Kamis, 17 Mei 2012

PANDANGAN HIDUP DAN KEPERCAYAAN ORANG CINA: TAOISME, KONFUSIANISME, DAN BUDHISME

Taoisme juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi  sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing. Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi.
Menurut ajaran Tao, manusia pada hakekatnya terlahir dalam keadaan suci dan baik. Jalan yang ditempuh untuk mempertahankan dan memelihara kesucian dan keadaan baik. Ia percaya jalan ini dapat menghindarkan manusia dari segala hal yang bertentangan dengan ritme atau irama alam semesta. Terdapat lima budi baik jalan Tuhan yakni:
  1. Berkelakuan ramah tamah
  2. Berkelakuan sopan santun
  3. Harus cerdas
  4. Harus jujur
  5. Harus adil
Taoisme berasalkan dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah De. Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Taoisme yang merupakan landasan kealamian. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa. Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang, dalam Daode Jing Bab 42.
Secara terminologi, Yin dan Yang diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda bersifat dualisme yang terdiri dari unsur positif dan unsur negatif. Benda yang tidak memiliki unsur negatif dan positif, itu bermakna kosong dan hampa. Seperti halnya magnet, magnet mempunyai unsur positif dan negatif, kedua-duanya bersifat saling melengkapi. Magnet tanpa unsur positif, maka tidak terwujudnya unsur negatif. Itu bermakna bahwa magnet tidak akan terwujud jika tidak memiliki kedua unsur tersebut.
Konfusianisme
Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang mekanismenya untuk mengawasi tingkah laku masyarakat tersebut yang dilahirkan dan dibesarkan dibawah pengaruh budaya Konfusianisme yang menekankan pada kehidupan keluarga dan perkembangan pribadi. Budaya Konfusianisme ini adalah dasar yang unik dari tingkah laku/sikap masyarakat di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan inti dari sikap masyarakat di Barat. Saat ini kita tidak dapat melupakan orang Asia-Amerika. Berdasarkan harian Washington Post, “Meskipun Orang Asia-Amerika hanya merupakan 2.4 persen dari populasi negara, mereka merupakan 17.1 persen mahasiswa di universitas Harvard, 18 persen di Massachussets Institute of Technology dan 27.3 persen di Universitas California -Berkeley. Di Universitas California- Irvine, 35.1 persen dari mahasiswanya adalah orang Asia-Amerika, bahkan perbandingan class barunya lebih tinggi : 41 persen. Sifat kerja keras orang-orang Asia merupakan warisan Konfusianisme secara umum, filsafat 5 abad sebelum masehi, orang Bijaksana dari Cina yang mengajarkan orang untuk menjadi sempurna hanya melalui pendidikan dan latihan (praktek). Khonghucu (Confucius) bukan hanya merupakan karakter pada masa lalu, beliau adalah kenyataan hidup dari masayarakat tersebut.
Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu (Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban. Peperangan harus dihindarkan; dan Persatuan Besar dari seluruh dunia harus dikembangkan.
Konfusianisme bukan satu-satunya yang disebut agama. Khonghucu sendiri sangat percaya kepada Tuhan dan mengajarkan Tao-nya yang membimbing umat manusia ke Jalan yang terang, dengan cara ini akan menyatu/manunggal dengan Tuhan, dengan tanpa mempertujukkan orang dapat membuktikannya; dengan tanpa menggerakkan orang membuat perubahan, dan tanpa berusaha orang dapat memperoleh hasil akhirnya. Ajaran Khonghucu adalah yang paling suci diantara ajaran suci, dan mungkin di atas semua agama dan tidak pernah bertentangan dengan mereka. Beliau percaya bahwa semua orang di dunia ini adalah bersaudara di bawah Tuhan Yang Esa.
Analisis
Pada dasarnya kepercayaan orang Cina pada umumnya didasarkan pada keyakinan bahwa di dunia ini manusia merupakan refleksi dari kehidupan alam semesta. Baik Konfusianisme maupun Taoismme, kedua lebih menekankan pada way of life, bagaimana seharusnya manusia hidup, berinteraksi dan saling menjaga suatu kondisi damai. Oleh karenanya banyak orang menganggap keduanya bias menjadi ajaran hidup atau filsafat daripada teologi kendati keduanya juga tidak melepaskan adanya ritual-ritual di dalamnya. Ini mungkin adalah sebuah alasan yang mempermudah kepercayaan ini masuk dan dipelajari oleh bangsa-bangsa lainnya sebagaimana di Indonesia  sendiri. Pada kenyataannya bangsa Cina pada saat ini memeluk agama Kristem Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu namun mereka tetap memegang erat ajaran hidup dan kepercayaan Taoisme dan Konfusianisme yang dipercaya akan menyeimbangkan kehidupan mereka
.
Referensi:
Tjeng, Lie T. 1983. Studi Wilayah pada Umumnya Asia Timur Pada Khususnya. Bandung: Penerbit Alumni
homepage://www.wam.umd.edu/-tkang, email: tkang@wam.umd.edu (diakses 22 Maret 2010)
http://www.taoist.org.cn/jingdian (diakses 22 Maret 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar