Rabu, 16 Mei 2012

Etika dalam agama Khonghucu

Etika dalam pengertian Umum  (Ensklopedia Indonesia 1980), etika diartikan sebagai ilmu tentang kesusilaan, yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat. Sedangkan Professor Dr. lin Yu Tang, dalam bukunya yang berjudul  “My Country and  My People”, 1936, mengartikan bahwa moral konfusiani itu sebagai  “Upaya manusia untuk memperoleh kebijakan dalam garis-garis kebijaksanaan dan berperilaku sebagai raja.
Dilihat dari ajaran-ajaran agama khonghucu di lihat dari kitab sucinya, tampaknya khonghucu sangat menekankan pentingnya nilai-nilai etika. Menurut Khonghucu etika itu penting untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Untuk mengenal  ajaran etika Khonghucu secara mendalam, maka kita harus mengenal apa yang disebut dengan San Kang (tiga hubungan tata karma), Ngo Lun (Lima norma kesopanan dalam masyarakat ), Pa Te (Delapan sifat mulia atau delapan kebijakan ), pentingnya nilai belajar bagai manusia dan etika terhadap makluk halus.

1.         San kang (tiga hubungan tata karma)
Pengertian dari San Kang atau tiga hubungan tata karma ini adalah :

a.      Hubungan raja dengan menteri atau atasan dengan bawahan
Ungkapan khonghucu :
            “seorang raja memperlakukan mentrinya dengan Li  (kesopanan atau penuh dengan budi pekerti  yang baik). Seorang mentri mengabdi kepada raja dengan kesetiaannya.” (Lun Gi  III: 19)
            Perkataan khonghucu diatas menggambarkan bahwa seorang pemimpin haruslah bersifat arif dan bijaksana terhadap orang yang dipimpinnya, dan begitu juga seorang bawahan haruslah dapat menghormati atasannya sebagai mana layaknya seorang atasan.

b.      Hubngan orang tua dengan anak

Khonghucu juga membicarakan tentang hubungan bapak dengan anak-anaknya, dan juga sebaliknya hubungan anak dengan orang tuanya.
Perkataan khonghucu :
            “ Raja berfungsi sebagai fungsi, menteri  berfungsi sebagai  menteri, ayah berfungsi sebagai ayah dan anak berfungsi sebagai anak.” (Lun Gi XII: II) Perkataan khonghucu di atas menggambarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari , seseorang harus dapat menempatkan fungsi sosialnya dengan baik.

c.       Hubungan suami dengan istri

Bagi Khonghucu hubungan suami  dengan istri haruslah juga didasarkan pada sifat-sifat baik dan terpuji. Seorang suami haruslah dapat menghormati  istrinya dan begitu juga sebaliknya.  Hal ini dapat dilihat dari kata-kata Mencius di bawah ini :
            “Menurut (mengikuti) sifat-sifat yang benar itulah jalan suci bagi seorang wanita”. (Mencius III, 2;2) istri yang baik itu adalah istri yang tunduk dan patuh terhadap printah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri yang selalu melanggar  perintah suaminya.
Jika seorang istri dapat menuruti perintah suaminya, bukan berarti suami dapat berbuat sekehendak hatinya, namun suami hendaklah dapat berbuat yang terbaik untuk istrinya. Bagi khanghucu sebaiknya suami bersikap sebagai seorang kuncu (manusia budiman) yang dapat menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.

2.      Ngo Lun (lima norma kesopanan dalam masyarakat)

Ngo Lun itu juga disebut sebagai Wu Luen, yang artinya juga “lima norma kesopanan dalam masyarakat”. Baik Ngo Lun, maupun Wu Luen, mempunyai arti yang sama.
Orang harus menjaga lima hubungan ini, karna lima hubungan timbal balik sebagai sesuatu lingkaran keseimbangan hidup, yaitu hubungan yang seimbang.
            Dalam San Kang dibicarakan tentang: (1) Hubungan raja dengan menteri atau hubungan atasan dengan bawahan, (2) Hubungan Ayah dengan anak, (3) hubungan suami dengan istri. Dalam Ngo Lun, ketiga hubungan tersebut ditambah dengan dua hubungan lagi yaitu : (1) Hubungan saudara dengan saudara dan (2) Hubungan teman dengan teman.

a.      Hubungan saudara dengan saudara

perkataan Khonghucu tentang hubungan saudara dengan saudara:
            “Seorang muda, di rumah hendaklah erlaku bakti, di luar (rumah) hendaklah bersikap rendah hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat, dan berhubungan erat dengan orang yang berperi cinta kasih.” (Lun Gi, I:6)
Perkataan khonghucu diatas tidak secara jelas menerangkan hubungan antara saudara dengan saudara, khonghucu mengatakan “Seorang muda, di rumah hendaklah adil…” perkataan ini bisa diartikan khonghucu menekankan dalam kehidupan berkeluarga sbaiknya yang tua (saudara yang tua) hendaklah menghormati yang muda (saudara yang muda).

b.      Hubungan teman dengan teman

Khonghucu mengatakan :
            “Ada tiga macam sahabat yang membawa manfaat dan ada tiga seorang sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang lurus, yang jujur, dan yang berpengetahuan luas, akan membawa manfaat. Seorang  sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal baik, dan hanya pandai memutar lidah akan membawa celaka. (Lun Gi, XIV : 4)
Sahabat yang member manfaat itu menurut khonghucu bukanlah dilihat dari besar kecilnya materi yang dimilikinya, tapi yang terpenting adalah sahabat yang memiliki pengetahuan yang banyak. Pengetahuan bagi khonghucu adalah penting, sebab dengan pengetahuan yang banyak, orang dapat membentuk manusia yang bodoh menjadi pintar, miskin menjadi kaya, terbelakang menjadi maju, dan lain-lain.
            Khonghucu juga berkata; “ada tiga macam kesukaan yang membawa faedah, dan ada tiga macam kesukaan yang membawa celaka. Suka memahami kesusilaan dan music, suka membicarakan perbuatan orang lain, dan suka bersahabat dengan orang-orang bijaksana, akan membawa faedah. Suka akan kesombongan dan kemewaha, suka bermalas-malasan dan berkeliaran, dan suka berpesta pora yang tiada artinya, akan membawa celaka.” (Lun Gi, XVI :5)
            Khonghucu juga berkata: “Bila teman bersalah maka berilah nasehat agar ia dapat kembali kejalan yang benar. Bila ia tidak mau, janganlah memaksanya, itu hanya akan memalukan diri sendiri.” (Lun Gi, XII: 23)
Mnculnya lima hubungan ini karna kofiusius melihat timbulnya kekacauan di Cina karna pangeran tidak bertindak sebagai pangeran, warganegara tidak bertindak sebagai warganegara, ayah tidak bertindak sebagai ayah dan seterusnya. Ia merasa bahwa langkah pertama ke arah transformasi dari dunia yang tidak teratur adalah melalui upaya agar setiap orang mengakui dan memenuhi tempatnya sendiri sesuai dengan kedudukannya masing-masing.

3.      Sifat-sifat mulia dalam ajaran  khonghucu

1)      Wu Chang (lima sifat yang mulia)
lima sifat mulia atau sifat dasar keluhuran budi
Tzu-chang bertanya kepada Kong Hu Cu tentang keluhuran budi. Kong Hu Cu menjawab, “ia yang dapat memasukan lima hal ke dalam kebiasaan di mana pun di bawah langit akan menjadi orang yang berbudi luhur.” Tzu-Chang terus bertanya apa saja kelima hal tersebut, dan ia menjawab, “kesopanan, kemurahan hati, kesetiaan, ketekunan, dan kebaikan hati. Bila kamu berlaku sopan, kamu tidak akan dihina; bila kamu murah hati kamu akan memenangkan orang banyak; bila kamu setia, orang lain akan mempercayaimu; bila kamu tekun, kamu akan berhasil; dan bila kamu baik hati, kamu akan memimpin orang lain.” (A 17.6).[3]
Lima sifat yang mulia (Wu Chang) terdiri dari:

a)      Pengertian  Ren/Jin/Jen: (cinta kasih) 

Menurut Houston Smith, kata ren/jin/jen ini dapat di terjemaahkan banyak arti seperti kebaikan, dari manusia ke manusia, pemurah hati,cinta, dan juga diartikan sbagai berhati manusia. Dalam pandangan khonghucu dalam kehidupan jen merupakan inti sari dari kesempurnaan adi kodrati, yang diakuinya sendiri belum pernah dilihatnya terwujud sepenuhnya.
Gagasan khonghucu mengenai yi (peri keadilan kelurusan) jauh lebih berbeda dengan gagasannya terhadap jen (prikemanusiaan). Gagasan mengenai yi lebih bersifat aga formal. Sedangkan gagasan jen  jauh lebih bersifat kongkrit.
Ketika Hwan-Thi (murid Konghucu) bertanya tentang cinta kasih (perikemausiaan), khonghucu menjawab : “prikemanusiaan (cinta kasih) itu dapat trwujud dengan jalan mencintai orang lain.” (Lun Gi XII,22). Hwan-thi bertanya lagi tentang kebijaksanaan, dan khonghucu menjawab: “kebajikan itu adalah seseorang yang dapat mengenal orang lain”. (Lun Gi XX, 22:2)
Jen juga mencakup suatu perasaan manusiawi terhadap orang lain dan juga penghormatan pada diri sendiri, suatu perasaan mengenai keagungan martabat manusia di dunia ini. Apabila kita memiliki jen, maka akan muncul sikap seperti murah hati, percaya, dan dermawan.
Fung Yu Lan mengatakan bahwa jen  adalah salah satu yang penting dalam pemikiran khonghucu. Jen menurut Fung Yu Lan adalah sebuah kata yang dapat merangkum semua kualitas moral yang akan digunakan oleh seseorang dalam hubungannya dengan yang lain.

b)     Pengertian I/Gi

Chau Ming, mengartikan  I atau Gi, sebagai rasa solidaritas, rasa senasib-sepenanggungan dan rasa membela kebenaran. Sedangkan Fung Yu Lan mengartikan i atau gi sebagai “keadilan” dan “kebenaran”. Hal ini dapat terlihat dalam khonghucu, “seorang Kuncu(manusia budiman) hanya mengerti akan kebenaran, sebaliknya seorang rendah budi hanya mengerti akan keuntungan.” (Lun Gi IV: 16).
Bagi khonghucu, I/Gi suatu hal yang amat penting dalam kehidupan manusia, bahkan lebih penting dari harta dan ketenangan. Dalam hal ini khonghucu berkata, “tidak memiliki I/Gi namun memiliki kekayaan dan ketenangan, hal itu bagiku hanya merupakan awan yang mengapung di langit.” (Lun Gi VII: 16) khonghucu berkata lagi, “Bila melihat I/Gi namun tudak melakukan sesuatu, itu adalah perbuatan yang tanpa memiliki kebenaran.” (Lun Gi III:24)
Menurut khonghucu , keberanian harus disertai dengan kebenaran (I/Gi), kebenaran harus diletakan diatas keberanian.

c)      Pengertian Li/Lee

Pengertian Li menurut khonghucu adalah “sopan-santun” dan “tata krama” atau “budi pekerti”. Suatu hubungan yang dilakukan oleh manusia yang satu dengan yang lain harus dilakukan dengan Li. Li adalah suatu pedoman yang harus ditaati oleh manusia dalam berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Khonghucu mengartikan Li ini sebagai “ritus” atau “upacara”.
Ada juga yang mengatakan bahwa Li mengandung pengertian dua macam:
  1. Berarti peraturan-peraturan atau kaidah-kaidah yang menjadi keseimbangan dalam hidup manusia, adalah suatu cara atau jalan segala sesuatu yang harus dilalui oleh siapapun
  2. Berarti ritual (upacara) dalam sepanjang hidup manusia.
d)     Pengertian Ce/Ti (bijaksana) 

Konsep kebijaksanaan menurut khonghucu :
“bila kita melihat orang yang bijaksana, kita harus berusaha menyamainya. Bila kita melihat orang yangb tidak bijaksana kita harus memeriksa dan melihat dalam diri kita sendiri”. (Lun Gi IV:17)
Dari perkataan diatas khonghucu sangat menekankan pentingnya sikap Ti atau Ce, karna sikap itu dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi seseorang.

e)      Pengertian Sin

Sin artinya “dapat dipercaya”. Seseorang tidak hanya percaya pada dirinya sendiri tapi juga harus dapat dipercaya oleh orang lain.  Menurut khonghucu, Sin mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, tanpa Sin  seseorang tidak banyak mempunyai arti dalam masyarakat.

2)      Pengertian Pa Te (delapan sifat mulia)

a)      Siau/Hau

Siau/Hau dapat diartikan rasa bakti yang tulus terhadap orang tua, guru, dan leluhur. Seorang anak harus dapat berbakti kepada orang tuanya , baik orang tuanya masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

b)     Thi/Tee

Thi/Tee dapat diartikan sebagai rasa hormat terhadap yang lebih tua diantasa saudara. Maksudnya dalam kehidupan rumah tangga seorang adik harus menghormati kakanya. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, yang muda menghormati yang tua.

c)      Cung/Tiong

Cung atau Tiong,  dapat diartikan sebagai setia terhadap atasan, setia terhadap teman dan kerabat.

d)     Sin

Sin dapat diartikan kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya atau menepati janji, orang yang dapat menepati janji amat disegani oleh orang lain, namun orang yang tidak dapat menepati janji akan dibenci oleh orang lain.

e)      Lee/Li

Lee atau Lee dapat diartikan sebagai sopan santun, tatak rama dan budi pekerti.

f)       I/Gi

I/Gi dapat diartikan sebagai rasa solidaritas, rasa senasib dan sepenanggungan dan mau membela kebenaran serta menolak hal-hal yang dirasakan tidak baik dalam hidup.

g)      Lien/Liam

Lien/Liam dapat diartikan memperaktekan cara hidup yamg sederhana dan tidak melakukan penyelewengan.

h)     Che/Thi

Che/Thi diartikan dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang amoral atau hal-hal yang dapat merusak moral.

3)      Chun Tzu atau kuncu menurut pandangan konghucu

Setelah seseorang dapat melaksanakan San Kang, Ngo Lun, Wu Chang, dan Pa Te. Maka ia akan sampai pada pengertian manusia yang ideal yang oleh khonghucu disebut Chun Tzu atau  kuncu (manusia budiman). Ini dapat di wujudkan melalui pengembangan watak dan moral yang baik berdasarkan ajaran khonghucu. Chun tzu merupakan salah satu tujuan dari hidup manusia
Cu-Khong (murid konghucu) bertanya tentang hal seorang kuncu. Khonghuchu menjawab, “ia mendahulukan pekerjaan, dan selanjutnya kata-katanya disesuaikan.” (Lun Gi 11, 13) Khonghucu berkata lagi, seorang kuncu mengutamakan kepentingan umun, bukan kelompok, seorang rendah budi mengutamakan kelompok bukan kepentingan umum.” (lun Gi 11, 14).

DAFTAR PUSTAKA
Tanggok, Ikhsan.  Mengenal lebih dekat agama Konghuchu di Indonesia.  Jakarta: Pelita Kebajikan, 2005.
Arifin, Muhammad.  Belajar Memahami Ajaran Agama-Agama Besar .  Jakarta: C.VS. Sera Jaya, 1980.
Dawson, Raymond. Kong Hu Cu Penata Budaya Kerajaan Langit . Jakarta: Grafiti, 1999.
Ali, Mukti.  Agama-Agama di Dunia.  Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988.


[1] M arifin, Belajar Memahami Ajaran Agama-Agama Besar ( Jakarta: C.VS. Sera Jaya),h. 26.

[2] Mukti ali, Agama-Agama di Dunia ( Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988),h. 221.

[3] Raymond Dawson, Kong Hu Cu Penata Budaya Kerajaan Langit ( Jakarta: Grafiti, 1999),h. 56.

[4] M Ikhsan Tanggok, Mengenal lebih dekat agama Konghuchu di Indonesia ( Jakarta: Pelita Kebajikan, 2005),h. 60-76.

[5] M arifin, Belajar Memahami Ajaran Agama-Agama Besar ( Jakarta: C.VS. Sera Jaya),h. 25.

[6] M Ikhsan Tanggok, Mengenal lebih dekat agama Konghuchu di Indonesia ( Jakarta: Pelita Kebajikan, 2005),h. 77-84.

Ajaran perkawinan dalam agama Konghucu

Hukum Perkawinan
Dengan ditetapkannya Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, maka telah dikeluarkan hukum perkawinan agama Konghucu di Indonesia pada Tahun 1975. Menurut agama Konghucu, bila seseorang hendak melakukan perkawinan, maka ia diharukan terlebih dahulu diharuskan untuk mengetahui hukum perkawinannya.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh kedua calom mempelai. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan melangsungkan keturunan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Dasar perkawianan umat Konghuchu adalah monogamy demi tercapainya tujuan perkawinan yang suci murni.
  3. Perkawinan harus berdasarkan kemauan/persetujuan kedua calon mempelai, tanpa adanya pakasaan dari pihak manapun.
  4. Kedua calon mempelai masing-masing belum/tidak terikat dengan pihak lain yang dianggap sebagai hidup berumah tangga.
  5. Pengakuan iman wajib bagi calon mempelai sehingga benar-benar dewasa bukan saja dari segi usia tetapi juga dalam berfikir, bertindak, bertingkah laku, dan lain sebagainya.
  6. Pada waktu acara peneguhan perkawinan harus dihadiri oleh kedua belah pihak orang tua / wali mempelai demi kerukunan, kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan kedua empelai sepanjang hidupnya, maka yang menyulut lilin pada altar persembahyangan adalah kedua belah pihak orang tua/ wali mempelai sebagai lambing merestui perkawinan kedua mempelai.
  7. Bilamana salah satu atau kedua belah pihak tidak memenuhi syarat-syarat dalam hukum perkawinan, maka upacara peneguhan perkawinan bisa dibatalkan.
  8. Perkawinan tidak bermaksud menceraikan seseorang dari bunda maupun keluarganya karena telah membangun mahligai baru, melaikan menyatukan keluarga yang satu dengan yang lain, memupuk rasa persaudaraan yang luas di antara manusia adalah bersaudara.
  9. Karena tujuan perkawinan membentuk keluarga harmonis, damai, maju, dan bahagia lahir dan batin, maka hokum perkawinan ini pada dasarnyatidak mengenal perceraian.
 Maksud dan Tujuan Perkawinan

Adapun tujuan perkawinan menurut agama Konghucu adalah untuk membentuk keluarga yang
harmonis, damai dan bahagia. Karena tujuan perkawinan ini menurut adanya keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan, maka hukum perkawinan dalam agama ini pada dasarnya tidak mengenal perceraian. Karena tidak mengenal perceraian, maka sangat wajar bila perkawinan umat Konghucu senantiasa mengalami kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan.

Peran dan Fungsi Perkawinan

Menurut agama konghucu, perkawinan juga tidak terlepas dari masalah peran dan fungsi. Fungsi ini mewujudkan pertanggung jawaban untuk manusia kepada kesadaran menjalankan norma-norma keutamaan dalam kitab suci agama Koghucu.  
Bentuk Upacara Perkawinan Konghucu

  • Adat dan Upacara Sebelum Perkawinan

Berbagai upacara dilakukan sebelum dilangsungkan perkawinan. Seperti upacara Lamaran, ikatan pertunangan dan upacara penentuan hari perkawinan. Misalanya lamaran dengan memerlukan walinya dan mencari wali untuk saat melamar perempuan yang ingin di lamar, di sambung dengan pertunangan jadi dengan dua belah pihak di temukan dan membicarakan tanggal dan sebagainnya untuk acara pernikahan tersebut. Adapun cara pertunangan di lingkungan keluarga umunya dilakukan dirumah pihak perempuan dan pihak laki-laki, jalan upacara pertunangan sebagai berikut :

1)     Jalannya upacara dipimpin oleh Kausing (Penebar Agama), Bunsu (Guru Agama) dan Haksu (Pendeta).

2) Melakukan sembahyang kepada Thian (Tuhan Yang Maha Esa) dilakuakn di dpean pintu atau altar terbuka dengan cara menghadapa ke langit.

3)    Setelah itu melakukan sembahyang pada arwah leluhur.
 Perkawinan upacara penentuan hari pernikahan dilaksanakan di rumah calon mempelai wanita dengan maksud untuk mendapatkan kesepakatan tentang pelaksanaan hari perkawinan. Pada saat upacara penentuan hari perkawinan ini, kedua belah pihak berunding tentang saat pelaksanaan hari perkawinan.Pada saat penentuan hari perkawinan dalam agam konghucu ini biasanya dari pihak laki-laki membawa berbagai macam antaran. Yaitu :
  1.  Dua batang merah lilin besar yang berarti penerangan lahir batin
  2. Dua buah amplom merah (ang pao) yang didalamnya bisikan uang.
  3. Pakian wanita, sepatu, sandal, alat-alat kosmetik serta perhiasan.
  4. Buah-buahan , semuanya dimasukkan ke dalam peti merah.


Setelah selesai, pembawa acara mempersiapkan wakil dan pihak laki-laki untuk memberi kata sambutan, sebagai ucapan terima kasih kepada pihak perempuan yang bersedia menerima mereka dan sekaligus menyerahkan semua barang yang dibawa kepada pihak wanita.

Acara tersebut ditutup dengan barang-barang antaran dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki. Biasanya berupa pakian pria dan sebagainnya. Pihak laki-laki dan keluarga pulang dan selesai menentukan hari perkawinan.
  • Adat dan Upacara pada saat Perkawinan

Upacara tersebut menggunakan pakaian khusus pernikahan ada Tionghoa. Jika perkawinan sudah tiba, pertama-tama pertama pengantin dirias duduk da nada banyak yang berhiasan melamabangkan warna merah (Thay kek). Kilin untuk laki-laki dan Hong Hong bagi pengantin wanita.

Pada saat dilakuakn upacara Cio Thau dibutuhkan seorang anak kecil Shio Liang atau Shio Houw umtuk melakukan upacara permulaan menyisir rambut pengantin, kemudian dilanjutkan oleh tukang rias yang mewajibkannya. Sewaktu pengantin laki-laki hendak maju ke rumah pengantin wanita, terlebih dahulu diadakan upacara Khibe : suatu pesta kecil bersama kawan dan sahabat. Lalu pengantin  berangkat diiringi dengan tetabuhan dan dipasangi petasan. Memasang petasan berdasarkan atas suaranya yang diumpamakan suara Guntur, karena siluman memang sanagt takut akan Guntur. Maka suara petasan itupun berarti mengusir segala setan dan siluman.
Biasanya beberapa hari setelah selesai melaksanakan perkawinan, pengantin tersebut pergi ke kantor Catatan sipil untuk mencatat mengenai perkawinan yang telah mereka lakukan di Majlis atau Lithang. Pencatatan ke kantor Catatan Sipil merupakan salah satu bukti otentik bagi mereka bahwa kedua pasangan ini diakui secara sah sebagai suami istri.

  • Adat dan Upacara sesudah Perkawinan

Upacara yang dilakukan sesudah perkawinan terbagi kedalam dua bagian yaitu upacara pulang tiga hari dan upacara pulang sebulan.
Upacara pulang tiga hari itu untuk pengantin baru dan untuk menjenguk orang tua, sanak keluarga yang lebih tua baik dari suami ataupun istri hal ini dilakuakn sebagai ungkapan rasa terima kasih atas segala doa restu, batuan moral maupun materil dari para sesepuh. Dalam kunjungan biasanya mereka membawa buah-buahan dan kue sebagai tanda terima kasih. Selain itu, mereka juga melakukan sembahyang sebagai ucapan terima kasih atas segala doa restu dari para leluhur, dengan menghadap altar keluarga yang ada di rumah.

Upacara Pernikahan - Chio Thau
  • Upacara Chio

Thau adalah upacara pernikahan tradisional Peranakan lengkap dengan segala pernak-pernik upacara yang menyertainya. Disebut Chio Thau ―artinya ‘mendandani rambut/kepala’ (to dress the hair), bukan ‘naik ke kepala’―karena, dalam bagian terpenting upacara ini, di atas sebuah tetampah besar warna merah terlukis yin-yang dan menghadap sebuah gantang (dou, tempat menakar beras), pengantin (laki-laki dan perempuan) disisiri oleh ibunya sebanyak tiga kali; setiap sisiran dibarengi dengan doa-doa tertentu: misalnya: sisiran pertama agar si pengantin diberi jodoh yang panjang, sisiran kedua: banyak rejekinya, sisiran ketiga: anak-anaknya semua menjadi orang yang membanggakan, dan sebagainya.
Pakaian yang dikenakan saat Chio Thau―yakni baju putih-celana putih bagi laki-laki dan baju putih-kain batik warna dasar merah bermotif bulat-bulat putih, sehingga dikenal dengan nama Kain Onde―akan disimpan baik-baik dan dikenakan kembali pada waktu yang bersangkutan meninggal kelak sebagai pakaian mati.

Ajaran Kematian dalam Konghucu

Kematian bukanlah suatu hal yang menyenangkan untuk di bicarakan maupun di persoalkan. Kematian adalah sesuatu yang seram dan menyedihkan, sesuatu yang benar-benar mematikan suasana, sesuatu yang hanya coock bagi buah pembicaraan di kuburan.
Menurut cara berpikir orang Buddhis kematian adalah kunci yang membuka takbir kegelapan dari takbir hidup yang tampak rahasia.  Yang apabila pada suatu saat menimpa pada kita, akan dapat melunakkan hati bagaimanapun kerasnya.
Kematian akan mengikat kita satu sama lain dengan benang emas cinta dan kasih,  dan yang dapat mengenyahkan rintangan-rintangan hidup berupa klasta, agama , kepercayaan bangsa(suku-suku) di antara manusia di sunia ini. Kematian meratakan segala-galanya tanpa kecuali.

Roh leluhur

Menurt ahli sejarah kebudayaan E.B. Tylor , ia juga berpendirian bahwa bentuk agama yang tertua adalah penyembahan kepada roh-eoh yang merupakan personifikasi, (hubungan) dari jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia, terutama nenek moyangnya.
Dewa-dewa yang menjadi pusat orientasi dan penyembahan manusia dalam tingkat agama seperti itu mempunyai ciri-ciri yang mantap dalam membayangkan seluruh umatnya, karena tercantum dalam mitologi yang seringkali telah berada dalam bentuk tulisan.

Makna dan Fungsi upacara secara umum

  • makna upacara merupakan suatu kegiatan ritual keagamaan yang dilaksanakan secara berkelompok dilakukan dilingkungan tersebut.
  • Fungsi upacara adalah suatu alat komunikasi atau hubungan langsung dengan roh leluhur menurut kepercayaan dan keyakinan yang harus ditaati.
 Makna dan fungsi kematian secara umum
  • Makna kematian menyadarkan manusia untuk tidak bersikap sombong kepada orang lain dan lebih bersikap cinta kasih kepada ornag lain.
  • Fungsi kematian meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan atau adanya rasa kesedihan.
Ajaran-ajaran kematian

Kematian itu sendiri Rohnya akan naik kepada Sang Pencipta Rohnya yang bersifat negative (Yin) naik pada sikap positif (Yang). Nabi Konghucu bersabda : “bila ornag yang melakukan  penghormatan kepada sampai dahi menyentuh tanah (Khee Song) ini menunjukkan keptuahan yang sungguh. Bila lebih dahulu menundukkan kepala sampai kaki menyentuh tanaj baru menghormati dengan Pai,itu menunjukkan kepada yang sangat dalam.

Ajaran-ajaran kematian dalam Agam Konghucu merupakan suatu ajaran yang harus ditaati oleh
umat Konghucu. Dan di dalam kitabnya dijelaskan bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali kebumi. Dan seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya dari ia masih hidup sampai meninggal.

Bentuk Upacara Kematian Konghucu

  • Makna kematian dalam Agam Konghucu
Makna kematian dalam agama Konghucu merupakan rasa sakit hati seseorang anak kepada orang tuanya. Menurut mereka orang tua itu sangat berjasa karena ornag tua di waktu hidupnya sudah membesarkan anak-anaknya dari kecil hingga dewasa. Karena itu seorang anak diwajibkan untuk berbakti, hormat dan mendoakan orang tuanya diwaktu meninggal agar mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan didalam sana.
Menurut Ws. T. M Suharja makna kematian dalam Agama Konghucu adalah sebagai berikut :

Anak melakukan bakti kepada orang tua dalam tiga hal yaitu :
  • Harus merawat pada saat dia dalam kesusilaan
  • Memakamkannya ketika ia meninggal dunia
  • Menyembahyangkan walaupun jarak juah

Mendoakan orang yang telah meninggal dunia supaya rohnya mendapat ketenangan dan kedamaian di tempat yang abadi disisi Tuhan. Pewaris nilai-nilai atau norma-norma melalui proses sosialisasi.
  Cara merawat Jenazah

  • Membersihkan
  • Mengganti pakaian jenazah
  • Tempat yang khusus untuk jenazah dan menggunakan kain yang berwarna dan corak bunga
  • Peti jenazah
  • Sembahyang
  • Peti ditaburi sesaju dengan mantra
  • Meletakkan tujuh buah mata uang logam
  • Memukul paku peti, searah dengan jarum jam.

 Proses upacara Kematian
  • Surat do’a Jib Hok : pengurusan jenazaH
  •  Surat do’a Mai Song : pemberangkatan jenazah
  • Surat do’a Sang Cong : tempat penguburan
  • Surat do’a Jib Gong : sembahyang dengan untuk memohon izin Tuhan.
  • Surat do’a Ngokok : manusia mencari nafkah

 Setelah pemakaman, anggota keluarga menjalani masa berkabung (memakai putih) [TuaHa] atau [TuaPeq]. Masa berkabung ini berbeda-beda sesuai dengan hubungan dengan almarhum. Untuk anak biasanya diambil 1 atau 3 tahun. Khonghucu mengatakan seorang anak bergantung kepada orang tuanya, setidaknya sampai berusia 3 tahun, maka ketika orang tuanya meninggal, ia harus melakukan masa perkabungan selama 3 tahun. Untuk cucu dan buyut, masa berkabungnya bisa diambil waktu yang lebih pendek, misalnya 1 tahun atau 100 atau 49 atau 7 hari.

 Kuburan Tionghoa terdiri dari dua bagian utama.  Yang pertama adalah "mu qiu" atau tempat dimana peti jenazah dikuburkan. Mu gui ( bukit kuburan). Saya sebut bagian pertama untuk tidak membingungkan. Bagian ke dua itu terdiri dari beberapa bagian. Ada tembok yang mengelilingi mu gui, bagian depan disekeliling dibelakang batu nisan disebut mu an qian kao (  tembok yang mengelilingi peti jenazah dikuburkan ) dan dibagian belakang disebut mu an hou kao.

Untuk ukuran kuburan, biasanya menggunakan meteran fengshui. Meteran fengshui ini sebenarnya
terbagi dua bagian yaitu meteran Wengong dan meteran Dinglan. Meteran yang digunakan untuk kuburan adalah meteran Dinglan. Menurut kepercayaan Tiongkok purba, manusia yang meninggal adalah Yin dan kembali ke Yin atau bumi. Dan bumi direpresentasikan sebagai Ratu atau Bunda.

Sejarah pengakuan agama Konghucu di Indonesia

"Perjalanan kelam tentang keberadaan Konghucu di Indonesia belum banyak diketahui generasi sekarang. Tapi waktu juga yang akhirnya berbicara untuk meluruskan lagi kenyataan yang ada," terang
Ketua Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Candra Setiawan.

Kisah kelam selama lebih dari tiga dasawarsa ini baru berakhir di masa pemerintahan Abdurrachman Wahid. Di era kekuasaannya yang singkat, Presiden Gus Dur membuat terobosan dengan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE
Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.

Tindakan ini memberi pesan bahwa, "Tak ada lagi istilah agama yang diakui dan tak diakui pemerintah.
Juga tak ada lagi pengakuan negara terhadap agama. Umat Konghucu dan orang-orang Tionghoa non-Khonghucu bisa bebas berekspresi. Termasuk Matakin yang langsung berbenah diri memulihkan eksistensinya untuk berdiri sejajar dengan agama lainnya di Indonesia," terang Uung.

Pada Oktober 2007, kebebasan beragama umat Konghucu ini semakin jelas dan tegas dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Perihal pendidikan agama Konghucu di jalur sekolah formal, nonformal, dan informal
diatur pada Pasal 45. Sementara untuk jalur tenaga pendidiknya diatur oleh Pasal 47 PP tersebut.

Pro Kontra Agama Konghucu

Pihak yang pro agar Konghucu diakui sebagai agama, menuduh bahwa para penentangnya mempunyai motif tertentu, seputar pengikut (umat) dan materi semata-mata. Semakin banyak pengikut, maka akan
semakin banyak pula dana yang dapat dihimpun. Mereka melihatnya dari kenyataan di lapangan, di mana banyak tokoh- tokoh agama tertentu yang agresif dalam "menyelamatkan" umat manusia; khususnya orang Tionghoa, dari "kuasa kegelapan". Untuk mudahnya sebut saja agama XY, agama X dari sekte Y.

Kalau Konghucu diakui sebagai agama resmi di Indonesia, berarti kedudukan agama Konghucu dengan agama XY sederajat. Dengan demikian, tokoh-tokoh agama XY tidak bisa lagi "menyelamatkan" orang Tionghoa.

Kelompok Kontra Konghucu

Sebaliknya pihak yang kontra juga mengemukakan berbagai argumentasi. Pertama adalah argumentasi yang berkembang dari ajaran monotheisme yang menyatakan, bahwa agama adalah wahyu dari Tuhan yang diturunkan melalui Nabinya yang tercatat di Kitab Suci masing-masing. Sedangkan Nabi adalah utusan Tuhan. Karena Konghucu orang biasa, bukan Nabi yang tercatat dalam Kitab Suci ajaran monotheisme, maka Konghucu tidak bisa diakui sebagai agama.

Argumentasi ini pada dasarnya pertentangan antara ajaran monotheisme dengan polytheisme. Argumentasi ini juga dapat mengundang perdebatan yang tiada berakhir, karena kenyatannya ada Nabi dari agama monotheisme yang satu yang tidak diakui oleh agama lain, bahkan lebih jauh lagi
ada agama yang secara internal tidak mengakui agama lain.Diyakini oleh berbagai pihak, pertentangan terhadap pengakuan Konghucu pada dasarnya adalah argumentasi di atas, namun banyak orang yang tidak mau secara terbuka mengemukakan argumentasi tersebut.

Dasar Hukum Pengakuan agama Konghucu

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang melekat pada manusia sejak lahir yang merupakan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada seorangpun, bahkan negara boleh mencabut atau melanggar hak asasi manusia. Salah satu hak yang paling mendasar adalah hak seseorang untuk
beragama. Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing sesuai dengan kepercayaannya. Hal tersebut bahkan dijamin dalam konstitusi Indonesia yaitu dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana diatur dalam Pasal 28 E ayat (1) yang menjelaskan bahwa :

“Setiap orang bebas memeluk dan beribadat menurut agamanya”. Jelaslahh sudah hak untuk memeluk
agama dan kebebasan untuk beribadah menjadi hak konstitusional bagi Warga Negara Indonesia.

Arti Tao

A.                Empat Arti Tao

I. Tao sebagai Tao.

Tao 
tidak berbentuk, merupakan "Sesuatu" yang sudah ada sebelum semuanya ada.

Arti Tao sulit dipahami, artinya sangat luas sehingga sulit diterangkan secara jelas dan rinci melalui sebuah kalimat atau kata-kata.

Arti Tao yang paling sederhana adalah "Jalan". Ada juga yang mengartikannya "Kelogisan", "Hukum", "Pedoman" atau "Aturan".

Tao adalah "Sesuatu" yang mendasari dan berada dibalik segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini.

Kenapa bumi berputar mengelilingi matahari?
Kenapa bumi mempunyai gaya gravitasi?
Kenapa oksigen dan hidrogen bisa membentuk senyawa menjadi air / H2O?
Kenapa air pada suhu 100C mendidih lalu menguap menjadi gas dan kenapa air pada suhu 0C membeku menjadi es?

Semuanya ada "Hukum"-nya, ada "Aturan"-nya, ada "Pedoman"-nya, ada "Kelogisan"-nya dan ada "Jalan"-nya. Semuanya karena Tao
.

Ikan berenang di air, tetapi tidak mengetahui adanya air.
Burung terbang menunggangi angin, tetapi tidak mengetahui adanya angin.
Manusia berada dalam Tao, tetapi tidak mengerti apa itu Tao.

II. Tao sebagai filsafat Tao.

Filsafat Tao
sangat populer, kitabnya yaitu Dao De Jing / Tao Tek Cing  sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Isinya sangat padat dan sulit dipahami. Kitab tersebut adalah karya Laozi
, seorang Nabi Agung Tao.

Kitab ini tidak hanya digunakan oleh kaum Tao saja, tetapi ada beberapa aliran agama dan spiritual yang juga ikut mengambil manfaat dari kitab ini.


III. Tao sebagai agama Tao.

Sebagai suatu agama, Tao
merupakan agama yang tertua. Sejarah ajarannya dimulai dari Hwang Tee (Oei Tee), kurang lebih 2698SM - 2598SM, dipopulerkan dan berkembang ditangan Laozi dan diwujudkan sebagai agama oleh Zhang Dao Ling (Cang Tao Ling).
 
IV. Tao sebagai suatu spiritual.

Pedoman Tao
yang selalu harmonis dan seimbang sesuai dengan lambangnya Yin Yang, menjadikan spiritual Tao tidak hanya memperhatikan masalah kerohanian saja, melainkan juga keduniawian. Melatih raga dan sukma, menggabungkan ilmu pengetahuan dengan agama. Diibaratkan berjalan dengan dua kaki, tidak pincang.

Jika tidak ada langit, mana mungkin ada bintang.

B.                  Agama Tao
 
Agama Tao 
adalah agama tertua di dunia.

Merupakan agama yang berke-Tuhanan, yaitu mengakui dan menyembah adanya Thian Kung / Ie Wang Ta Ti / Yang Maha Kuasa / Tuhan.

Selain Thian Kung, masih banyak lagi Dewa-Dewi yang disembah, seperti Guan Gong / Kwan Kong
, Er Lang Shen , Jiu Tian Xuan Nu  dan lain-lain.

Nabi yang menurunkan Tao adalah Laozi
.

Kitab sucinya adalah Dao De Jing
, Tai Shang Lao Jun Zhen Jing , dan lainnya.

Sedangkan upacara ritualnya sudah banyak dilakukan di kelenteng-kelenteng, terutama saat hari besar Dewa-Dewi Tao.

Sekarang agama Tao sudah tersebar ke seluruh dunia.

C.                 Asal Tao

Tao  adalah sebuah agama yang tertua di dunia, berasal dari Tiongkok kuno. Sudah sejak kurang lebih 2600SM telah berada di dunia ini.

Apakah tidak ketinggalan jaman? Tidak!

Ini dikarenakan sifatnya yang begitu agung, luas, mendasar dan berkembang sehingga tidak akan ketinggalan jaman sampai kapanpun.

Agama Tao adalah agama berke-Tuhanan (Thian Kung), Dewa-Dewi yang disembah antara lain adalah Maha Dewa Tai Shang Lao Jun
, Er Lang Shen , Jiu Tian Xuan Nu , Guan Gong , Fu De Zhen Shen , dan lain-lain.

D.                Pencipta Tao

Yang menciptakan dan mengembangkan Tao adalah seorang Ksatria yang beberapa kali turun ke dunia. Pertama sebagai Ban Ku Se (Si Pembuka Dunia), lalu menjadi Huang Ti (Raja Ksatria), dan kemudian Laozi .

Yang mewujudkan Tao 
sebagai agama adalah salah seorang murid Laozi  yang bernama Zhang Dao Ling [Cang Tao Ling / Cang Thien Se].

E.                 Sejarah Agama Tao

Agama Tao merupakan Agama yang berasal dari Tiongkok. Dari data-data yang ada, maka Agama Tao termasuk agama yang tertua di dunia ini, umumnya diakui sudah ada sejak 7000 tahun yang silam, dan juga merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar orang Tionghoa, ini tercermin dari tulisan LU XUN seorang budayawan kondang, dimana beliau menulis bahwa Agama Tao adalah agama dan akar utama dari kebudayaan Tionghoa.

Umumnya Agama Tao diyakini : Berasal dari Kaisar Kuning (Wang Di), dikembangkan oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan (Agama Tao) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling.

Agama Tao selain telah berjasa dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Tiongkok selama beribu-ribu tahun. Juga telah memberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan sastra, budaya, ilmu astronomi, ilmu pengobatan, filsafat dan cara berpikir masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada.

Pada jaman FU XI sekitar tahun 5000 SM, FU XI telah menggunakan teori dan perhitungan BA-KUA (Delapan Penjuru) untuk menjelaskan tentang sistem Astronomi, menentukan hal-hal yang penting yang berhubungan dengan ramalan kehidupan seseorang, serta menentukan cara-cara ritual penyembahan Dewa/Dewi.

Sampai pada jamannya WANG DI (Kaisar Kuning) 2698 SM, mulai dikemukakan teori tentang kaidah-kaidah alamiah dan teori tentang masalah kehidupan dan kematian. WANG DI juga merupakan tokoh yang pertama menjalankan pemerintahannya berdasarkan ajaran TAO
.

Sejak WANG DI sampai 1500 tahun berikutnya, setiap pemimpin yang menggantikan pemimpin lainnya selalu memerintah masyarakatnya dengan teori ajaran WANG DI, antara lain : Menghormati TIAN dan menjunjung tinggi Sopan-santun dalam bermasyarakat (WANG DI ZHI TAO / Filsafat ajaran WANG DI).

Pada jaman Dinasti Kerajaan Chow, muncul seorang bijaksana yang mempunyai nama besar yaitu LAO ZI. Beliau pernah bertugas sebagai pejabat yang menjaga dan merawat perpustakaan buku-buku yang dimiliki kerajaan Chow. Karena itu beliau mempunyai kesempatan untuk membaca semua buku-buku dan menguasai teori-teori yang diajarkan oleh WANG DI.

Ini membuat beliau sangat menyanjung keagungan alam yang telah menghidupi semua makhluk hidup, termasuk manusia, namun beliau juga mengajarkan bahwa dibalik semuanya itu pasti ada yang menciptakannya yang bersifat maha Agung; maha Mulia dan maha Esa, hanya saja sulit bagi beliau untuk memberikan sebutan atau nama yang tepat bagi Pencipta Alam Semesta yang maha Besar ini.

Akhirnya LAO ZI meminjam kata "TAO"
, untuk memberi nama bagi "SUMBER" dari segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini. Menurut LAO ZI; TAO adalah sumber terciptanya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Cara berpikir beliau jauh melampaui jamannya ketika itu, ditambah ajaran-ajarannya yang menjunjung tinggi kebajikan dan menentang kebiadaban, maka akhirnya ajaran LAO ZI bersama-sama ajaran WANG DI dikenal orang sebagai Ajaran WANG-LAO (WANG-LAO TAO / Filsafat ajaran Wang Di dan Lao Zi) sampai sekarang.

Ajaran Wang-Lao (Wang-Lao Tao) ini makin berkembang dan mengakar di hati masyarakat, akhirnya dianut oleh hampir setiap orang terpelajar dan cendekiawan jaman itu, salah satunya adalah CHUANG ZI.

Pemujaan terhadap LAO ZI sudah dimulai sejak jaman Dinasti JIN HAN, saat itu kegiatan keagamaan dan upacara ritual keagamaan sudah berkembang sedemikian lengkapnya. Pada jaman Han Barat, masyarakat hidup makmur dan sentosa berkat semua pemimpin kerajaan menganut dan menjalankan ajaran WANG-LAO TAO.

Sampailah pada jaman Han Timur (Tong Han), ada seorang bernama Zhang Tao Ling yang dengan sungguh-sungguh mempelajari semua ajaran TAO dan ilmu keDewaan, beliau juga berhasil membuat pemilahan-pemilahan dan menyusun peraturan-peraturan tentang cara-cara upacara ke Agamaan TAO, mengajarkan cara-cara bagaimana seharusnya menggambar HU dan menuliskannya dalam buku-buku yang baku untuk kepentingan pengajaran kepada pengikut-penganutnya.

Sehingga terbentuklah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berbasis Agama TAO yang pertama sejak itu. Selanjutnya semua kegiatan keagamaannya selalu secara resmi menggunakan nama AGAMA TAO. Pengikut-pengikutnya disebut sebagai umat TAO (TAO SHI).

Zhang Tao Ling juga menggunakan nama lain, selain Agama Tao, yaitu Thian Zhi TAO dan terutama aktif di daerah Si Chuan, penerusnya juga menyebarkan agama TAO di daerah Jiang Si di daerah Long Hu San / Gunung Naga Harimau, sebelah selatan dari sungai Zhang Jiang.

Sejak itu Agama TAO selalu mengajarkan umatnya untuk memupuk dan mempunyai sifat-sifat yang Jujur, Tulus dan Welas Asih, serta tidak boleh menyakiti orang lain.

Orang kalau sakit atau bersalah, bila ingin sembuh dan minta pertolongan di dalam Agama TAO, maka diharuskan pertama kali untuk mengakui kesalahannya atau perbuatan tidak baiknya, baru kemudian diberi pengobatan ataupun nasehat bahkan diajak Semedi dan mawas diri untuk kesembuhan dirinya.

Agama TAO terutama mengajarkan sifat Qing Jing Wu Wei, suatu sifat dimana orang dianjurkan untuk selalu berusaha berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, namun tetap menjaga sikap mental yang tulus tanpa pamrih!, selain itu juga selalu mawas diri dalam usahanya mengajak masyarakat supaya mampu menjaga keharmonisan kehidupan masing-masing. Sifat demikianlah yang antara lain ikut mendorong terbangunnya klenteng-klenteng yang bisa dipakai untuk menginap bagi orang-orang yang sedang bepergian jauh, serta menyediakan makanan cuma-cuma bagi yang menginap di sana, ini semua bertujuan untuk melayani dan memudahkan masyarakat pada jamannya, sehingga sangat mendapat dukungan dari segala lapisan masyarakat.

Pada jaman Dinasti DHANG, Agama TAO berkembang pesat sekali, sehingga raja pun menetapkan adanya pejabat khusus setingkat Menteri untuk mengurusi semua persoalan yang berhubungan dengan Tao Kuan dan Klenteng-klenteng yang ada pada saat itu.

Selain itu juga setiap tahun diadakan semacam ujian untuk mengangkat orang-orang yang ahli dalam pengetahuan tentang Tao (Istilahnya XIAN SIEK POK SHI = Profesor Keagamaan dalam Agama Tao), sebagai penasehat resmi kerajaan.

Keadaan ini berkembang terus sampai jaman Dinasti SONG, umumnya raja-raja dan keluarga raja semuanya menganut Agama Tao, sehingga boleh dikatakan merupakan jaman keemasan bagi Agama TAO saat itu. Sejarah mencatat bahwa jaman Dinasti DHANG dan Dinasti SONG, banyak menghasilkan Tao Shi (Pendeta / Ahli Agama TAO) yang sangat bijaksana dan mumpuni, dimana cerita mereka itu banyak bisa dijumpai dalam buku-buku yang menulis tentang Agama TAO.

Pada jaman Dinasti CIN, di Tiongkok utara lahirlah 3 aliran Agama TAO yang baru yaitu : Aliran QUAN ZHEN; Aliran ZHEN DA; Aliran DAI YI. Diantara 3 aliran itu, QUAN ZHEN TAO JIAO (Agama TAO aliran QUAN ZHEN) berkembang paling pesat dan mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Dari QUAN ZHEN TAO JIAO lah muncul seorang tokoh yang bernama JIU JU CIE, beliaulah yang pada jaman Dinasti YUAN, berhasil mempengaruhi dan mengajak Raja YUAN yaitu JENGIS KHAN, untuk menerima dan percaya kepada ajaran Agama TAO.

Pada akhir jaman Dinasti YUAN, popularitas Agama TAO mulai menurun di kalangan keluarga kerajaan, sehingga terjadilah peristiwa pembakaran buku-buku Agama TAO, hal ini tentu sangat merugikan citra dan menimbulkan kemarahan umat Agama TAO dikemudian hari.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh CU YUAN CHANG untuk bisa segera memperoleh dukungan masyarakat dalam usahanya manggulingkan Dinasti YUAN dan mendirikan Dinasti MING.

Setelah CU YUAN CHANG berhasil memanfaatkan umat Agama TAO dalam mendirikan kerajaan MING, beliau sangat mengetahui bahwa Agama TAO sangat menjunjung tinggi sifat Kebajikan dan Kebebasan serta sangat Anti Kediktatoran (karena kediktatoran sangat bertentangan dengan sifat alamiah), hal ini sangat ditakuti oleh CU YUAN CHANG, sebab beliau sebetulnya lebih suka menjalankan kekuasaannya secara Tirani.

Maka di depan umum Cu Yuan Chang kelihatan sangat mendukung berkembangnya Agama TAO, namun secara diam-diam beliau berusaha melakukan segala cara untuk menekan Agama TAO, ini terbukti karena Cu Yuan Chang akhirnya hanya mengijinkan Agama TAO untuk menyebarkan ajaran tentang cara-cara / upacara menyembah Dewa / Dewi serta cerita-cerita tentang Ilmu pengetahuan KeDewaan, tapi sama sekali dilarang untuk mengajarkan filsafat dan ilmu pengetahuan dari Agama TAO yang lebih dalam. Hal ini tentu sangat memukul perkembangan Agama TAO, dan memicu berkembangnya dampak negatif bagi citra Agama TAO dikemudian hari.

Ketika kerajaan MAN QING menjajah Tiongkok dan mendirikan Kerajaan QING, sebagai penjajah mereka sangat takut terhadap ajaran Agama TAO yang sangat bersifat Kerakyatan dan menjunjung Kebijakan dan Kebebasan serta anti Kediktatoran.

Sehingga mereka juga melarang usaha penyebaran ajaran filsafat dan ilmu pengetahuan Agama TAO yang sebenarnya, namun sengaja membiarkan orang-orang yang mengatasnamakan Agama TAO untuk menonjolkan Ketahyulan, berkeliaran utnuk menyebarkan kesesatan diantara anggota masyarakat dengan tujuan memfitnah Agama TAO, orang yang demikian itu biasanya disebut Wu Bo (Dukun Perempuan) ataupun Shen Han (Dukun Pria).

Karenanya sejak itu, citra Agama TAO menjadi sangat jelek dan ketinggalan jaman, dampaknya terasa sampai kurun waktu yang lama sekali, sekarang ini masih ada sebagian orang terpelajar, yang karena belum mengerti apa sebenarnya Agama TAO, dengan mudahnya meremehkan AgamaTAO sebagai Agama yang bersifat tahyul dan ketinggalan jaman, sebab pada dasarnya mereka belum bisa membedakan antara Tao Shi dengan dukun.

Syukurlah sesuai dengan kemajuan jaman, akhir-akhir ini semua sudah mulai berubah ke arah yang positif, para umat penganut Agama TAO mulai menyadari kesalahan sikap diamnya selama ini, sehingga dimana-mana umat TAO mulai membenahi diri dan dengan gigih menyebarkan ajaran Agama TAO yang sebenarnya, walaupun masih harus menghadapi banyak kendala di lapangan.

Di luar Tiongkok dan Taiwan, ada beberapa negara yang umat Agama TAO nya sangat aktif dan berkembang antara lain: Singapore (Taoist Federation Singapore), Korea, Jepang, Philipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dll.

F.                  Lambang Agama Tao
 
AGAMA TAO menggunakan BA KUA DAI CHI sebagai lambang agamanya, dimana gambar DAI CHI melambangkan matahari dan bulan, juga melambangkan Yin Yang serta melambangkan posisi Atas dan Bawah, sedangkan BA KUA melambangkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, juga melambangkan segala arah yang berarti 4 penjuru 8 arah.

AGAMA TAO sangat menekankan ajaran teori YIN YANG, yang menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua yang ada selalu hadir dalam bentuk berpasangan antara positif dan negatif; panas dan dingin; tinggi dan pendek; cantik dan jelek; pria dan wanita dan lain-lain secara seimbang dan alamiah.

DAI CHI juga dipakai untuk melambangkan hakekat pengertian TAO
, dimana YIN melambangkan kesan 'TIADA', lambang TIADA inilah yang menunjukkan sifat TAO yang tidak berwujud; tidak bernama; maha besar sampai besarnya tidak terbatas, dan justru dengan lambang TIADA inilah mencerminkan bahwa TAO  bersifat Maha AGUNG dan Maha ESA.

Sedangkan YANG melambangkan kesan 'ADA', dimana dengan lambang ADA inilah menunjukkan fungsi dan karya dari TAO
yang merupakan awal dari segala yang ada di alam semesta ini, dengan demikian lambang ADA mencerminkan bahwa TAO bersifat Maha Pencipta dan Maha Kuasa.

Hasil ciptaan TAO
dalam wujud 'ADA' inilah, yang akan mengisi segala ruang alam semesta dan dilambangkan dalam gambar BA KUA. Disamping itu dengan adanya porsi yang seimbang antara bagian YIN dan bagian YANG dalam gambar lambang DAI CHI, maka sekaligus mencerminkan bahwa TAO bersifat Maha Adil.

G.                Kitab Suci Agama Tao

Arti kata JING dalam Agama TAO
, sebenarnya dipakai untuk menunjukkan buku-buku yang ditulis dan diajarkan oleh Dewa / Dewi, namun sesuai dengan kemjuan jaman, akhirnya dipakai sebagai nama khusus untuk setiap buku yang banyak mengandung nasehat dan petuah / peraturan luhur yang mengacu pada ajaran Agama.

Agama TAO
memiliki beberapa kitab suci yang wajib dibaca oleh setiap umat TAO, antara lain:
·                     Er Lang Shen Zhen Jing ( Kitab Suci Dewa Er Lang Shen )
·                     Fu Tek Zhen Shen Zhen Jing ( Kitab Suci Dewa Fu Tek Chen Shen )
·                     Tao Tek Jing ( Kitab Tao Tek / Kitab Budi Pekerti & Hati Nurani Yang Luhur )
·                     Wang Di Zhi Jing ( Empat Kitab Kaisar Kuning )
·                     Dai Bing Jing ( Kitab Dai Bing / Kitab Aman Sentosa )
·                     Qiang Jing Jing ( Kitab Hening Tanpa Pamrih )
·                     Shen Tian De Tao Zhen Jing ( Kitab Suci Demi Mendapat Tao dan Naik ke Langit )
·                     Dsb
Dari sekian banyak kitab suci bacaan wajib bagi setiap umat Agama TAO, yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing di seluruh dunia sekarang ini adalah Kitab Tao Tek Ching / Tao Tek Zheng Jing / Lao Zi Wu Jien Wen ( Kitab 5000 Kata Dari Lao Zi ).

Kitab-kitab di atas hanya sebagian kecil dari ribuan kitab yang ada dalam Agama TAO, bagi mereka yang ingin lebih mendalami Agama TAO, masih sangat banyak kitab yang harus dipelajari, diantaranya adalah kitab-kitab yang menjelaskan tentang ritual-ritual keagamaan Agama TAO, kitab-kitab yang menjelaskan tentang teori-teori penulisan HU Lambang yang diyakini bermuatan kegaiban tertentu, kitab-kitab tentang teori latihan Qi dan Semedi, dsb.
 
H.                Sifat Agama Tao 

Agama Tao
menggabungkan Ilmu pengetahuan, Filsafat dan Ilmu KeDewaan yang Agung sebagai dasar kepercayaan. Agama Tao menyembah banyak Dewa dan Dewi dengan TAO yang dilukiskan sebagai Dzat Agung yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Adil dan Maha Agung.

Sosok Dewa dan Dewi dalam Agama Tao merupakan sosok yang telah mencapai kesempurnaan dalam perjalanan mengamalkan Ajaran Agama TAO
.

Agama Tao juga percaya bahwa: Manusia sejati bisa mencapai Kesempurnaan menjadi Dewa / Dewi, bila sanggup berbuat jasa yang sangat besar sekali terhadap masyarakat ataupun orang lain, perbuatan-perbuatan itu antara lain:
- Bisa memberikan keteladanan yang luar biasa dalam perilaku kebijaksanaan untuk umat manusia
- Berjasa besar dalam membangun / memperjuangkan kedamaian bagi negara dan masyarakatnya
- Bisa mencegah / menanggulangi bencana yang membahayakan umat manusia
- Sanggup menyumbangkan nyawanya demi membela keyakinan tentang kebenaran sejati

Dengan demikian bisa dipahami, bahwa Agama Tao mengajarkan:
Meskipun manusia merupakan bagian dari alam semesta, namun sebagai manusia haruslah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta bisa mengetahui mana yang baik / bijaksana dan mana yang jahat, juga yang paling penting adalah mampu melaksanakan ajaran-ajaran Agama Tao pada setiap tingkah laku dalam hidupnya, sebagai syarat untuk bisa menjadi manusia yang sejati.

Setelah mampu mencapai tahap manusia sejati, selanjutnya adalah tugas yang mulia untuk berusaha bisa menyatu dengan Tao yang Maha Esa dengan istilah yang popular Tian Ren He Yi (Kembali ke asal dengan sempurna).

Agama Tao menganjurkan 3 nasehat LAO ZI yaitu: Welas Asih; Hemat tapi tidak kikir; dan Rendah Hati.

- Dengan Welas Asih: manusia dapat lebih mudah menyayangi semua makhluk hidup, dan sekaligus siap menyesuaikan diri hidup berdampingan dengan alam semesta.

- Dengan Hemat tapi tidak kikir: manusia dianjurkan untuk sedapat mungkin menjauhkan diri dari keserakahan, tidak menyia-nyiakan segala sesuatu yang telah dimiliki, sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam situasi mabok kepayang sampai lupa daratan.

- Dengan Rendah hati: manusia bisa selalu rela mengalah, sehingga terhindar dari segala perbuatan yang saling berebut dan bermusuhan, maka masyarakat akan terhindar dari segala bentuk pertikaian / pertengkaran yang tidak perlu.

Semua itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci Tao De Jing, kitab ini menjelaskan bahwa TAO 
adalah satu-satunya sumber dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, karena itu manusia harus bisa hidup selaras dengan alam semesta, belajar dari alam semesta untuk mendapatkan TAO, yang akan terwujud dalam bentuk DE /Budi pekerti / Hati nurani yang luhur.

Namun TAO
sulit diartikan dalam bahasa manusia, karena TAO sudah lebih dulu ada sebelum semuanya ada, dan manusia sama sekali belum bisa menunjukkan apa sebenarnya TAO  itu, kalau hanya berdasarkan apa yang 'ADA' yang bisa dilihat dalam wujud nyata.

Dalam kenyataannya manusia sering cenderung hanya berusaha mendapatkan dan mengenal sesuatu yang nyata dan punya nama saja, padahal TAO justru lebih dapat dirasakan dalam ke 'TIADA' an atau ke 'DIAM' an dibalik yang bergerak, yang semuanya itu selalu hadir dalam wujud bergulirnya YIN YANG.

Bila dipaksakan untuk menyimpulkan apa sebenarnya TAO
itu, yang muncul semaksimal mungkin hanyalah pengertian bahwa TAO adalah : Awal dari segala yang awal ; Alamiah dan Abadi ; Maha Pencipta dan Maha Agung serta Maha Esa dan Maha Adil.

Dalam buku TAO DE JING, LAO ZI juga banyak mengambil contoh bijak untuk menjelaskan filsafatnya, antara lain beliau mengambil sifat air untuk menunjukkan salah satu sifat TAO
yang sangat mulia, dikatakan bahwa: Air selalu bisa menempatkan diri di tempat yang paling rendah, Air memberikan manfaat kepada yang memerlukannya tanpa minta imbalan dan berebut jasa, Air merupakan benda yang lemah namun bisa menembus batu yang paling keras sekalipun. Dengan demikian dapat dilihat bahwa: Yang kelihatan lemah, sebenarnya bisa mengalahkan yang kuat, juga yang kelihatan lembut, sebetulnya bisa mengalahkan yang keras.

Prinsip-prinsip di atas bila diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, minimal akan tercipta kondisi kehidupan masyarakat yang penuh dengan kebijakan berbudi luhur, dimana anggota masyarakatnya akan hidup penuh kesederhanaan, tanpa nafsu serakah, rendah hati dan mudah mengalah, hemat tapi royal terhadap perbuatan kebajikan, tidak gemar menonjolkan diri dan berebut nama baik yang semu, selalu berbuat kebaikan secara tulus iklas sesuai sifat alamiah yang berdasarkan kemampuan dirinya sendiri.

孔子 confucius by. vatihin

Buddhism Taoism and Confucianism in China

Khổng cu

AJARAN KHONGHUCU TENTANG TUHAN, KEIMANAN DAN HIDUP SETELAH MATI

1. Pendahuluan
Umat khonghucu selain menyakini empat kitab (SuSi) juga menyakini kitab yang lain (Ngo King) sebagai landasan dari ajaran-ajaran dari Khonghucu, dari kitab-kitab tersebut juga memuat ajaran tentang Tuhan, keimanan, hidup setelah mati dan juga memuat ajaran—ajaran tentang manusia, alam semesta dan hubungan antara anak dan bapak, serta antara raja dan bawahannya. 
Pada makalah ini akan dibahas mengenai masalah tentang ajaran atau doktrin yang di kembangkan dalam agama Kong Hu Cu, berikut penjelasan-penjelasan yang akan di paparkan pada bab-bab terkait.
  1. Ajaran Tentang Tuhan 
Dalam Agama kongfutzu, atau biasa dibunyikan dengan Kong Hu Cu, di kaitkan dengan nama pendiri agama ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM). Ada yang menilai bahwa ajaran Kung Fu Tze bukanlah suatu agama melainkan hanyalah ajaran tentang nilai-nilai (Ethika) saja, karena Kung Fu Tzu sendiri menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib. bahwa sistem ajaran Kung Fu Tzu itu mengenal pengakuan terhadap kodrat Maha Agung (Supreme Being), serta mempercayai pemujaan terhadap arwah Nenek Moyang (Ancetors-Worship), juga mengajarkan tata tertib Kebaktian. dengan landasan inilah seiring perkembangan zaman ajaran Kung Fu Tze termasuk kepada ajaran keagamaan. Pada suatu saat Khonghucu ditanya, dia tidak pernah berbicara tentang Tuhan, atau ke ajaiban atau masalah kekuatan. Tapi tidak ada keraguan- keraguan bahwa Khonghucu percaya pada Tuhan dan ia adalah seorang monoteis yang etis, ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karena itu misinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku didunia ini. Dalam Khonghucu sendiri istilah Tuhan disebut dengan Thian. Dalam kitab-kitab agama Khonghucu terdapat banyak berbicara tentang Thian atau Tuhan YME. Diantaranya terdapat dalam kitab She Cing (kitab puisi). Dalam kitab ini banyak berbicara tentang Tuhan YME. Yang dalam umat Khonghucu disebut dengan Thien dan Shang Ti. Ada sebuah syair dari kitab She Cing tersebut yaitu :
“ kekuasaan dan bimbingan dari Thian (Tuhan YME) sangat luas dan dalam hal ini diluar jangkauan suara, sentuhan, atau penciuman” (She Cing IV Wen Wang 1/7).
“ Oh, betapa besarnya Shang Ti (Tuhan Yang Maha Kuasa), berkahnya tercurahkan kebumi, dengan pandangan yang menyeluruh dengan perhatian yang seksama mengatur segala makhluk didunia agar hidup dalam berkecukupan (She Cing IV Wen Wang VII/I).”
Syair diatas, ditulis jauh sebelum Khonghucu lahir, menurut perkiraan para ahli sejarah, Syair-syair tersebut ditulis kira-kira 1000 tahun sebelum kelahiran Khonghucu atau sekitar tahun 1550 SM. Dari syair diatas bahwa dapat dikatakan bahwa karya-karya klasik yang ditulis 1000 tahun sebelum kelahiran Khonghucu tersebut, sudah mengenal konsep Tuhan yang mereka kenal dengan Thien dan Shang Ti. Istilah Tuhan paling jumpai dalam kitab Su Cing dan She Cing, bahkan beberapa kali diulang kata Thien dan Shang Ti, didalam kitab tersebut istilah Thien dijumpai sebanyak 85 kali dan istilah Shang Ti dijumpai sebanyak 336 kali. Ini menunjukan bahwa umat Khonghucu juga memiliki konsep theistik. Atau sebelum Khonghucu lahir punsudah memiliki konsep Tuhan sendiri, mereka gambarkan konsep Tuhan sebagai suatu zat maha tinggi yang bisa mengatur kehidupan manusia dibumi ini atau sebagai zat yang menciptakan adanya alam ini.
            Agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkiarakan dan ditetapkan. Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen). Banyak sekali bahwa Khonghucu berbicara tentang Tuhan, ini dilihat dari beberapa banyak kitab-kitabnya. Umat Khonghucu pun juga mengenal istilah Thian Li dan Thian Ming.
a.         Thian Li
                 Thian adalah Tuhan Yang Maha Esa atau sesuatu yang absolut, yang mutlak dab tidak dijadikan oleh siapa pun. Segala sesuatu yang ada dialam semesta ini berjalan menurut hukum-hukumnya (Thien Li), istilah Thian Li ini sebenernya bersumber pada pada pengertian Thian yang mengalami penafsiran atau perluasan pada masa Neo-Konfusianisme. Jadi Thian Li itu sendiri bukanlah nama lain dari Thian. Akan tetapi dekat dengan pengertian firman Thian atau hukum-hukum dan peraturan yang bersumber dari Thian.
b.        Thian Ming
                 Thian Ming dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah dijadikan atau sesuatu yang telah terjadi. Pangeran Chou pernah mengajarkan Thien Ming, yang isinya bahwa Thien memberikan ketetapan kepada seseorang untuk memimpin bangsa atau negara. Artinya bahwa seorang manusia harus menjalankan tuga dan kewajibannya sesuai dengan kehendak Tuhan atau Thian. Intinya yaitu melakukan kebajikan, bila seseorang tidak menjalankan kebajikan tersebut maka ia kehilangan amanat dan tugas, artinya gagal dalam kehidupan ini, dan sebaliknya bila menjalankan atau mengembangkan maka ia dikatakan sebagai manusia yang berhasil dalam kehidupannya, yaitu menjadi keharmonisan dalam hidupnya.
                 Pengertian dari Thian Li dan Thian Ming ini tidak jauh berbeda artinya, Thian Ming lebih mengarahkan kepada perbuatan yang dilakukan kepada manusia sesuai dengan amanat atau perintah dari Thian. Thian Li juga bersifat perintah, tetapi masih bersifat umum, dan bersifat anjuran yang sudah dilakukan manusi, dalam hal ini ada yang berhasil manjalankan peritah ini namun ada juga yang tidak.  Dalam arti tidak menjalanka perintah, yaitu tidak menjalankan amanat  yang berasal dari Thian tersebut. 
B.   Ajaran Tentang Keimanan 
Penyebaran ajaran-ajaran Kong Hu Cu dimulai tidak lama setelah dia meninggal dunia. Setelah berkabung karena kematiannya pendirinya yaitu Kong Fu Tze, para murid Kong Fu Tze menyebarkan dan masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam melanjutkan pekerjaan penyebaran agamanya. Akan tetapi akibat perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena masing-masing mengembangkan system pemikiran tersendiri, sesuai dengan kepentingan dan keyakinannya. Khonghucu juga memiliki ajaran tentang keimanan, yang terdapat dalam kitab SuSi. 
            Keimanan kaum Kong Hu Cu (Konfusius) tidak lepas dari kitab suci agama itu sendiri yang diyakini ditulis oleh Konfusius sendiri yaitu :
  1. Shu Ching, Buku tentang sejarah. Aslinya mengandung 100 dokumen sejarah sejarah dinasti-dinasti kuno Cina dan mencakup suatu periode yang dimulai dari abad ke-24 S.M. sampai abad 8 S.M. Konfusius dikatakan telah menyusun dokumen-dokumen ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya. Dokumen ini tercampur dengan ajaran-ajaran agama dan moral.
  2. Shing Ching, yaitu buku tentang puisi, yaitu kumpulan sajak-sajak yang popular yang ditulis lima ratus tahun pertama dari dinasti Chan.
  3. Yi Ching, Buku tentangperubahan-perubahan. Buku ini mengemukakan system yang sangat fantastis menyangkut filsafat dan menjelaskan apa yang disebut dengan prinsip Yin (wanita) dan Yang (pria).
  4. Li, Chi, buku tentang upacara-upacara. Konfusius menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawakehalusan budi, keagungan dan kesopanan kedalam tingkah laku sosial mereka.
  5. Yeo, buku tentang music. Pada zaman konfusius music berhubungan erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak-sajak kuno ia juga menyusun pasangannya berupa music untuk setiap sajak yang telah diseleksinya.
  6. Chu`un Ch`ii, tentang sejarah musim semi dan musim rontok, yaitu catatan kronologis tentang peristiwa-peristiwa di negri Lu mulai tahun pertama pemerintahan pangeran Yiu (722 S.M) hingga tahun keempat belas dari pemerintahan pangeran Ai (481 S.M).
Dalam agama Kong Hu Cu ada yang disebut pengakuan Iman, diantaranya ada delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
1.    Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
- Sing Sien Hong Thian ( sepenuh iman percaya tehadap Tuhan Yang Maha Esa).
- Bu Ji  Bu Gi ( jangan mendua hati, jangan bimbang).
- Siang Tee Liem Li ( Tuhan Yang Maha Tinggi Besertamu).
2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
- Sing Cun Khoat Til ( sepenuh iman menjunnung kebajikan).
- Bu Wan Hut Kai ( tiada jarak jauh tak terjangkau).
- Khik Hiang Thian Siem ( sungguh hati Tuhan merahmati).
3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
- Sing Liep Bing-bing ( sepenuh iman menegakkan firman gemilang)
- Cun Siem Yang Sing ( jagalah hati, rawatlah watak seajati).
- Cik Tu Su Thian ( mengabdi Tuhan)
4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
- Sing Ti Kwi Sien ( sepenuh iman sadar adanya nyawa dan roh).
- Cien Siu Kwa Yok ( tekunlah membina diri, kurang keinginan).
- Hwat Kai Tiong Ciat (bila nafsu timbul, jagalah tetap terbatas tengah).
5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
- Sin Yang Haw Su ( sepenuh iman merawat cinta berbakti).
- Liep Sien Hing Too ( tegakkan didi menempuh jalan suci).
- I Hian Hu Boo ( demi memuliakan Ayah Bunda).
6. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
- Sing Sun Bok Tok ( sepenuh iman mengikuti genta rohani).
- Ci Cun Ci Sing ( yang terjunjung, Nabi agung).
- Ing Poo Thian Bing ( yang dilindungi firman Tuhan).
7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
- Sian Khiem Su Si ( sepenuh iman memuliakan SuSi).
- Thian He Tai King ( kitab suci besar dunia).
- Liep Bing Tai Pun ( pokok besar tegakkan firman).
8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
- Sing Hing Tai Too ( sepeunuh iman menempuh jalan suci yang Agung).
- Su Ji Put Li ( sekejap pun tidak terpisah)
- Bu Kiong Ci Hiu ( tempat sentosa yang tanpa batas).
 Demikian delapan keimanan yang wajib diimani oleh penganut agama Khonghucu. Konsep keimanan dalam agama Khonghucu ini tidaj jauh dari keimanan seperti agama Islam, hanya yang berbeda hanya iman kepada Qoda’ Dan Qodar, hari akhir, dan malaikat.
C.   Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati 
Khonghucu tidak banyak berbicara banyak tentang hidup setelah mati, tapi ia percaya akan keberadaan roh-roh, dan roh-roh yang berhubungan denga keluarga, maka bagi keluarga anggotanya yang masih hidup harus mempersembahkan korban kepadanya. Dalam sebuah korban yang disajikan dalam sebuah pesta atau sejajian, karena bahwa roh-roh leluhur akan menikmati sejajian itu. Manusia berdo’a pada nenek moyang atau para leluhur mereka, karena itu dinamakan perbuatan anak lai-laki yang berbakti (Hau) pada orang tua. Penyebahan kepada roh-roh hanya berlaku pada lingkungan keluarga saja yang telah meninggal. Pemujaan arwah nenek moyang telah merupakan tradisi bagi bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze. Tradisi tersebut dikukuhkan oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi bai nilai-nilai lainnya.
“Layanan cinta kasih dan takzim kepada ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita srta berkabung sewaktu mereka meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi yang hidup.” (SBE, 3 : 488).
Menurut kepercayaan, ibu-bapak yang telah meninggal tetap hidup berkelanjutan dan tetap mengawasi turunannya. Perembahan makanan pada waktu-waktu tertentu itu bukan bersifat korban tebusan, tetapi perlambang santap bersama yang dipandang sakral.
Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)”
Upacara kematian dalam agama Khonghucu dapat diartikan sebagai proses pengurusannya yang diikuti dengan berbagai upacara penghormatan yang dilakukan oleh keluarga dan para umat Khonghucu yang ikut dalam upacara tsb. Dalam ajaran Khonghucu proses penguburan ada yang tidak memakai peti dan penguburannya tidak terlalu mendalam, maka tidak heran mayat yang dikubur akan menimbulkan bau tak sedap. Ini adalah tradisi yang buruk bagi agama Khonghucu, maka ajaran ini dihilangkan. Dan setiap penguburan ketika ibunya, itu dianggap seperti isteri-isteri pembesar, membawa mayatnya kegunung Hong San dan dikuburkan disebelah kuburan ayahnya. Tradisi secara sebelah-menyembelah ini masih dilakukan oleh orang cina yang menganut agama Khonghucu di Indonesia. Karena menurut Khonghucu manusia ialah makhluk utama, maka mesti tubuhnya tidak bernafas lagi kita tetap menghormatinya.
Seorang Prof. Filsafat dari universitas Tsing Hua mengatakan bahwa yang terpenting dalam upacara kematian ialah upacara berkabung  artinya ketika ibunya meninggal dunia, dia melakukan perkabungan selama 27 bulan, dan dia juga melakukan pantangan selama masa berkabung misalkan seperti tidak bersenag-senang dan dia mengisi berkabungnya mengisi hal-hal yang bermanfaat menurut Khonghucu selama masa perkabungan untuk berkerja. Hanya saja dia tidak memakai emas, tidak mengunjungi pesta dan tidak mengadakan perayaan-perayaan dan Upacara penyajian korban,  terutama dari para leluhur.
Dalam kitab SuSi tidak banyak kita jumpai ungkapan-ungkapan Khonghucu tentang roh-roh. Meskipun demikian, bukan berarti Khonghucu tidak percaya tentang dunia setelah kematian, bagi dia mengenal kematian dapat diketahui setelah dia mengalami kehidupan.
“ Hwan Thi (salah seorang murid Khonghucu) bertanya tentang orang yang bijaksana. Khonghucu menjawab, ia mengabdi kepada rakyat berdasarkan kebenaran, ia juga menghormati kepada roh-roh tetapi dari jauh (dengan hormat yang jauh) demikian orang yang bijaksana” (Lun Gi, Jilid VI: 22), maksud ayat diatas bahwa orang yang berbakti tidak hanya berbakti kepada rakyat berdasarkan kebenaran akan tetapi  juga berbakti juga mengabdi kepada roh, artinya bahwa umat Khonghucu juga mempercayai adanya kehidupan setelah mati.
Dalam masyarakat Cina yang menganut paham konfucianisme, ide tentang Tuhan dan kehidupan setelah mati tidak ditolak, dan juga tidak ditekankan untuk diketahui. Dalam pikiran orang Cina langit dan kehidupan orang setelah mati tidak begitu dibahas secara terperinci. Dalam trdisi orang Cina juga dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam upacara kematian, mereka mempersembahkan berbagai korban untuk para leluhur atau para roh-roh keluarganya. Supaya roh-roh tersebut mendapat ketenangan dialam surga.    Mengingat kuatnya tradisi pandangan hidup rahaniah yang berlatar belakang pada kepercayaan kepada ahal-hal ghaib itu. Maka dapat dikatakan bahwa landasan hidup religius bangsa Cina adalah dalam bentuk pemujaan-pemujaan terhadap para leluhur (nenek moyang) yang ada di langit dan alam sekitarnya.
Roh-roh leluhur menempati suatu tempat penting dalam sanubari bangsa Cina, karena leluhur yang telah meninggal dianggap masih melanjutkan kehidupannya dalam lingkungan keluarga, maka dari itu arwanya dipuja oleh keluarganya. Maka dari itu juga jenazah nenek moyang harus dikubur disekitar tanah lingkungan milik keluarga yang bersangkutan. Lambang leluhurnya dibuat dalam bentuk  “papan arwah”  yang ditulis nama leluhur mereka, dan papannya di taruh di kuil. Akhirnya penghormatan kepada leluhur tersebut senantiasa mengalami peningkatan yang lebih tinggi lagi yakni meningkatan kearah penghormatan terhadap “langit” sehingga menimbulkan pandangan adanya roh/dewa yang lebih agung, yang ada diatas roh-roh para leluhurnya. Nenek moyang yang sudah lama meninggal yang berdiam di dilangit dinamakan (Ti) atas dasar perintah oleh nenek moyang lebih tinggi (Shang Ti).
            Untuk membuktikan bahwa Khonghucu benar-benar telah mengajarkan kehidupan setelah mati, Hiksu Tjhie Thay Ing yang didapat dari kitab-kitabnya, sebagai berikut :
“ semangat aatau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang adanya roh (sien), kehidupan jasad (phik) itulah adanya perwujudan tentang adanya nyawa/jiwa badani (kui). Bersatu dengan harmonisnya nyawa dan roh dalam kehidupan ini adalah tujuan pengajaran agama. Semua dilahirkan tumbuh berkembang pasti mengalami kematian, yang mati berpulang kepada tanah, ini yang berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani. Semangat jiwa rohani itu naik keatas, memancarkan cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah sari beratus benda dan makhluk, itulah pernyataan adanya roh.” (Lee Ki XXIV:13)
D. Kesimpulan
Khonghucu tidak pernah berbicara tentang Tuhan, atau ke ajaiban atau masalah kekuatan. Tapi tidak ada keraguan- keraguan bahwa Khonghucu percaya pada Tuhan dan ia adalah seorang monoteis yang etis, ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karena itu misinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku didunia ini. Dalam Khonghucu sendiri istilah Tuhan disebut dengan Thian. Dalam kitab-kitab agama Khonghucu terdapat banyak berbicara tentang Thian atau Tuhan YME. Diantaranya terdapat dalam kitab She Cing (kitab puisi). Dalam kitab ini banyak berbicara tentang Tuhan YME. Yang dalam umat Khonghucu disebut dengan Thien dan Shang Ti.
Dalam kitab SuSi yang berhubungan dengan keimanan adalah :
  1. Iman adalah jalan suci Thian
  2. Iman berfungsi menggerakan hati manusia kearah lebih baik.
  3. Iman itu dapat diperoleh kalau manusia dapat berbuat hal-hal yang baik.
  4. Untuk dapat menggembirakan orang tua. Manusia lebih dahulu memenuhi dirinya dengan iman.
Untuk lebih jelasnya agama Khonghucu berbicara tentang kehidupan setelah mati, itu bisa dilihat dari berbagai banyak kitab-kitab Ngo King dan SuSi, dan Khonghucu bukan berbicara tentang kehidupan setelah mati, hanya sederhana mungkingambaran tentang eskatologi, akan tetapi untuk mebuktikannya, bahwa Khonghucu juga berbicara tentang roh-roh para leluhur mereka yang telah meninggal. Akan tetapi penjelasan ini hanya sedikit, tidak jelas apakah roh-roh nenek moyang itu di neraka atau disurga, dan apa itu surga dan neraka dalam pandangan Khonghucu secara detail. Maka dari itu dalam perkataan Khonghucu seperti dikatakan hidup setelah mati, ia harus mengenal apa itu hidup, dan dilalui oleh kehidupan terlebih dahulu.

Daftar Pustaka
1. Joesoef Sou`yb, Agama-agama Besar di Dunia, (Al-husna Zikra: 1996)
2. Prof. Arifin, H.M. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Golden Trayon Press, 1986, Jakarta, cet. 1
3. Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta : IAIN PRESS, 1988)
4. http:// Agama Konghucu.com



[1] Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, : IAIN Press Yogyakarta, 1988, hal. 220
[2] Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005, hlm. 44
[3] Ibid 48
[4] Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, : IAIN Press Yogyakarta, 1988, hal. 227
[5] Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005, hlm. 53
[6] http:// kematian dalam tradisi Khonghucu, pada tanggal 01-05-2012, pada jam 08.09. Wib
[7] Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005, hlm. 52
[8] Prof. Arifin, H.M. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Golden Trayon Press, 1986, Jakarta, cet. 1, hal. 27 
[9] Ibid 28