- Sejarah MATAKIN ( Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia )
Adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan
agama Khonghucu diIndonesia, organisasi ini diresmikan pada tahun 1995, MATAKIN
ini adalah sebuah perubahan dari berbagai nama organisasi Khonghucu di
indonesia, tepatnya pada konferensi 22-23 desember 1963 di Solo nama LASKI
(Lembaga Agama SangKhonghucu Indonesia) di ubah menjadi GAPAKSI (Gabungan
Perkumpulan Agama Khonghucu
Se-Indonesia), dan pada konggres ke IV GAPAKSI di Solo 23-27 Agustus 1967, nama
GAPAKSI di ubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) yang
diketuai oleh Tan Sing Hoo. Di dalam Anggaran Dasar MATAKIN Bab XIII pasal 21.2
dengan tegas disebutkan bahwa “ MATAKIN bersifat independen, dan tidak
berafilisasi dengan organisasi sosial politik manapun, baik di dalam maupun
diluar negeri. Bagi rohaniwan MATAKIN mempunyai wewenang
1.
Menyelenggarakan
kebaktian bagi umat Khonghucu didaerahnya
2.
Melakukan Liyuan Umat
3.
Memimpin
berbagai upacara suci bagi umat Khonghucu, sesuai hukum Khonghucu termasuk
hukum perkawianan dll.
- Kongzi (Nabi Khongcu)
Kongzi (Hua Yu) atau
Khongcu (dialek Hokian) atau Confucius (Latin) adalah nama nabi terakhir dalam
agama Konghucu. Ia lahir tanggal 27, bulan 8, tahun 0001 Imlek atau 551
sM. Kongzi adalah nabi terbesar dalam agama Konghucu dan oleh sebab itu
banyak orang yang kemudian menamai Ru Jiao sebagai Confucianism, yang kemudian
di Indonesia dikenal sebagai Agama Konghucu. Sebagai bukti akan kebesaran
Kongzi atau Nabi Khongcu, tahun pertama dari penanggalan Imlek dihitung sejak
tahun kelahirannya. Padahal penanggalan Imlek diciptakan pada zaman Huang
Di, 2698-2598 sM dan telah digunakan sejak Dinasti Xia, 2205-1766 sM.
Penetapan tahun pertama ini dilakukan Kaisar Han Wu Di dari Dinasti Han
pada tahun 104 sM.
Nama Nabi Kongzi :
- Sang Bunda memberi nama – “Tiong Ni” yang artinya ‘Putera ke dua dari Bukit Ni.’ Nama lengkap adalah Khong Khiu alias Tiong Ni.
- Para murid memanggilnya Kongzi – Guru besar Kong
- Sarjana-sarjana barat menyebutnya “Confucius”
- Kampung kelahiran – “Chiang Ping, Kota Zou Yi , Negeri Lu, jazirah Shantung di lahirkan dilembah Khong Song.
Adapun
tanda-tanda pada kelahiran nabi Khongcu :
- Munculnya 2 ekor naga berjaga-jaga didekat bangunan tua dilembah Kongsung.
- Diangkasa terlihat 5 malaikat tua yang sedang turun kehalaman rumah dan bersama berjalan masuk keserambi rumah
- Bintang kutub utara memancarkan cahaya yang gemilang
- Terdengar suara musik yang merdu alun, suaranya yang datang dari pemain musik dari angkasa
- Terdengar sabda “Tuhan YME berkenan menurunkan seseorang putera yang Nabi”
- Langit jernih, dan bumi terasa damai dan tentram
- Angin sepoi-sepoi, matahari bersinar hangat
- Pada tubuh sang bayi, nampak tanda luar biasa
Ajaran keimanan dalam agama Khonghucu :
- Sepenuh iman kepada Tuhan Yang Maha Esa ( Cheng Xin Huang Tian)
- Sepenuh iman menjunjung kebajikan ( Cheng Juen Jie De)
- Sepenuh iman menegakan firman gemilang (Cheng Lin Ming Ming)
- Sepenuh iman percaya adanya nyawa dan roh ( Cheng Zhi Gui Sheng)
- Sepenuh iman memupuk cita berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
- Sepenuh iman mengikuti genta rohani nabi Kongzi ( Cheng Shun Mu Duo)
- Sepenuh iman memuliakan kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
- Sepenuh iman menempuh jalan suci (Cheng Xian Da Dao)
Ada lima sifat kekelan dalam agama
Khonghucu (Wu Chang)
- Ren - Cinta kasih
- Yi - Kebenaran, keadilan atau kewajiban
- Li - Kesusilaan atau kepantasan
- Zhi - Bijaksana
- Xin - Dapat dipercaya
Ada lima hubunga sosial ( Wu Lun)
- Hubungan antara pimpinan dan bawahan
- Hubungan antara suami dan istri
- Hubungan antara orang tua dan anak
- Hubungan antara kakak dan adik
- Hubungan antara kawan dan sahabat
Ada delapan kebajikan ( Ba De)
- Xiao - Laku bakti yaitu selalu berbuat baik kepada sesama dan saling tolong
- Ti - Rendah hati yaitu tidak sombong terhadap sesama makhluk
- Zong - Satya
- Xin - Dapat dipercaya yaitu selalu menepati janji dan melaksanakan
- Li - Susila yaitu aturan yang ada di masyarakat umum
- Yi - Bijaksana yaitu berbuat kebenaran- kebenaran
- Lian - Suci hati yaitu denga selalu berfikir positif thingking dan bersih hati
- Chi - Tahu malu yaitu malu bila berbuat salah, agar dihormati orang
Dalam agama khonghucu ada 2 kelompok
kitab ini adalah persembahan dari Nabi Khonghucu untuk Tuhan YME atau Tuhan
Tian, yakni :
- Wu Jing ( kitab suci yang lima) yang terdiri atas :
- Kitab sanjak suci ( Shi Jing)
- Kitab dokumen sejarah ( Shu Jing)
- Kitab wahyu perubahan ( Yi Jing)
- Kitab suci kesusilaan ( Li Jing)
- Kitab Chun-qiu (Chungqiu Jing)
- Si Shu (kitab yang empat) yang terdiri atas :
- Kitab ajaran besar ( Da Xue)
- Kitab tengah sempurna ( Zhong Yong)
- Kitab sabda suci ( Lun Yu)
- Kitab Mengzi (Mengzi)
C. Upacara kematian atau berkaung dalam
agama Khonghucu
Upacara kematian dalam agama Khonghucu
dapat diartikan sebagai proses pengurusannya yang diikuti dengan berbagai
upacara penghormatan yang dilakukan oleh keluarga dan para umat Khonghucu yang
ikut dalam upacara tsb. Dalam ajaran Khonghucu proses penguburan ada yang tidak
memakai peti dan penguburannya tidak terlalu mendalam, maka tidak heran mayat
yang dikubur akan menimbulkan bau tak sedap. Ini adalah tradisi yang buruk bagi
agama Khonghucu, maka ajaran ini dihilangkan. Dan setiap penguburan ketika
ibunya, itu dianggap seperti isteri-isteri pembesar, membawa mayatnya kegunung
Hong San dan dikuburkan disebelah kuburan ayahnya. Tradisi secara
sebelah-menyembelah ini masih dilakukan oleh orang cina yang menganut agama
Khonghucu di Indonesia. Karena menurut Khonghucu manusia ialah makhluk utama,
maka mesti tubuhnya tidak bernafas lagi kita tetap menghormatinya.
Seorang Prof. Filsafat dari universitas
Tsing Hua mengatakan bahwa yang terpenting dalam upacara kematian ialah upacara
berkabung artinya ketika ibunya
meninggal dunia, dia melakukan perkabungan selama 27 bulan, dan dia juga
melakukan pantangan selama masa berkabung misalkan seperti tidak
bersenag-senang dan dia mengisi berkabungnya mengisi hal-hal yang bermanfaat
menurut Khonghucu selama masa perkabungan untuk berkerja. Hanya saja dia tidak
memakai emas, tidak mengunjungi pesta dan tidak mengadakan perayaan-perayaan
dan Upacara penyajian korban, terutama dari para leluhur.
1.
Macam-macam
dalam upacara dalam kematian ialah :
a. Saat upacara Jib Bok (memasukan jenazah
kedalam peti)
b. Saat upacara Mai Song (malam menjelang
pemberangkatan jenazah)
c. Saat upacara Sang Cong ( pemberangkatan
jenazah)
d. Saat upacara Jib Gong ( pemakaman
jenazah)
e. Saat upacara Tuh atau Ki Hok ( membalik
meja)
f. Saat upacara Siau Siang ( 1 Tahun)
g. Saat upacara Tai Siang ( 3 Tahun)
Upacara diatas yang sering dianut dan
masih sekarang ialah upacara Ki Hok, Siau Siang dan Tai Siang. Dan upacara 3,
4, 7, 9, 40, dan 100 hari setelah pemakaman.
2.
Tujuan
upacara kematian ialah :
- Untuk mendo’akan orang yang telah meninggal supaya rohnya mendapatkan ketenangan dan kedamaian di tempat yang abadi disisi Tuhan.
- Untuk menunjukan rasa bakti seorang anak kepada orang tuanya yang meninggal dunia secara sungguh-sungguh
- Sebagai pewarisan nilai-nilai atau norma-norma melalui proses sosialisasi.
Dalam bentuk-bentuk upacara kematian
yang dilakukan oleh orang-orang Cina keturunan yang menganut ajaran Khonghucu
dilakukan mempersembahkan sesajian berupa makanan yang dihidangkan diatas Altar
( meja sembahyang) untuk arwah orang yang telah meninggal dunia, kemudian
melakukan penghormatan bagi keluarga yang ditinggalkan dengan media menaikan
batang Dupa atau Hio
D. Ibadah Umat Khonghucu (Boen Bio)
a. Melakukan ibadah kepada Thian ( Tuhan
YME)
Sembahyang syukur tiap
pagi dan sore saat menerima rezeki
(makanan), sembahyang ini mereka lakukan didepan meja sembahyang (altar) yang
terdapat dirumah-rumahnya, umumnya meja ini disimpan diruang tamu sehingga bila
ada seseorang yang berkunjung kerumah umat Khonghucu, kita akan dapat melihat
bentuk meja sembahyang yang sebenarnya.
b. Sembahyang atau Thian Hio tiap tanggal 1
dan 15 pada penanggalan bulan/lunar (Imlek)
Pada tanggal-tanggal
tersebut setiap bulannya, umat Khonghucu juga melakukan sembahyang didepan Altar
keluarga dirumah dan bisa juga dilakukan ditempat ibadah umum (Litang),
orang yang memelihara atau membakar dupa dihadapan abu atau papan arwah
leluhurnya. Dan juga dihadapan patung dewa yang dipuja dalam rumahnya. Upacara
ini mereka lakukan pada pagi hari dan petang/ sore hari.
c. Sembahyang besar pada hari-hari
kemuliaan Thian, yaitu :
1. Sembahyang malam penutupan tahun/malam
menjelang Gwan Tan.
2. Sembahyang King Thi Kong. Pada tanggal 8
menjelang tanggal 9 Cia Gwee (bulan pertama).
3. Sembahyang saat siang Gwan atau Cap Go
Meh. 15 Cia Gwee bulan pertama).
4. Sembahyang pada hari Tangcik ( hari
dimana letak matahari diatas garis balik 23,5 Lintang selatan, Yakni tepat pada
tanggal 22 Desember)
d. Kebaktian kepada nabi Kongzi
1. Peringatan hari lahir kongzi, pada
tanggal 27-8 Imlek/ Ci Sing Tan
2. Peringatan pada wafatnya nabi Kongzi,
pada tanggal 18-2/ Ci Sing Ki Sien.
3. Peringatan pada hari Genta Rohani/Bok
Tok (Genta yang terbuat dari logam dan dipukul dengan pemukul yang terbuat dari
kayu) setiap pada tanggal 22 Desember.
e. Kebaktian untuk para suci
1. Hari Twan Yang, Pada tanggal 5-5 Imlek. Twan
artinya lurus, termukaatau terang dan Yang pada saat matahari
memancarkan cahaya yang paling keras (terang).
2. Sembahyang Tiong Chiu, pada tanggal 15-8
Imlek adalah saat bulan purnama dipertengahan musim rontok (musim gugur)
dibelahan bumi utara. Pada saat itu cuaca dibalik bulan nampak sangat terang,
pada saat itu juga para petani gembira dan senag karena musim panen. Pada saat
itu juga ketika bulan purnama itu dilakukan sembahyang Hok Tik Cing Sien
(malaikat bumi) untuk pernyataan syukur
3. Hari He Gwan, pada tanggal 15-10 Imlek.
He Gwan ini diartikan sebagai pernyataan terakhir dalam satu tahun atas Maha
Kasih Tuhan Thian. Pada saat He Gwan ini dilakukan juga sembahyang besar bagi
malaikat bumi (Ok Tik Cing Sien) yang
merupakan lampang penciptaan Tuhan.
f. Sembahyang bagi para leluhur
1. Sembahyang setipa pada tanggal 1 dan 15
penaggalan bulan.
2. Hari wafat leluhur atau orang tua (Co
Ki).
3. Sembahyang tutup tahun (Tik Sik) tanggal
29-12 Imlek.
4. Sembahyang sadranan/ Ching Bing, pada
tanggal 5 April. Atau sembahyang kubur.
5. Sembahyang pada arwah leluhur, tanggal
15-7 Imlek.
g. Kebaktian masyarakat
1. King Ho Ping (sembahyang arwah umum)
pada tanggal 29-7 Imlek.
2. Hari persaudaraan atau yang kita kenal
hari kenaikan malaikat dapur, pada tanggal 24-12 Imlek, pada hari ini umat
Khonghucu harus berdermawan pada fakir miskin ini dilakukan atau dibagikan saat
menjelang tahun baru Imlek.
3. Hidup sepenuh hidup, Seluruh perbuatan
lahir batin manusia sepanjang hidupnya, hendak melakukan kebaktian ibadah
kepada Thian.
Adapun
tujuan dari ritual atau bribadah umat Khonghucu ialah :
- Mendekatkan diri kepada Tuhan Thian.
- Memohon pertolongan dan perlindungan.
- Bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.
Tempat
ibadahnya umat Khonghucu
Ada dua tempat peribadatan yang
biasanya dilakukan oleh umat Khonghucu, yaitu di rumah dan Klenteng, bagi umat
Khonghucu pada dua tempat ini tidak ada perbedaan dalam melakukan peribadatan.
Dan ada sebutan tempat peribadatan yang umum yaitu Litang, Miao (Bio) , Kongzi
Miao, Khongcu Bio dan Klenteng. Selain tempat ritual tepat-tempat ini sebagai
tempat kebaktian berkala yang biasanya dilakukan pada tanggal 15 Imlek.
Sebutan
para Ronahiwan agama
- Zhanglao (Zi) = Tingkatan sesepuh senior
- Xueshi (Xs) = Tingkatan ketiga
- Wenshi (Ws) = tingkatan kedua
- Jiaosheng (Js) = tingkatan pertama
Proses
peribadatan umat Khonghucu
- Terlebih dahulu menyalakan lilin di depan Altar/ tempat berdo’a
- Membakar Hio atau Dupa sebanyak 3 atau 9 batang, yang melambangkan Tuhan, manusia dan bumi, kemudian dinaikan kedahi 3 sambil mengatakan :
1. Pada angkatan Hio pertama mengucapkan “
kehadiran Tuhan Yang Maha Esa ditempat yang maha tinggi”, dimuliakanlah.
2. Pada angkatan Hio kedua mengucapkan “
kehadapan nabi Khongcu, sebagi pembimbing dan penyadar hidup kami”
dimuliakanlah.
3. Pada angkatan Hio ketiga mengucapkan “
kehadapan para suci dan leluhur yang kami hormati” dimuliakanlah.
- Meletakan batang Hio di Youlu ( yang terbuat dari besi kuning yang berbentuk hati), Hio pertama diletakan di tengah, kedua diletakan di sebelah kanan, dan ketiga diletakan sebelah kiri.
- Berdo’a dengan sikap Pat Tik, ada dua sikap Pat Tik ini yaitu :
1. Sikap Pat Tik delapan kebajikan mendekap
Thai Klik, yaitu dengan cara tangan kanan dikepalkan lalu ditutup dengan tangan
kiri. Sikap tang seperti ini digunakan juga pada saat waktu sembahyang.
2. Sikap Pat Tik delapan kebajikan mendekap
hati dengan cara tangan kanan tetap membuka, dan tangan kiri merangkap punggung
tangan kanan dan kedua ibu jari dipertemukan, kemudian didekapkan di dada.
Sikap Pat Tik ini bermakna “ aku selalu bahwa dengan perantara ayah bunda Tian
telah berkenan menjadikan daku manusia” maka manusia wajib melakukan delapan
kebajikan
Makna
Pat Tik yang dilakukan saat ritual
sembahyang :
1. Ibu jari kiri melambangkan ayah
2. Ibu jari kanan melambangkan ibu
3. Kedua ibu jari bila dipertemukan dalam
posisi Pat Tik maka akan membentuk huruf Jien yang artinya manusia
4. Delapan jari yang lain melambangkan 8
kebajikan seperti dipaparkan diatas
5. Kesatuan genggaman melambangkan Tian /
Tuhan YME.
6. Dekapan dalam dada melambangkan bahwa
selalu ingat kepadanya
Makna
dalam Pat Kik dalam mengangkat kepala
1. Angkatan 1 kali ( Pai ) = Kepada sesama makhluk hidup
2. Angkatan 2 kali (Tinglee) = Kepada orang yang meninggal
3. Angkatan 3 kali ( Tinglee) = Kepada Altar Tuhan, Nabi dan arwah
Makna
simbol-simbol yang digunakan saat melakukan ritual
Hio atau Dupa artinya “harum/ asap yang
berbau sedap”, Dupa yang dipakai pada nabi Khongcu sebenarnya berbentuk bubuk
atau belahan kayu. Dalam arti membakar ‘ sebagai jalan suci kesatuan hatiku dan
hatiku dibawa melalui keharuman dupa” atau manfaat lain :
1. Berguna untuk memenangkan pikiran,
memudahkan proses meditasi.
2. Mengusir hawa atau hal-hal yang bersifat
jahat.
3. Mengukur waktu, karna pada zaman dahulu
belum ada jam.
Banyak
warna dalam batang Hio atau Dupa
1. Dupa yang bergagang dan 2 batang warna
hijau hijau berguna ketika bersembahyang didepan jenazah keluarga sendiri.
2. Dupa yang bergagang dan 1,2,4,5,8, dan 9
batang merah berguna bersembahyang pada umumnya. Setiap batang mempunyai
macam-macam makna dan tujuan tersendiri.
3. Dupa yang tidak bergagang berbentuk
piramida atau serbuk berguna untuk menenangkan pikiran, mengheningkan cipta
serta mengusir setan.
4. Dupa yang berbentuk spiral seperti obat
nyamuk, hanya untuk bau-bauan saja.
5. Dupa tanpa gagang (Tiang Siu Hio)
panjang lurus dibakar ujungnya, khusus untuk media sembahyang kepada Tuhan
(Tian).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar