satu ujaran paling
menariknya yang dikutip dari Kitab Zhuangzi (lihat Merriam Webster's,
Encyclopedia of World Religions hal 238): "Suatu kali, aku, Zhuang Zhou
(nama pribadi Zhuangzi penulis), bermimpi bahwa aku menjadi kupu-kupu
dan merasa bahagia sebagai kupu- kupu. Saya merasa sadar bahwa saya
merasa cukup puas dengan diri saya sendiri, namun saya tidak mengetahui
bahwa saya adalah Zhou. Tiba- tiba aku terjaga, dan jelas sekali aku
adalah Zhou. Saya tidak tahu apakah apakah Zhou yang bermimpi menjadi
kupu-kupu ataukah sang kupu- kupu yang bermimpi menjadi Zhou. Antara
Zhou dan kupu-kupu pastilah terdapat perbedaan. Inilah yang disebut
transformasi segala sesuatu."
Proses perubahan Taoisme filsafat menuju pada suatu agama yang terorganisasi
(20SM-600M)
Taoisme baru menjelma menjadi suatu agama yang terorganisasi pada
masa Zhang Daoling yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Meskipun
demikian proses transformasi ini tidak akan terjadi apabila tidak ada
faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini kita akan mempelajari hal-hal
apa saja yang menjadi pendorong bagi proses tersebut.
Pada masa akhir Dinasti Zhou yang terpecah menjadi beberapa negara,
banyak orang yang terpelajar yang berkeliling untuk menjajakan kemampuan
mereka sebagai ahli ketata-negaraan maupun penasehat politik. Mereka
berkeliling untuk mencari raja atau penguasa yang bersedia memanfaatkan
jasa mereka. Profesi mereka pada masa sekarang dapat disamakan dengan
para konsultan dari berbagai bidang. Dengan penyatuan Tiongkok di bawah
Dinasti Qin, maka praktis jasa mereka tidak diperlukan lagi. Dinasti Han
yang merupakan kelanjutan dari Dinasti Qin juga memerintah seluruh
Tiongkok. Sama dengan Dinasti Qin, mereka menerapkan sistim pemerintahan
yang terpusat serta membatasi kekuasaan para bangsawan. Dengan demikian
persatuan negara menjadi kuat. Sistim pemerintahan terpusat tersebut
tetap menjadikan kaum terpelajar yang sebelumnya berkeliling menjajakan
jasa tidak diperlukan lagi keberadaannya.
Sebelumnya banyak dari mereka yang juga menguasai kemampuan mistis,
seperti misalnya meramal, penyembuhan, dan menambah umur panjang. Karena
jasa mereka dalam bidang ketata-negaraan serta politik tidak diperlukan
lagi, maka dilakukanlah alih profesi dengan memanfaatkan kemampuan lain
mereka tersebut. Pada masa Dinasti Qin dan Han awal, mereka membentuk
suatu kelompok masyarakat tersendiri yang disebut dengan "fangshi." Kata
"fangshi" berarti "ahli ilmu gaib" (masters of formulae). Secara umum
mereka terbagi menjadi dua, yakni yang mengkhususkan diri pada ilmu
gaib, peramalan serta penyembuhan dan mereka yang mengkhususkan diri
pada ilmu pemanjang umur serta hidup abadi. Adanya dua golongan ini
untuk memenuhi keinginan dua kelompok masyarakat yang berbeda. Kaum kaya
lebih menginginkan umur panjang serta hidup abadi, sedangkan kaum
miskin tidak memerlukannya. Hidup bagi mereka adalah penderitaan,
sehingga memperpanjang hidup bagi mereka sama saja dengan memperpanjang
penderitaan. Sebaliknya kaum miskin yang antara lain terdiri dari
petani, lebih menghendaki jaminan panen yang baik, serta kesehatan diri
dan anggota keluarganya, sehingga mereka dapat bekerja di ladang dengan
lancar. Para fangshi yang menjawab keinginan mereka menggunakan jimat
yang ditulisi simbol-simbol tertentu serta kata- kata yang dipercaya
mengandung kekuatan gaib. Tujuannya adalah untuk mengundang roh-roh agar
menyembuhkan serta memberikan perlindungan. Jadi kaum fangshi ini
kemudian menjadi semacam kelas pendeta di tengah-tengah masyarakat pada
masa itu, dimana sebelumnya kelas kependetaan semacam ini sebelumnya
belum dikenal dalam Taoisme.
Sumber Bacaan
[2] Huston Smith, Agama-Agama Manusia, hal. 233
[3]Ana Yuliana dan Yudi Irawan, Agamaku Agamamu, hal.113
[4] Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Tao, hal. 1-8

Tidak ada komentar:
Posting Komentar