Klenteng.?
Atau.? Kelenteng? adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut
kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia.? pada umumnya.
Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa
sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan
sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu.
Asal mula kata Klenteng
Tidak ada catatan resmi bagaimana istilah “Klenteng” ini muncul, tetapi
yang pasti istilah ini hanya terdapat di Indonesia karenanya dapat
dipastikan kata ini muncul hanya dari Indonesia. Sampai saat ini, yang
lebih dipercaya sebagai asal mula kata Klenteng adalah bunyi.?
teng-teng-teng, dari lonceng di dalam klenteng sebagai bagian ritual
ibadah.
Blog Ini Dibuat Sebagai Diskusi Khususnya Bagi Mahasiswa Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Pembimbing Dra. Hj. Siti Nadroh M.Ag dan Sumber yang didapat dari hasil belajar di kampus dan tambahan dari link-link yang berkaitan dengan judul ini
Senin, 21 Mei 2012
Kwan Kong Tokoh Kebajikan dalam agama Tao
Guan Yu (关羽dalam bahasa mandarin, atau Kwan Yie dalam bahasa Hokkian) adalah satu dari sekian banyak dewa Taois yang sangat terkenal. Beliau adalah dewa rejeki dengan sebutan Guan Sheng Di Jun (关圣帝君) atau lazim disebut dengan Guan Gong (关公), Kwan Kong, Guan Di Gong (关帝公), Kwan Te Kong. Beliau disembah sebagai dewa yang mengurus pemberian berkah rejeki karena dalam ajaran Tao menyebutkan bahwa hanya ksatria sejati yang berhak memberikan berkah kepada yang lain, tentu saja Beliau pantas menjadi dewa rejeki mengingat masa hidupnya Beliau adalah seorang panglima perang yang sangat adil, peduli kepada rakyat dan setia kepada negara.Selain itu Beliau juga mempunyai kebiasaan mencatat keluar masuk segala keperluan militer, mulai dari personil, senjata hingga bekal makanan.
Kwan Konghidup di China pada tahun 160 M sampai 219 M pada masa akhir dinasti Han Timur (东汉) hingga masa perang Tiga Negara (三國). Beliau lahir di propinsi Shan Xi dengan nama Guan Yun Chang (关云长) dengan berprofesi sebagai penjual tahu pada masa mudanya. Sebuah cerita menggambarkan keberanian Beliau dalam menegakkan keadilan; saat muda Beliau pernah membunuh sekelompok perampok yang dilepaskan dari tuntutan atas kejahatannya, bahkan tak puas dengan itu saja Beliau juga membunuh pejabat yang membebaskan penjahat tersebut di ruang sidang. Lalu Beliau pergi dengan perasaan putus asa dan kecewa terhadap keadilan yang ada. Di tengah perjalanan Beliau melihat sebuah kuil kecil lantas Beliau pun menumpang mencuci muka dan tangannya yang berlumuran darah di sebuah pancuran air yang terletak di samping kuil tersebut. Saat itu kejadian aneh terjadi, wajah Beliau berubah menjadi berwarna merah dan Beliau bertekad untuk berbuat lebih banyak untuk rakyat. Saat itu rakyat memang sedang disengsarakan akibat pemberontakan-pembarontakan yang terjadi pada kekaisaran Han Timur.
Karier Beliau dalam kemiliteran sangat cemerlang, dalam setiap pertempuran Beliau tak terkalahkan. Pada masa itu bila pepimpin atau jenderal kalah, baik dibunuh maupun ditangkap, maka seluruh pasukannya akan menyerah. Oleh karena itu Beliau lebih sering memilih bertarung satu melawan satu dengan jenderal dari pihak lawan untuk menghindari pertempuran yang memakan banyak korban jiwa. Itu Beliau lakukan karena belas kasihnya bukan karena pamer kekuatan. Bersama saudara-saudara angkatnya Liu Bei (刘备) dan Zhang Fei (张飞) Beliau berjuang dengan panji Shu Han (蜀汉) dan Liu Bei bertindak sebagai rajanya. Beliau memilih mengabdi kepada Liu Bei karena Liu Bei adalah keturunan dari raja Han yang berarti Liu Bei adalah paman dari raja Han Timur dan mempunyai hak menempati kursi kekaisaran. Atas jasa-jasa Beliau Liu Bei mengangkatnya menjadi satu dari lima panglima sejati dengan sebutan Lima Jenderal Harimau (五虎大将).
Pada tahun 219, Beliau dikepung oleh pasukan Sun Quan (孙权) dari kubu Wu (吴) saat sedang mendamping rakyatnya yang sedang mengungsi. Karena konsentrasinya terpecah, memikirkan peperangan dan rakyatnya, Beliau dan pasukannya terpecah. Dengan inisiatif untuk memancing lawan bertempur di daerah yang jauh dari jalur pengungsi Beliau memimpin beberapa anak buahnya menjauh dari kelompok pengungsi. Namun hal tersebut telah diperhitungkan oleh pihak musuh dan menyiapkan jebakan. Di tengah perjalanan kuda tunggangan Beliau berhasil dijatuhkan dan golok Naga Hijau senjata utama Beliau juga berhasil direbut musuh. Beliau akhirnya tertangkap dan dihukum mati setelah menolak bekerjasama dengan Sun Quan.
Setelah menghukum mati Kwan Kong, Sun Quan mengirimkan kepalanya kepada Cáo Cāo (曹操) dari pihak Wei (魏) dengan tujuan mengadudomba Cáo Cāo dengan Liu Bei. Sementara itu badan jasad Kwan Kongdikebumikan dengan prosesi upacar kemiliteran, hal ini dilakukan Sun Quan karena ia juga sangat menghargai jiwa kstaria Kwan Kong.
Kepahlawanan dan jiwa ksatria Beliau juga mendapat penghargaan dari beberapa raja yang pernah bertahta di masa dinasti masing-masing, diantaranya ;
Tahun 1120 raja dari dinasti Song (宋), Song Hui Zong (宋徽宗), memberikan gelar zhong hui ci gong (忠惠次公) yang artinya Teladan Keadilan, serta gelar Wu An wang (武安王) yang artinya Raja Wu An. Sejak masa dinasti Song Beliau mulai dipuja sebagai seorang dewa.
Tahun 1330 raja Yuan Wen Zong Di (元文宗帝) dari kekaisaran Yuan (元) memberikan gelar wei xian wu ling hou guan sheng tai zi (威显武灵候关圣太子).
Tahun 1594 raja Wan Li (万历) dari dinasti Ming (明) atas anjuran seorang pendeta Tao memberikan nama Ying Li Di Miao (英烈帝庙) pada sebuah kuil Kwan Kong dan menganugerahkan gelar san jie fu no da di shen wu wei yuan, zhen tian zun guan sheng di jun (三界伏魔大帝神武威远, 镇天尊关圣帝君) kepada Kwan Kong. Sejak itu Beliau mulai dikenal dengan sebutan Guan Sheng Di Jun (关圣帝君).
Tahun 1813 pada masa dinasti Qing (清) raja Qian Long (乾隆) memberikan gelar ling you zhong yi shen wu guan sheng da di (灵佑忠义神武关圣大帝) sebagai penghargaan terhadap jiwa kepahlawanan Beliau.
Tahun 1120 raja dari dinasti Song (宋), Song Hui Zong (宋徽宗), memberikan gelar zhong hui ci gong (忠惠次公) yang artinya Teladan Keadilan, serta gelar Wu An wang (武安王) yang artinya Raja Wu An. Sejak masa dinasti Song Beliau mulai dipuja sebagai seorang dewa.
Tahun 1330 raja Yuan Wen Zong Di (元文宗帝) dari kekaisaran Yuan (元) memberikan gelar wei xian wu ling hou guan sheng tai zi (威显武灵候关圣太子).
Tahun 1594 raja Wan Li (万历) dari dinasti Ming (明) atas anjuran seorang pendeta Tao memberikan nama Ying Li Di Miao (英烈帝庙) pada sebuah kuil Kwan Kong dan menganugerahkan gelar san jie fu no da di shen wu wei yuan, zhen tian zun guan sheng di jun (三界伏魔大帝神武威远, 镇天尊关圣帝君) kepada Kwan Kong. Sejak itu Beliau mulai dikenal dengan sebutan Guan Sheng Di Jun (关圣帝君).
Tahun 1813 pada masa dinasti Qing (清) raja Qian Long (乾隆) memberikan gelar ling you zhong yi shen wu guan sheng da di (灵佑忠义神武关圣大帝) sebagai penghargaan terhadap jiwa kepahlawanan Beliau.
Sekarang ini terdapat beberapa perbedaan hari memperingati Kwan Kong. Di Malaysia diperingati pada hari ke-13 bulan kedua pada penanggalan lunar atau imlek, sedangkan di Singapura diperingati pada hari ke-13 bulan kelima, dan di Hong Kong dan Indonesia pada hari ke-24 bulan keenam penanggalan lunar merupakan hari penghormatan kepada Beliau.
Riwayat Yang Suci Dewa Kwan Kong
Guan Di atau secara umum disebut Guang Gong ( Kwan Kong – Hokkian ) yang berarti paduka Guan, adalah seorang panglima perang kenamaan yang dihidup pada zaman San Guo ( 221 – 269 Masehi ). Nama aslinya adalah Guan Yu alias Guan Yun Chan ( Kwan In Tiang – Hokkian ). Oleh kaisar Han ia diberi gelar Han Shou Ting Hou. Kwan Kong dipuja karena kejujuran dan kesetiaan. Dia adalah lambing atau tauladan kesatria sejati yang selalu menempati janji dan setia pada sumpahnya. Sebab itu Kwan Kong banyak dipuja dikalangan masyarakat, disamping kelenteng-kelenteng khusus. Gambarnya banyak dipasang dirumah pribadi, toko, bank, kantor polisi, pengadilan sampai ke markas organisasi mafia. Para anggota perkumpulan rahasia itu biasanya melakukan sumpah sejati dihadapan Kwan Kong.
Disamping dipuja sebagai lambang kesetiaan dan kejujuran, Kwan Kong dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan Dewa Perang sebagai umumnya dikenal dan dialamatkan kepada Kwan Kong, harus diartikan sebagai Dewa untuk menghindarkan peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Kwan Kong yang budiman. Kwan Kong adalah penduduk asli kabupaten Hedong (sekarang Jiezhou) di propinsi Shanxi.
Bentuk tubuhnya tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah. Tentang wajahnya yang berwarna merah ini adalah cerita tersendiri yang tidak terdapat dalam novel San Guo ( kisah tiga negeri). Suatu hari dalam pengembaraannya, Kwan Kong berjumpa dengan seorang tua yang sedang menangis sedih. Ternyata anak perempuan satu-satunya dengan siapa hidupnya bergantung, dirampas oleh wedana setempat untuk dijadikan gundik, Kwan Kong, yang berwatak budiman dan tidak suka sewenang-wenang semacam ini, naik darah. Dibunuhnya wedana yang jahat itu dan sang gadis dikembalikan kepada orang tuanya. Tetapi dengan perbuatan ini Kwan Kong sekarang menjadi buronan. Dalam pelariannya itu Ia sampai dicela DongGuan di propinsi Shanxi. Ia lalu membasuh mukanya di sebuah sendang kecill yang terdapat di pergunungan itu. Seketika rupanya berubah menjadi merah, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Dengan mudah Ia menyelip diantara para petugas yang diperintahkan untuk menangkapnya tanpa diketahui. Riwayat Kwan Kong selanjutnya dan sampai akhir hayatnya ditulis dengan sangat indah dalam novel San Guo yang terkenal itu. Dalam babak pertama dalam novel tersebut diceritakan bagaimana Kwan Kong dalam pengembaraannya berjumpa dengan Liu Bei dan Zhan Fei disebuah kedai arak. Dalam pembicaraan mereka ternyata cocok dan sehati, sehingga memutuskan untuk mengangkat saudara. Upacara pengangkatan saudara ini, dilaksanakan dirumah Zhan Fei dalam sebuah kebun buah Tao atau persik Liu Bei menjadi saudara tertua, Kwan Kong yang kedua dan Zhan Fei bontot. Bersama-sama mereka bersumpah sehidup semati dan berjuang untuk membela negara. Peristiwa ini terkenal dengan nama “ Tao-Yuan-Jie-Yi ” ( Tho Wan Kiat Gie – Hokkian ) atau “ Sumpah Persaudaraan Di kebun Persik ”, sangat dikagumi oleh orang dari zaman ke zaman dan dianggap sebagai lambang persaudaraan sejati. Lukisan tiga bersaudara ini sedang melaksanakan upacara sumpah ini banyak menjadi objek lukisan, pahatan, patung keramik yang sangat disukai orang hingga dewasa ini. Selanjutnya diceritakan ketiga saudara angkat ini membentuk pasukan sukarela untuk memerangi kaum pemberontak Destar Kuning yang pada waktu itu sangat mengguncangkan sendi-sendi kerajaan Han yang telah rapuh. Dalam pertempuran itu mereka memperlihatkan kegagahan sebagai prajurit dan pimpinan militer yang cakap. Kegagahan Kwan Kong menjadi perhatian orang pertama kali pada saat terjadi pertempuran di benteng Hu Luo Guan. Waktu itu Liu Bei bersama kedua adiknya bergabung dengan ke-18 Raja Muda yang membentuk pasukan gabungan untuk menumpas Dong Zhuo yang lalim. Dong Zhuo mengangkat diri menjadi perdana menteri dan dengan seenaknya sendiri makzulkan Kaisar, dan menggantikannya dengan Kaisar kecil yang menjadi bonekanya. Di Hu Luo Guan terjadi pertempuran besar antara pasukan gabungan para raja muda melawan bala tentara Dong Zhuo yang dipimpin oleh seorang panglima yang gagah perkasa, Hua Xiong ( Hoa Hiong – Hokkian ). Dalam beberapa kali pertempuran pasukan raja muda mengalami kerusakan besar dan beberapa panglimanya tewas ditangan Hua Xiong. Yuan Xiao dan Cao Cao yang menjadi pimpinan gerakan itu jadi gelisah. Tiba-tiba Kwan Kong menyanggupkan diri untuk maju ke medan perang menghadapi Hua Xiong. Semua orang memandang rendah kemampuannya, hanya Cao Cao yang melihat kehebatan terpendam yang ada pada diri Kwan Kong. Dengan secawan arak yang masih hangat Cao Cao mempersilakan Kwan Kong minum sebelum maju ke medan laga. Kwan Kong menolak, Ia minta agar arak itu ditunda setelah Ia pulang dengan membawa kepala Hua Xiong. Di medan laga, hanya dengan beberapa gebrakan saja Hua Xiong jatuh dan tewas diujung senjata Kwan Kong. Dengan membawa kepala Hua Xiong, Kwan Kong pulang ke kubunya di sambut Cao Cao dengan arak yang masih hangat. Sejak itu Cao Cao mulai tertarik kepada Kwan Kong. Hu Lou Guan masih sekali lagi menjadi saksi kehebatan Kwan Kong. Dengan gugurnya Hua Xiong, Dong Zhuo lalu mengangkat Lu Bu ( Lu Po – Hokkian ) sebagai komandan pasukannya. Lu Bu adalah seorang yang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya di medan laga pada zaman itu. Dengan senjata tombak bercagak, Lu Bu mengobrak-abrik pasukan para raja muda tanpa ada yang mampu menghalanginya. Pada saat yang genting itu, Kwan Kong maju ke depan dan mencegat Lu Bu. Keduanya bertempur dengan seru tanpa ada yang kalah dan yang menang. Melihat saudaranya sulit mengalahkan lawan, Liu Bei dan Zhang Fei segera mengeprak kudanya untuk menggerubuti Lu Bu. Pertempuran antara ketiga saudara menggerubuti Lu Bu, banyak menjadi objek lukisan yang menarik. Akhirnya Lu Bu merasa tidak dapat memenangkan mereka, lalu ia memutar kudanya dan mengundurkan diri. Pertempuran yang bersejarah ini diperingati orang sebagai San Ying Zhan Lu Bu atau Tiga Pahlawan Menempur Lu Bu. Kesetiaan Kwan Kong terhadap saudara angkat juga dikisahkan dalam novel sejarah ini. Dikisahkan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh suatu komplotan yang dipimpin oleh Dong Cheng ( Tang Sin – Hokkian ), Cao Cao makin menancapkan kuku kekuasaannya di ibukota, tanpa ada yang berani menantang. Sampai-sampai kaisarpun harus memperoleh izinnya terlebih dahulu apabila akan menemui seseorang. Cao Cao berusaha menyingkirkan Liu Bei, yang dianggap duri dalam daging. Liu Bei pada waktu itu ada di kota Xuzhou. Bala tentara dikerahkan untuk menggempur kota kedudukan Liu Bei. Bersama Zhang Fei, Liu Bei berusaha menahan serbuan dari pasukan Cao Cao yang tak seimbang jumlahnya. Liu Bei dan Zhang Fei melarikan diri dengan berpencar diikuti tentaranya yang cerai berai. Setelah Xuzhuo jatuh, Cao Cao mengerahkan pasukannya menggempur Xiapei, tempat kedudukan Kwan Kong dan keluarga Liu Bei. Karena kalah jumlahnya, akhirnya Kwan Kong terkepung di sebuah bukit. Cao Cao yang telah mengagumi pribadi Kwan Kong, berusaha menarik Kwan Kong agar mau menakluk kepihaknya. Menyadari resiko dan tanggung jawab akan keselamatan keluarga kakaknya, Kwan Kong memutuskan menyerah, tapi dengan syarat bahwa walaupun bekerja pada Cao Cao Ia tetap setia pada Liu Bei, kakaknya dan begitu tahu Liu Bei berada Ia akan segera pergi untuk bergabung dan meninggalkan Cao Cao. Mulanya Cao Cao ragu-ragu menerima syarat ini. Tetapi ia beranggapan bahwa apabila ia memperlakukan Kwan Kong lebih baik daripada yang telah dilakukan Liu Bei, tentu Kwan Kong akan tetap memihak dia. Begitulah Kwan Kong menakluk pada Cao Cao. Cao Cao memperlakukannya secara istimewa dan penuh dengan penghormatan. Pernah suatu ketika di perjalanan kembali ke Kota Raja, Cao Cao sengaja hanya menyediakan satu kamar di tempat rombongan Kwan Kong. Tetapi Kwan Kong tetap teguh hati. Dibiarkannya tempat itu ditempati oleh dua orang istri Liu Bei, sedangkan Dia sendiri menjaga didepan pintu dengan golok terhunus sambil membaca kitab Chun Qiu ( kitab catatan hikayat zaman Chun Qiu yang ditulis oleh Nabi Kong Zi ). Pose Kwan Kong membaca kitab Chun Qiu ini menjadi salah satu poin yang juga banyak disukai oleh pelukis dan pemahat pada zaman kemudian. Berulang kali Cao Cao berusaha merebut hatinya, tetapi selalu gagal. Suatu hari Cao Cao menghadiahkan jubah kebesaran kepada Kwan Kong ketika dilihatnya bajunya sudah tua dan lusuh. Kwan Kong segera menanggalkan baju lamanya dan mengenakan baju baru pemberian Cao Cao. Tapi Kwan Kong mengenakan baju tuaNya kembali diluar baju baru Cao Cao. Ketika Cao Cao dengan heran bertanya, Ia menjawab “Baju Tua ini adalah pemberian kakak angkatKu Liu Bei, walaupun Aku kini mengenakan baju pemberian Paduka Perdana Menteri, tidak seyogyanya Aku melupakan budi kakak angkatKu”. Mendengar jawaban ini, kekaguman Cao Cao makin bertambah. Hadiah-hadiah berupa emas, perak tak terhitung banyaknya, tetapi Kwan Kong tidak pernah menyentuhnya. Barang-barang tersebut hanya ditumpuk dalam gudang. Puluhan wanita cantik yang dikirimkan kepadanya diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya, tanpa Ia merasa tertarik untuk memiliki. Dia dapat menjaga budi pekerti dan kesusilaan sehingga lawan-lawannya segan dan kagum padanya. Untuk mengambil hati Kwan Kong, Cao Cao menghadiahkan seekor kuda yang disebut Chi Tu ( Kelinci Merah ) kepadanya. Kuda ini adalah bekas tunggangan Lu Bu yang dapat berjalan 1.000 li dalam sehari. Seketika itu juga Kwan Kong berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Cao Cao. Cao Cao dengan heran lalu bertanya “Aku telah menghadiahkan banyak barang kepada Jendral, tapi Jendral hanya menerima dengan biasa saja. Tapi kini demi seekor kuda, Jendral lutut dihadapanku, sungguh aneh”. Kwan Kong segera menjawab “Barang lain walau bagaimana berharganya, Aku tidak memperdulikan, tapi dengan memiliki kuda ini, begitu Aku mendengar kabar dimana kakakKu, Liu Bei berada, Aku dapat dengan cepat pergi menemuinya”. Mendengar ini Cao Cao menyesal bukan main. Liu Bei yang melarikan diri dari Xuzhou akhirnya diterima oleh Yuan Xiao ( Wan Siauw – Hokkian ) penguasa wilayah Hebe. Atas saran Liu Bei, Yuan Xiao menggerakan tentaranya untuk menyerang Cao Cao. Pasukan Yuan Xiao ini dipimpin oleh panglimanya yang terkenal yaitu Yang Liang ( Gan Liang – hokkian ). Para panglima Cao Cao tak dapat menahan serbuan Yang Liang, bahkan beberapa panglimanya tewas. Cao Cao gelisah melihat kegagahan panglima musuh ini. Kwan Kong minta izin untuk melawan Yang Liang, sekaligus untuk membalas budi Cao Cao. Yang Liang terbunuh hanya dengan sekali gebrakan saja, Wen Chou ( Bun Ciu – Hokkian ) juga salah satu panglima gagah yang diandalkan oleh Yuan Xiao, memimpin pasukannya untuk menuntut balas. Kembali pertempuran berkobar, dan beberapa panglima Cao Cao terbunuh diujung senjata Wen Chou. Kembali Kwang Kong maju ke medan perang dan berhasil menumbangkan pahlawan dari Hebei itu, tanpa mengetahui bahwa Liu Bei ada di pasukan musuh. Kemudian secara rahasia Liu Bei berhasil mengadakan kontak dengan Kwan Kong dan menjelaskan dimana dia berada sekarang. Bergegas-gegas Kwan Kong bersiap untuk pergi bersama kedua iparnya dan beberapa pengiring. Sesuai dengan janjinya Ia akan pergi secara jantan, dengan berpamitan kepada Cao Cao. Cao Cao secara licik selalu menghindar agar Kwan Kong jangan sampai bertemu dengannya. Akhirnya Kwan Kong memutuskan untuk berangkat walau tanpa perkenaan Cao Cao, dengan meninggalkan barang-barang berharga termasuk para wanita cantik hadiah Cao Cao dan sepucuk surat perpisahan. Dengan menunggang kuda, Kwan Kong temani beberapa penggiring, mengawal kedua kakak iparnya melewati kota-kota yang dijaga oleh para panglima Cao Cao. Karena mencegah lewatnya Kwan Kong, enam panglima yang menjaga lima kota tewas di tangannya. Begitulah akhirnya Kwan Kong dapat bergabung kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei, dan bersama-sama mereka merintis usaha untuk menegakkan negara Shu yang akan menjadi salah satu dari Tiga Negeri atau San Guo. Berkat keuletannya dalam berjuang akhirnya Liu Bei berhasil mengundang seorang ahli militer dan politik kenamaan yaitu Zhuge Liang alias Kong Ming ( Cut Kat Liang alias Kong Bing – Hokkian ), untuk menjadi penasehatnya. Pada waktu itu Cao Cao mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyapu daerah kekuasaan Liu Bei. Dalam beberapa kali pertempuran pasukan-pasukan Liu Bei terdesak. Atas saran Zhuge Ling. Liu Bei mengadakan perserikatan dengan Sun Quan ( Sun Kwan – Hokkian ) untuk melawan Cao Cao. Berkat usaha Zhuge Liang akhirnya pasukan gabungan Liu Bei dan Sun Quan berhasil menghancurkan armada perang Cao Cao mundur ke darat, disana pasukan-pasukan Liu Bei bersiap memberikan pukulan yang terakhir. Pertempuran di Chibi ini betul-betul menghabiskan energi Cao Cao, sehingga sejak itu ia tak berani bergerak ke seleatan lagi. Dikisahkan dengan sisa-sisa pasukannya Cao Cao yang tidak seberapa jumlah mengundurkan diri ke utara. Seperti yang telah diperhitungkan oleh Zhuge Liang, Cao Cao telah melewati suatu celah strategis yang disebut Huarong. Tugas menjaga jalur penting ini dipercayakan kepada Kwan Kong. Mulanya Zhuge Liang ragu apakah Kwan Kong akan dapat mengangkap atau membunuh Cao Cao, sebab penasehat militer ulung ini sangat paham watak Jendral yang sangat mengutamakan budi ini. Bukankah Cao Cao pernah menanam budi pada Kwan Kong, pada waktu Kwan Kong berpihak kepada Cao Cao. Kwan Kong berkeras akan menjalankan tugasnya, bahkan sedia di hukum mati bila Dia sampai gagal. Melihat tekadnya, Zhuge Liang akhirnya menerima dan memberinya tugas untuk menjaga jalur vital itu. Cao Cao sesuai dengan perhitungan, lewat Huarong. Kwan Kong segera menghadang dan akan membunuhnya. Cao Cao melihat Kwan Kong, segera turun dari kuda dan berlutut mohon dia dibiarkan lewat, sambil mengingatkan Kwan Kong betapa ia memperlakukannya pada waktu Kwan Kong menyerah kepadanya. Melihat keadaan Cao Cao yang compang camping dan prajuritnya yang tinggal tak seberapa itu, Kwan Kong tergerak hatinya, bagaimanapun dulu Cao Cao pernah menanam budi kepadanya. Akhirnya Ia rela melepaskan musuhnya itu, sebagai balasan atas perlakuan baik pada dirinya pada masa lalu, dan dengan tegap kembali kehadapan Zhuge Liang untuk bersedia dihukum mati karena telah menelantarkan tugas utamanya. Atas saran Liu Bei, Kwan Kong dibebaskan dari hukuman. Zhuge Liang sendiri juga menyadari bahwa memang Cao Cao belum saatnya tumpas. Perbuatan Kwan Kong ini sangat di kagumi oleh orang dari zaman ke zaman, sehingga Ia diangkat sebagai Dewa dan banyak dipuja dan dihormati. Sampai akhir hayatnya Kwan Kong tetap setia pada saudara-saudara angkatnya. Pada waktu itu Liu Bei sudah berhasil mendirikan kerajaan dengan nama Shu ( Siok – Hokkian ) yang merupakan kelanjutan kerajaan Han yang dirampas oleh Cao Cao, wilayahnya yang meliputi propinsi Sichuan sekarang dengan ibukota Chengdu. Cao Cao menguasai daerah lembah sungai Huang He ( Sungai Kuning ) dan mendirikan kerajaan Wei ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Luoyang. Sun Quan mendirikan kerajaan Wu ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Wuchang, kemudian dipindahkan ke Nanjing yang meliputi wilayah yang membentang dari tengah dan hilir sungai Yangzi. Keadaan yang disebut Tiga Negeri sudah terbentuk. Kwan Kong menjaga kota strategis, Jingzhou berusaha meluaskan kekuasaannya dengan menyerbu ke utara. Dengan waktu singkat dapat disebut kota Fancheng dan memukul mundur pasukan Cao Cao yang dipimpin oleh Jendralnya yang bernama Cao Ren ( Co Jin – Hokkian ). Kemudian ketika bala tentara Cao Cao dengan jumlah besar datang memberikan bantuan, Kwan Kong berhasil menhancurkan mereka dengan menenggelamkan dalam banjir dan pimpinannya, Pang De ( Bank Tek – Hokkian ), dan Yu Jin tertawan. Memahami situasi yang tak menguntungkan pihaknya, Cao Cao segera mengajak Sun Quan untuk berserikat. Sun Quan, yang telah lama menginginkan kota JingZhou, yang dikuasai Kwan Kong, kembali kedalam wilayah kekuasaannya, setuju dan mengerakan pasukan merebut JingZhou. Kwan Kong akhirnya menghasil di jebak dan di tawan, kemudian dihukum mati karena menolak untuk menakluk. Karena takut akan pembalasan Liu Bei, kepala Kwan Kong dikirimkan ke tempat Cao Cao. Kwan Kong gugur pada tahun 219 Masehi dalam usia 60 tahun. Cao Cao yang telah lama kagum kepada Kwan Kong, memakamkan kepalanya, setelah disambung dengan tubuh dari kayu cendana, secara kebesaran. Kuburan Kwan Kong terletak di propinsi Henan kira-kira 7 km sebelah utara kota Louyang. Pemandangan di situ sangat indah, sedangkan bangunan kuburannya sangat megah seakan-akan sebuah bukit kecil dari kejauhan. Sekeliling bangunan itu ditanami pohon Bai (Cypress) yang selalu hijau, melambangkan semangat Kwan Kong yang tidak pernah padam dan abadi dari jaman ke jaman. Pohon-pohon itu kini sudah menghutan dan ratusan tahun umurnya, seban itu tempat tersebut dinamakan Guan Lin atau Hutan Guang Gong. Batu nisannya adalah hadiah dari kaisar dinasti Qing, dimana makan itu dipudar kembali.Berdekatan dengan Guan Lin, terdapat sebuat kelenteng peringatan untuk mengenang Kwan Kong, yang dibangun pada jaman dinasti Ming. Kelenteng itu merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang bermutu tinggi, sehingga merupakan objek wisata yang selalu dikunjungi para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri. Kelenteng peringatan Kwan Kong yang tersebar diseluruh Tiongkok terdapat di Jiezhou, propinsi Shanxi. Jiezhou, yang pada jaman San Guo disebut Hedong, adalah kampung halaman Kwan Kong. Kelenteng itu memiliki keindahan bangunan dan arsitektur yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu objek wisata terkemuka di Shanxi.
Sebagai dewata, Kwan Kong dipuja umat Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme, Kaum Taoist memujanya sebagai Dewata pelindung dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusianisme menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum buddhis memujanya sebagai Hu Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma. Menurut kaum Buddist, setelah Kwan Kong meninggal arwahnya muncul dihadapan rahib Pu Jing di kuil Yu Quan Si di gunung Yu Quan Shan, propinsi Hubei, Rahib Pu Jing pernah menolong Kwan Kong yang akan dicelakai seorang panglima Cao Cao, dalam perjalanan bergabung dengan Liu Bei. Setelah itu karena takut pembalasan Cao Cao si rahib menyingkir ke gunung Yu Quan Shan dan mendirikan Kuil Yu Quan Si. Liu Bei yang sangat berterima kasih akan budi Ragib Pu Jing kepada adik angkatnya itu, lalu memberikan dana yang cukup besar untuk membangun kelenteng Yu Quan SI sebagai balas budi.Setelah meninggal roh Kwan Kong kemudian pergi menemui Rahib Pu Jing yang ketika itu sedang bersemedi, Kwan Kong menampakkan diri di hadapan Rahib itu, tempat penampakan roh Kwan Kong itu kemudian ditandai oleh sebatang pilar yang bertuliskan “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri”. Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li jaman Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.Kepada Rahib Pu jing, roh Kwan Kong minta pelajaran Dharma. Sejak itu Kwan Kong menjadi pengikut Buddist dan berikrar menjadi pengawal agama Buddha dan ajarannya.
Telah lebih 1000 tahun sejak itu Kwan Kong dipuja sebagai Boddistsatwa Pelindung Buddhadharma.Penghormatan terhadap Kwan Kong sebagai orang ksatria yang teguh terhadap sumpahnya, tidak goyah akan harta kekuasaan dan kedudukan dan setia terhadap saudara-saudara angkatnya, menyebabkab ia memperoleh penghormatan yang tinggi oleh kaisar - kaisar pada jaman berikutnya. Kwan Kong memperoleh gelar yang tidak tangung-tanggung Ia dsebut ” Di ” yang berarti ” Maha Dewa ” atau ” Maha Raja “. Sejak itu Ia disebut Guan Di atau Guan Di Ye ( Koan Te Ya - Hokkian ) yang berarti Paduka Maha Raja Guan, sebutan Kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di. Tercatat disini beberapa gelar kehormatan untuk Kwan Kong yang dianugrahkan oleh kaisar - kaisar dari berbagai dinasti :
1. Pada tahun 1120 kaisar Wei Zong dari dinasti Song memberi gelar kehormatan sebagai ” Zhong - Yi - Hou atau Raja Muda Nan Setia dan Berbudi “. Delapan tahun kemudian sejak itu, kaisar Gao Zong menanbah dengan sebutan Xie Tian Shang Di atau Maha Raja Agung dan Penentram Langit ( Hiap Thian Siang Te - Kokkian ).
2. Kaisar Wei Zong dari Dinasti Yuan ( Mongol ) pada tahun 1330, menghormatinya dengan tambahan gelar ” Wen Heng Di Jung atau Maha Raja Kesusastraan Yang Abadi “.
3. Kemudian pada tahun 1594 kaisar Wan Li dari dinasti Ming memberi gelar ” Zhong-Yi Da Di yang berarti Maha Raja Agung Yang Berbudi Dan Setia”. Pada jaman ini lebih banyak lagi kelenteng untuknya didirikan sedangkan yang telah ada dipugar diseluruh negeri agar masyarakat luas dapat lebih leluasa menghormatinya.
4. Tahun 1813 kaisar Jia Qing dari dinasti Qing ( Manzhu ) melengkapi gelar untuk Kwan Kong dengan menyebutkan ” Wu Sheng Guan Gong atau Guan Gong Orang Bijak Kemiliteran “.
5. Pada tahun 1813, konon Kwan Kong menampakkan diri membantu pasukan kerajaan dalam pertempuran dengan pasukan pemberontakan. Sejak itu kaisar Xian Feng mengangkat sebagai Dewata Pelindung Kerajaan dan menambah sebutan Fu-Zi yang berarti Nabi, setara dengan nabi besar Kong Fu-Zi ( Kong Hu cu - Hokkian ) dalam upacara kehormatan. Kwan Kong ditampilkan dengan berpakaian perang 1 lengkap, kadang - kadang membaca buku dengan putra angkatnya Guan Ping ( Koan Ping - Hokkian ) yang memegang cap kebesaran dan Zhou Chang pengawalnya yang setia, bertampang hitam brewokan, memegang golok Naga Hijau Mengejar Rembulan, senjata andalan tuannya. Guan Ping memperoleh gelar Ling Hou Thi Zi ( Leng Houw Thay Cu - Hokkian ), hari kelahirannya diperingati tanggal 13 bulan 5 imlek, sedangkan Zhou Chang ( Ciu Jong - Hokkian ) atau Jendral Zhou, diperingati hari kelahirannya pada tanggal 20 bulan 10 imlek. Dalam pemujaan dikalangan buddhis, kwan Kong dipuja sendirian tanpa penggiring. Sering juga ditampilkan sebagai Qie Lan Pu Sa ( Ka Lam Po Sat -Hokkian ) atau Boddhisatwa Pelindung, bersama-sama Wei Tuo.
Hari tahunan Kwan Kong jatuh pada tanggal 13 bulan 2 dan tanggal 13 bulan 5 imlek di Singapura dan Malaysia. Sedangkan Di Hong Kong, Taiwan dan daratan Tiongkok memperingati kelahirannya pada tanggal 24 bulan 6 imlek, tanggal 13 bulan 1 imlek sebagai hari kenaikannya.Seiring dengan mengalirnya para imigran Tionghoa keluar Tiongkok, pemujaan Kwan Kong tersebar ke negara-negara yang menjadi tempat tinggal para perantau itu.
Di Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak sekali kelenteng yang memuja Kwan Kong. Di Indonesia kelenteng yang khusus memuja Kwan Kong, dan terbesar dengan wilayah seluas kira-kira 4 Ha adalah kelenteng Guan Sheng Miao ( Kwan Sin Bio ) di Tuban, Jawa Timur. Ditempat Pemujaan Kwan Kong biasanya ikut dipuja juga seorang tukang kuda yang dipanggil Ma She Ye atau Tuan Ma. Ia bertugas merawat kuda tunggangan Kwan Kong yang disebut Chi-Tu-Ma ( Cek Thou Ma - Hokkian ) atau Kelinci Merah, yang dalam sehari bisa menempuh jarak 500 Km tanpa merasa lelah. Hari lahir Ma She Ye ini diperingati pada tanggal 13 bulan 4 Imlek. Dibeberapa kelenteng di wilayah Taiwan bersama-sama Kwan Kong dipuja Zhang Fei, Sang Adik Angkat, Liu Bei Sang Kakak, dan Zhao Zi Long ( Thio Cu Liong - Hokkian ). Zhao Zi Long atau Zhao Yun ( Thio In - Hokkian ) adalah panglima perang yang terkenal berani yang membantu Liu Bei menegakkan negaranya. Jasa Zhao Yun yang terutama adalah bahwa ia pernah menyelamatkan putra Liu Bei dari tangan musuh-musuhnya. Pada waktu itu Liu Bei sedang menghadapi situasi kritis, serbuan pasukan Cao Cao memaksanya mengundurkan diri untuk membangun pertahanan yang aman.Zhao yun pada waktu itu bertugas mengawal keluarga Liu Bei. Dalam keadaan kacau balau akibat serbuan pasukan Cao Cao, Zhao Yun kehilangan istri Liu Bei bersama putranya. Ia lalu membalikkan kudanya dan menerjang kembali barisan musuh untuk mencari istri junjungannya itu.
Para panglima Cao Cao menyerbunya. Seorang diri Zhao Yun menerjang, siapa yang menghalangi tewas kena tebasan pedang dan tombaknya. Berpuluh-puluh pahlawan Cao Cao tewas ditangannya. Akhirnya istri Liu Bei yaitu Nyonya Mi, ditemukan berlindung di sebuah rumah yang sudah runtuh di dekat sebuah sumur dengan putra dipelukannya. Zhao Yun meminta Sang Nyonya menaiki kudanya, ia mengawalnya sambil berjalan menerobos kepungan musuh yang berlapis-lapis. Tapi Sang Nyonya yang memahami kesulitan pahlawan ini menolak. Setelah menyerahkan putranya agar diselamatkan oleh Zhao Yun, ia lalu menerjunkan diri kedalam sumur. Seorang diri Zhao Yun kembali menerjang kepungan musuh, sampai akhirnya berhasil lolos dan menyerahkan sang bayi kepada Liu Bei yang menunggu dengan cemas. kepahlawanan Zhao Yun ini dilukiskan dengan sangat menawan dalam novel San Guo. Zhao Yun atau Zhao Zi Long secara umum disebut Zi Long Ye atau Paduka Zi Long. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 16 bulan 2 imlek. Zhang Fei diperingati kelahirannya pada tanggal 13 bulan 8 imlek. Sebuah kuil peringatan untuk Zhang Fei terdapat di kaki gunung Fei - feng Shan, di tepi sungai Yang Zi diluar kota Yunyang, propinsi Sichuan, yang dibangun lebih dari 1700 tahun yang lalu, pada akhir kerajaan Shu. Liu Bei diperingati pada tanggal 24 bulan 4 imlek. Pemujaan secara bersama-sama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fei juga sering terdapat untuk mengenang sumpah persaudaraan mereka yang abadi dan di kagumi orangdari jaman ke jaman.
Loa Zi (老子) adalah ahli filsafat yang hidup sekitar 2600 tahun yang lalu. Lewat karya terkenalnya kitab Dao Te Ching (道德经) Lao Zi lalu dianggap sebagai sosok yang memperkenalkan dan mendirikan filosofi Taoisme. Beliau juga dianggap sebagai satu dari Tiga Orang Suci yang lahir pada zaman yang sama (Lao Zi, Kong Zi (孔子), dan Sakyamuni (釋迦)). Riwayat hidup beliau juga sangat beragam karena tidak adanya catatan riwayat hidup akurat saat beliau masih hidup.
Lao Zi hidup di masa 570 sampai dengan 470 Sebelum Maisehi dengan nama asli Li Er (李耳), namun ada yang berpendapat bahwa beliau hidup hingga abad ke-4. Beliau lahir di provinsi Henan pada masa berakhirnya dinasti Zhou (周). Saat terjadinya perpecahan Lao Zi hidup di kerajaan Chu (楚). Masa itu dikenal dengan era Chun Qiu (春秋) di mana kerajaan Zhou terpecah menjadi tujuh kerajaan. Wawasan beliau berkembang saat beliau masih menjabat sebagai sejarahwan dan penjaga arsip kerajaan di masa dinasti Zhao masih belum terpecah. Beliau banyak mempelajari catatan sejarah dan kitab-kitab filosofi.
Setelah kerajaan Zhou terpecah dan terjadinya keambrukan moral kerajaan, beliau kemudian memilih untuk pensiun dari tugasnya dan hidup mengasingkan diri di daerah pegunungan Himalaya untuk memperdalam ilmu kebathinannya. Saat itu beliau sudah berumur sekitar 70 tahun. Versi lain menyebutkan saat mengasingkan diri menjadi petapa beliau berusia sekitar 160 tahun. Pada saat perjalanan menuju pengasingan dirinya Lao Zi bertemu dengan seorang ahli astronomi yang juga seorang yang sedang melatih kesusilaan, ia membujuk agar Lao Zi bersedia menumpahkan buah pikirannya ke dalam bentuk karya tulis. Beliau menyetujuinya dan menulis buah pikirnya yang berjumlah 5.000 huruf (aksara China) dalam 12 bab. Salah satu kebijaksanaannya yang ditulis dan menjadi populer adalah kitab Dao De Jing yang bertuang dalam 81 gulung bambu (kertas pada masa itu berbentuk lempengan bambu).
Dalam kitab Dao De Jing, beliau menggambarkan alam semesta yang mempunyai suatu titik sumber dan merupakan akar dari semua hal, sumber tersebut diistilahkan dengan huruf Dao (道) yang diartikan sebagai kehampaan. “Segala sesuatu terbentuk dari kehampaan karena tanpa adanya kehampaan maka tak ada suatupun yang dapat terbentuk, dan akhirnya, semua bentuk akan kembali kedalam kehampaan untuk mengkondisikan terbentuknya kembali suatu bentuk.”
Livia Kohn yang merupakan seorang ahli filosofi memberikan contoh cara kerja ajaran Lao Zi menanggapi kehidupan; Lao Zi mengajarkan ketenangan dan pikiran yang bebas dari keinginan dalam menghadapi kehidupan. Jelas, Lao Zi tidak mengajarkan tindakan menghindari hidup yang memang penuh kesulitan namun bagaimana kita menghadapi masalah-masalah dengan ketenangan dan kebijaksanaan serta tanpa mementingan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dalam penerapannya di dalam pemerintahan, Dao De Jing mengajarkan konsep kerendahan hati sebagai kebijakan utama. Dengan menerapkannya di bidang politik maka segala macam bentuk kekerasan yang saat itu selalu terjadi, seperti perang, hukuman yang keras dan kejam serta penerapan pajak yang tinggi, dapat dihindarkan. Keagungan pikiran Lao Zi membuat banyak kalangan, mulai dari pelajar, pejabat, maupun ahli filosofi lain, yang menemuinya untuk meminta petunjuk maupun berdiskusi. Kong Zi, pelopor Kongfusius, juga pernah menemui beliau beberapa kali untuk berdiskusi tentang moral dan prilaku hidup yang harmonis.
Dua diantara keduabelas kitabnya terdapat ajaran yang mengajarkan hubungan antara manusia dengan makhluk yang tak terlihat, seperti dewa dan setan. Kedua bab tersebut selain membahas tentang dewa-dewa dengan fungsi atau tugas tertentu, juga mengajarkan cara meditasi untuk menenangkan pikiran, cara penulisan jimat (Hu) dan mengajarkan tata cara ritual pemujaan dewa-dewa.
Pada masa dinasti Han Timur (东汉) Lao Zi dinyatakan sebagai pendiri Tao dan diberi sebutan Tai Shang Lao Jun ( 太上老君 dalam bahasa mandarin, Thai Siang Lo Kun dalam bahasa hokkian). Dan di masa dinasti Tang (唐) para raja, keluarga raja, pejabat tinggi dan bangsawan diwajibkan mempelajari Dao De Jing, bahkan kitab tersebut dijadikan sebagai salah satu pelajaran ujian kenegaraan. Selain itu setiap gubernur diwajibkan mendirikan sebuah kuil Tao yang megah di masing-masing provinsinya.
Hingga kini 5.000 huruf yang beliau ajarkan telah banyak dianut luas di seluruh dunia, bahkan paham Toisme telah mendominasi trasidi masyarakat Buddha-tionghua di Indonesia. Umat Buddhis banyak menempelkan tradisi Taoisme ke dalam ritual ajaran Buddha, antara lain; pemujaan dewa-dewa, sembahyang di kuil atau kelenteng Tao, dan tata cara sembahyang Tao. Itu semua adalah akibat kuatnya pengaruh Taoisme dalam budaya etnis tionghua.
Sumber:http://padmakumara.wordpress.com/2010/02/23/dewa-kwan-kong-dalam-tradisi-tibet/
Lao Zi hidup di masa 570 sampai dengan 470 Sebelum Maisehi dengan nama asli Li Er (李耳), namun ada yang berpendapat bahwa beliau hidup hingga abad ke-4. Beliau lahir di provinsi Henan pada masa berakhirnya dinasti Zhou (周). Saat terjadinya perpecahan Lao Zi hidup di kerajaan Chu (楚). Masa itu dikenal dengan era Chun Qiu (春秋) di mana kerajaan Zhou terpecah menjadi tujuh kerajaan. Wawasan beliau berkembang saat beliau masih menjabat sebagai sejarahwan dan penjaga arsip kerajaan di masa dinasti Zhao masih belum terpecah. Beliau banyak mempelajari catatan sejarah dan kitab-kitab filosofi.
Setelah kerajaan Zhou terpecah dan terjadinya keambrukan moral kerajaan, beliau kemudian memilih untuk pensiun dari tugasnya dan hidup mengasingkan diri di daerah pegunungan Himalaya untuk memperdalam ilmu kebathinannya. Saat itu beliau sudah berumur sekitar 70 tahun. Versi lain menyebutkan saat mengasingkan diri menjadi petapa beliau berusia sekitar 160 tahun. Pada saat perjalanan menuju pengasingan dirinya Lao Zi bertemu dengan seorang ahli astronomi yang juga seorang yang sedang melatih kesusilaan, ia membujuk agar Lao Zi bersedia menumpahkan buah pikirannya ke dalam bentuk karya tulis. Beliau menyetujuinya dan menulis buah pikirnya yang berjumlah 5.000 huruf (aksara China) dalam 12 bab. Salah satu kebijaksanaannya yang ditulis dan menjadi populer adalah kitab Dao De Jing yang bertuang dalam 81 gulung bambu (kertas pada masa itu berbentuk lempengan bambu).
Dalam kitab Dao De Jing, beliau menggambarkan alam semesta yang mempunyai suatu titik sumber dan merupakan akar dari semua hal, sumber tersebut diistilahkan dengan huruf Dao (道) yang diartikan sebagai kehampaan. “Segala sesuatu terbentuk dari kehampaan karena tanpa adanya kehampaan maka tak ada suatupun yang dapat terbentuk, dan akhirnya, semua bentuk akan kembali kedalam kehampaan untuk mengkondisikan terbentuknya kembali suatu bentuk.”
Livia Kohn yang merupakan seorang ahli filosofi memberikan contoh cara kerja ajaran Lao Zi menanggapi kehidupan; Lao Zi mengajarkan ketenangan dan pikiran yang bebas dari keinginan dalam menghadapi kehidupan. Jelas, Lao Zi tidak mengajarkan tindakan menghindari hidup yang memang penuh kesulitan namun bagaimana kita menghadapi masalah-masalah dengan ketenangan dan kebijaksanaan serta tanpa mementingan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dalam penerapannya di dalam pemerintahan, Dao De Jing mengajarkan konsep kerendahan hati sebagai kebijakan utama. Dengan menerapkannya di bidang politik maka segala macam bentuk kekerasan yang saat itu selalu terjadi, seperti perang, hukuman yang keras dan kejam serta penerapan pajak yang tinggi, dapat dihindarkan. Keagungan pikiran Lao Zi membuat banyak kalangan, mulai dari pelajar, pejabat, maupun ahli filosofi lain, yang menemuinya untuk meminta petunjuk maupun berdiskusi. Kong Zi, pelopor Kongfusius, juga pernah menemui beliau beberapa kali untuk berdiskusi tentang moral dan prilaku hidup yang harmonis.
Dua diantara keduabelas kitabnya terdapat ajaran yang mengajarkan hubungan antara manusia dengan makhluk yang tak terlihat, seperti dewa dan setan. Kedua bab tersebut selain membahas tentang dewa-dewa dengan fungsi atau tugas tertentu, juga mengajarkan cara meditasi untuk menenangkan pikiran, cara penulisan jimat (Hu) dan mengajarkan tata cara ritual pemujaan dewa-dewa.
Pada masa dinasti Han Timur (东汉) Lao Zi dinyatakan sebagai pendiri Tao dan diberi sebutan Tai Shang Lao Jun ( 太上老君 dalam bahasa mandarin, Thai Siang Lo Kun dalam bahasa hokkian). Dan di masa dinasti Tang (唐) para raja, keluarga raja, pejabat tinggi dan bangsawan diwajibkan mempelajari Dao De Jing, bahkan kitab tersebut dijadikan sebagai salah satu pelajaran ujian kenegaraan. Selain itu setiap gubernur diwajibkan mendirikan sebuah kuil Tao yang megah di masing-masing provinsinya.
Hingga kini 5.000 huruf yang beliau ajarkan telah banyak dianut luas di seluruh dunia, bahkan paham Toisme telah mendominasi trasidi masyarakat Buddha-tionghua di Indonesia. Umat Buddhis banyak menempelkan tradisi Taoisme ke dalam ritual ajaran Buddha, antara lain; pemujaan dewa-dewa, sembahyang di kuil atau kelenteng Tao, dan tata cara sembahyang Tao. Itu semua adalah akibat kuatnya pengaruh Taoisme dalam budaya etnis tionghua.
Sumber:http://padmakumara.wordpress.com/2010/02/23/dewa-kwan-kong-dalam-tradisi-tibet/
Neraka Menurut 7 Agama Berbeda
Tubuh manusia pendosa yang sudah meninggal konon kelak akan direbus, digergaji, dibakar, atau kepalanya dipancung. Kok Tuhan digambarkan jadi sadis kayak gini, ya…? Tapi katanya Tuhan maha pengampun. Katanya Tuhan penuh kasih. Katanya dosa manusia terampuni kalau sudah Hidup Baru. Katanya lagi, dosa seluas apapun akan dihapus asalkan kita sudah bertobat dan mohon ampun pada Tuhan.
Hampir semua gambar dan teks di bawah ini diambil dari blog Weekly World News. Berikut adalah gambaran neraka dari beberapa agama yang berbeda.
Gambar lukisan neraka versi 7 agama
Agama Kristen — Neraka dalam versi ajaran agama Kristen adalah di mana tubuh pendosa akan dibakar selama-lamanya dalam api abadi yang takkan pernah padam.
Spoiler for Neraka versi Kristen:
Spoiler for Neraka versi Jain:
Spoiler for Neraka versi Islam:
Spoiler for Neraka agama Hindu:
Spoiler for Neraka versi Buddha:
Agama Taoisme — Percaya bahwa neraka sebenarnya ada di dalam kuil itu sendiri, tapi di sana ada iblis-iblis yang siap menerkam para manusia pendosa dengan senjata tajam.
Spoiler for Neraka versi Taoisme:
Agama Judaisme — Yahudi Ortodox percaya di neraka kelak tubuh manusia pendosa akan direbus atau dikuliti.
Sumber :hermawayne.blogspot.com
Kebudayaan dan Filsafat Tiongkok: Konfusianisme, Taoisme,Budhisme
Kebudayaan dan filsafat merupakan dua hal yang berkaitan erat dan mencirikan kehidupan bangsa Cina. Kebudayaan mungkin tidak hanya dimiliki oleh bangsa Cina saja, melainkan juga oleh bangsa lain. Namun, hal yang paling melekat, mendasar dan mencirikan bangsa Cina adalah filsafatnya, yaitu filsafat-filsafat Cina yang menjadi pedoman hidup para bangsa Cina dan akhirnya menyebar hingga menjadi sebuah ajaran yang dikenal oleh banyak masyarakat baik di dalam wilayah Cina maupun di luar kawasan Cina. Hal ini disebabkan karena banyak para ahli yang menyatakan bahwa peradaban Cina telah dianggap sebagai pusat kebudayaan di Timur (di Barat adalah peradaban Yunani). Hal ini disebabkan karena peradaban Cina dianggap sebagai peradaban dan kebudayaan yang paling tua dan terkaya yang diketahui oleh manusia, baik pada masa kuno maupun pada masa sekarang. Namun dewasa ini, peradaban dan kebudayaan Cina sedikit banyak mulai mendapat pengaruh dari budaya Barat yang merupakan dampak dari globalisasi.
Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan sedikit tentang asal mula terminologi “kebudayaan” dan definisinya secara harfiah. Selanjutnya, pada tulisan ini penulis akan membahas sedikit mengenai istilah “filsafat”. Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Namun, tidak ada definisi pasti yang dapat menggambarkan istilah filsafat ini karena pengertiannya secara terminologi sangat beragam, Dr. Harry Hamersma (1981) mencoba untuk mendefinisikan filsafat sesuai dengan pemahamannya, yaitu merupakan sebuah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, antara lain; keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan.
Filsafat Cina merupakan sebuah filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiran Cina. Filsafat Cina berbeda dengan filsafat Yunani yang lebih cenderung pada ilmu pengetahuan. Filsafat Cina Kuno memandang soal perubahan dan transformasi sebagai sebuah sifat dunia yang tidak bisa direduksikan lagi, termasuk di dalamnya benda-benda dan manusia itu sendiri. Ada perbedaan yang mencolok antara Filsafat Cina dengan filsafat Barat. Filsafat Cina menekankan pada perubahan, becoming, waktu dan temporalitas, dan tidak hanya membedakan metafisika Cina tentang realitas dan alam dari trend utama tradisi filsafat Barat tetapi juga dari orientasi filsafat India. Ketika berbicara tentang filsafat Cina, terdapat tiga tema utama yang perlu diperhatikan, antara lain; Harmoni, yaitu menghindari bentuk kekerasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan surga. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati yang tampak pada keterbukaan sikap terhadap pendapat yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Kemanusiaan, dimana manusia merupakan pusat pemikiran filsafat Cina (Filsuf) yang mengembangkan diri dalam interaksi dengan sesama dan alam demi keinginannya untuk mengejar kebahagiaan dunia Konfusianisme Konfusianisme merupakan ajaran atau filsafat Cina yang sangat terkenal dan dapat dikatakan sebagai ajaran yang mencirikan bangsa Cina. Ajaran ini pertama kali dibawa oleh seorang filsuf Cina yang hidup pada antara 552 dan 479 S.M bernama Konfusius. Ajaran yang merupakan hasil buah pikirannya ini adalah suatu filsafat sosial yang mencita-citakan suatu negara kesatuan untuk seluruh daerah Cina, khususnya, dan seluruh peradaban manusia, umumnya. Lahirnya pemikiran ini didasarkan pada situasi dan keadaa yang kacau pada masa itu dimana terjadi perebutan kekuasaan oleh raja-raja Cina. Konfusius pun menganjurkan ajaran harmonic antara manusia dengan alam maupun antara maunsia dengan manusia. Dengan adanya kesadaran untuk menjalankan tugas sesuai kedudukannya, maka tidak akan terjadi perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, ajaran ini menitikberatkan pada ceremonie atau rituel untuk menentukan posisi dan tugas masing-masing sesuai jabatannya. Hal ini disebabkan karena Konfusius meyakini bahwa untuk menghasilkan suatu moral yang baik, tidak akan dapat dicapai dengan kekuatan raja atau bangsawan saja, tetapi hanya dapat dicapai dengan memelihara upacara-upacara tradisional (Tjeng 1977).
Di Indonesia, istilah Konfusianisme dikenal dengan nama Kong Hu Tju atau Kong Fu Tse (Guru dari suku Kung). Pengikut ajaran ini berpendapat bahwa manusia dapat mencapai keharmonisan yang terbaik antara langit dan bumi. Titik berat dari ajaran ini terletak pada kekuatan manusia dengan pemeliharaan sopan santun dalam realitas pembinaan keharmonisan sosial, bukan pada fenomena alam.
Taoisme
Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Ajaran ini adalah ajaran pertama bagi orang Cina, yang merupakan suatu spekulasi filsafat. Taoisme diajarkan oleh seorang Lao Tse (Guru tua) yang diperkirakan hidup sekitar 550 S.M. Taoisme didasarkan pada ajaran Tao yaitu suatu jalan yang seharusnya atau jalan benar (wu-wie). Dengan ajaran ini, manusia dapat menghindarkan diri dari segalam keadaan yang bertentangan dengan ritme alam semesta (Tjeng 1977). Atau dapat dikatakan bahwa ajaran yang diajarkan oleh Lao Tse ini telah melawan ajaran Konfusianisme yang diajarkan oleh Konfusius. Lao Tse menyebutnya sebagai “jalan alam” bukan “jalan manusia” yang menjadi hal yang diajarkan dalam ajaran Tao. Menurut Lao Tse, ajaran Taoisme lebih metafisika, lebih mutlak dengan prinsip kenyataan objektif dibandingkan dengan ajaran Konfusianisme yang lebih pada etika Tao adalah jalan Tuhan. Menurut mitologi Cina, pencipta tunggal (Tuhan) bernama “Wu-Chi” yang akhirnya kemudian menciptakan “Tai-Chi”, dan “Tai-Chi” inilah yang kemudian menciptakan prinsip “Yin-Yang” alam semesta. Inti dari ajaran Taoisme ini sejatinya adalah fokus pada jalan alam dimana segala pranata dan konvensi sosial harus diabaikan dan ditinggalkan. Sehingga, manusia harus menarik diri dari peradaban sosial dan kembali kepada alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Taoisme adalah ajaran yang menjunjung tinggi Tao (Tuhan) dan alam. Hal inilah yang mengakibatkan pemikiran Taoisme disebut sebagai pemikiran naturalistik.
Yin-Yang
Menurut dasar pemikiran orang Cina, seluruh fenomena alam dapat dibagi dalam dua klasifikasi, yaitu “Yin” dan “Yang”. Tentunya istilah ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua karena istilah ini kerap menjadi patokan dalam berbagai hal, salah satunya adalah kesehatan a la Cina (Sin Se). Pada dasarnya, aliran ini merupakan cabang dari ajaran Taoisme. Aliran ini mengajarkan tentang adanya prinsip “Yin” yang melambangkan perempuan, bulan, gelap (malam), kematian dan pasif. Sedangkan “Yang” melambangkan laki-laki, matahari, panas, cahaya (siang), kehidupan dan aktif. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat “Yin” tertentu dan derajat “Yang” tertentu. Berdasarkan ajaran ini, manusia harus menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta, yaitu kehidupan harus harmonis dengan tiga dasar kehidupan, yaitu: kehidupan langit, kehidupan bumi dan kehidupan manusia itu sendiri. Selain itu, manusia juga harus disesuaikan dengan angin dan air (Feng-Shui). Dengan penyesuaian ini diharapkan dapat menghindarkan manusia dari segala malapetaka dan membuat setiap manusia semakin hormat terhadap para dewa (Tjeng 1977). Hal ini didasarkan pada lima aspek kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam menjalani kehidupan, yaitu: Takdir, Keberuntungan, Amal, Upaya dan Feng-Shui.
Buddhisme
Buddhisme adalah suatu sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, yang serupa dengan sistem pendidikan Konfusianisme yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan, yang mana sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.Terkait dengan pembahasan sebelumnya, dalam pandangan agama Buddha (Buddhisme), takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Dalam ajaran Buddha, karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Namun, bukan berarti ajaran ini sama dengan ajaran Feng-Shui. Perbedaannya adalah, para ahli Feng-Shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Namun, dalam pandangan ajaran Buddha, jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Dengan kata lain, para Buddhis mengganggap bahwa kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, karena hina atau mulia perbuatan tersebut tidak dapat ditentukan dengan hanya mengatur Feng Shui tanpa ada akibat dan balasan dari setiap perbuatannya
Dalam penerapannya, orang-orang Cina intelek telah mempergunakan dan mengimplementasikan ajaran Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme sebagai landasan yang pertama-tama dalam sistem falsafahnya. Dalam praktek menjalankan tiga agama tersebut, orang Cina memeluk dan menjalankan semuanya dengan mencampurkan ajaran-ajarannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang Cina sangat bebas dalam memilih kepercayaan dari agama yang dianutnya, dan hanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk satu agama saja.
Walaupun dapat dengan bebas memeluk agam dan mencampurkan ketiganya, namun ajaran Konfusianisme lah yang telah mempengaruhi orang-orang Cina secara mendalam dan berkelanjutan dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan orang Cina berfilsafat humanistis yang dianggap sebagai sifat Tuhan (Thien) (Tjeng 1977).
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Timur/cina
Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan sedikit tentang asal mula terminologi “kebudayaan” dan definisinya secara harfiah. Selanjutnya, pada tulisan ini penulis akan membahas sedikit mengenai istilah “filsafat”. Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Namun, tidak ada definisi pasti yang dapat menggambarkan istilah filsafat ini karena pengertiannya secara terminologi sangat beragam, Dr. Harry Hamersma (1981) mencoba untuk mendefinisikan filsafat sesuai dengan pemahamannya, yaitu merupakan sebuah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Terdapat tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, antara lain; keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan.
Filsafat Cina merupakan sebuah filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiran Cina. Filsafat Cina berbeda dengan filsafat Yunani yang lebih cenderung pada ilmu pengetahuan. Filsafat Cina Kuno memandang soal perubahan dan transformasi sebagai sebuah sifat dunia yang tidak bisa direduksikan lagi, termasuk di dalamnya benda-benda dan manusia itu sendiri. Ada perbedaan yang mencolok antara Filsafat Cina dengan filsafat Barat. Filsafat Cina menekankan pada perubahan, becoming, waktu dan temporalitas, dan tidak hanya membedakan metafisika Cina tentang realitas dan alam dari trend utama tradisi filsafat Barat tetapi juga dari orientasi filsafat India. Ketika berbicara tentang filsafat Cina, terdapat tiga tema utama yang perlu diperhatikan, antara lain; Harmoni, yaitu menghindari bentuk kekerasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan surga. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati yang tampak pada keterbukaan sikap terhadap pendapat yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Kemanusiaan, dimana manusia merupakan pusat pemikiran filsafat Cina (Filsuf) yang mengembangkan diri dalam interaksi dengan sesama dan alam demi keinginannya untuk mengejar kebahagiaan dunia Konfusianisme Konfusianisme merupakan ajaran atau filsafat Cina yang sangat terkenal dan dapat dikatakan sebagai ajaran yang mencirikan bangsa Cina. Ajaran ini pertama kali dibawa oleh seorang filsuf Cina yang hidup pada antara 552 dan 479 S.M bernama Konfusius. Ajaran yang merupakan hasil buah pikirannya ini adalah suatu filsafat sosial yang mencita-citakan suatu negara kesatuan untuk seluruh daerah Cina, khususnya, dan seluruh peradaban manusia, umumnya. Lahirnya pemikiran ini didasarkan pada situasi dan keadaa yang kacau pada masa itu dimana terjadi perebutan kekuasaan oleh raja-raja Cina. Konfusius pun menganjurkan ajaran harmonic antara manusia dengan alam maupun antara maunsia dengan manusia. Dengan adanya kesadaran untuk menjalankan tugas sesuai kedudukannya, maka tidak akan terjadi perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, ajaran ini menitikberatkan pada ceremonie atau rituel untuk menentukan posisi dan tugas masing-masing sesuai jabatannya. Hal ini disebabkan karena Konfusius meyakini bahwa untuk menghasilkan suatu moral yang baik, tidak akan dapat dicapai dengan kekuatan raja atau bangsawan saja, tetapi hanya dapat dicapai dengan memelihara upacara-upacara tradisional (Tjeng 1977).
Di Indonesia, istilah Konfusianisme dikenal dengan nama Kong Hu Tju atau Kong Fu Tse (Guru dari suku Kung). Pengikut ajaran ini berpendapat bahwa manusia dapat mencapai keharmonisan yang terbaik antara langit dan bumi. Titik berat dari ajaran ini terletak pada kekuatan manusia dengan pemeliharaan sopan santun dalam realitas pembinaan keharmonisan sosial, bukan pada fenomena alam.
Taoisme
Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Ajaran ini adalah ajaran pertama bagi orang Cina, yang merupakan suatu spekulasi filsafat. Taoisme diajarkan oleh seorang Lao Tse (Guru tua) yang diperkirakan hidup sekitar 550 S.M. Taoisme didasarkan pada ajaran Tao yaitu suatu jalan yang seharusnya atau jalan benar (wu-wie). Dengan ajaran ini, manusia dapat menghindarkan diri dari segalam keadaan yang bertentangan dengan ritme alam semesta (Tjeng 1977). Atau dapat dikatakan bahwa ajaran yang diajarkan oleh Lao Tse ini telah melawan ajaran Konfusianisme yang diajarkan oleh Konfusius. Lao Tse menyebutnya sebagai “jalan alam” bukan “jalan manusia” yang menjadi hal yang diajarkan dalam ajaran Tao. Menurut Lao Tse, ajaran Taoisme lebih metafisika, lebih mutlak dengan prinsip kenyataan objektif dibandingkan dengan ajaran Konfusianisme yang lebih pada etika Tao adalah jalan Tuhan. Menurut mitologi Cina, pencipta tunggal (Tuhan) bernama “Wu-Chi” yang akhirnya kemudian menciptakan “Tai-Chi”, dan “Tai-Chi” inilah yang kemudian menciptakan prinsip “Yin-Yang” alam semesta. Inti dari ajaran Taoisme ini sejatinya adalah fokus pada jalan alam dimana segala pranata dan konvensi sosial harus diabaikan dan ditinggalkan. Sehingga, manusia harus menarik diri dari peradaban sosial dan kembali kepada alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Taoisme adalah ajaran yang menjunjung tinggi Tao (Tuhan) dan alam. Hal inilah yang mengakibatkan pemikiran Taoisme disebut sebagai pemikiran naturalistik.
Yin-Yang
Menurut dasar pemikiran orang Cina, seluruh fenomena alam dapat dibagi dalam dua klasifikasi, yaitu “Yin” dan “Yang”. Tentunya istilah ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua karena istilah ini kerap menjadi patokan dalam berbagai hal, salah satunya adalah kesehatan a la Cina (Sin Se). Pada dasarnya, aliran ini merupakan cabang dari ajaran Taoisme. Aliran ini mengajarkan tentang adanya prinsip “Yin” yang melambangkan perempuan, bulan, gelap (malam), kematian dan pasif. Sedangkan “Yang” melambangkan laki-laki, matahari, panas, cahaya (siang), kehidupan dan aktif. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat “Yin” tertentu dan derajat “Yang” tertentu. Berdasarkan ajaran ini, manusia harus menyesuaikan diri dengan ritme alam semesta, yaitu kehidupan harus harmonis dengan tiga dasar kehidupan, yaitu: kehidupan langit, kehidupan bumi dan kehidupan manusia itu sendiri. Selain itu, manusia juga harus disesuaikan dengan angin dan air (Feng-Shui). Dengan penyesuaian ini diharapkan dapat menghindarkan manusia dari segala malapetaka dan membuat setiap manusia semakin hormat terhadap para dewa (Tjeng 1977). Hal ini didasarkan pada lima aspek kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam menjalani kehidupan, yaitu: Takdir, Keberuntungan, Amal, Upaya dan Feng-Shui.
Buddhisme
Buddhisme adalah suatu sistem pendidikan Buddha Shakyamuni, yang serupa dengan sistem pendidikan Konfusianisme yang tersebar luas di Cina. Tujuan pendidikan Buddhis adalah untuk mencapai kebijaksanaan, yang mana sering disebut Anuttara-samyak-sambhodi. Sistem pendidikan Buddhis bertujuan memperkaya kodrat (alam intrinsik) manusia sehingga memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan inti ajaran Buddha adalah: disiplin, meditasi dan kebijaksanaan.Terkait dengan pembahasan sebelumnya, dalam pandangan agama Buddha (Buddhisme), takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma (perbuatan) seseorang. Dalam ajaran Buddha, karma masa lalu memang telah berlalu dan telah menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Namun, bukan berarti ajaran ini sama dengan ajaran Feng-Shui. Perbedaannya adalah, para ahli Feng-Shui berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng shui buatan. Namun, dalam pandangan ajaran Buddha, jalan kehidupan seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang, karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Dengan kata lain, para Buddhis mengganggap bahwa kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, karena hina atau mulia perbuatan tersebut tidak dapat ditentukan dengan hanya mengatur Feng Shui tanpa ada akibat dan balasan dari setiap perbuatannya
Dalam penerapannya, orang-orang Cina intelek telah mempergunakan dan mengimplementasikan ajaran Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme sebagai landasan yang pertama-tama dalam sistem falsafahnya. Dalam praktek menjalankan tiga agama tersebut, orang Cina memeluk dan menjalankan semuanya dengan mencampurkan ajaran-ajarannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang Cina sangat bebas dalam memilih kepercayaan dari agama yang dianutnya, dan hanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk satu agama saja.
Walaupun dapat dengan bebas memeluk agam dan mencampurkan ketiganya, namun ajaran Konfusianisme lah yang telah mempengaruhi orang-orang Cina secara mendalam dan berkelanjutan dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan orang Cina berfilsafat humanistis yang dianggap sebagai sifat Tuhan (Thien) (Tjeng 1977).
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Timur/cina
Langganan:
Postingan (Atom)
