1. Pendahuluan
Umat khonghucu selain menyakini empat kitab (SuSi) juga
menyakini kitab yang lain (Ngo King) sebagai landasan dari ajaran-ajaran dari
Khonghucu, dari kitab-kitab tersebut juga memuat ajaran tentang Tuhan,
keimanan, hidup setelah mati dan juga memuat ajaran—ajaran tentang manusia,
alam semesta dan hubungan antara anak dan bapak, serta antara raja dan
bawahannya.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai masalah tentang ajaran atau doktrin
yang di kembangkan dalam agama Kong Hu Cu, berikut penjelasan-penjelasan yang
akan di paparkan pada bab-bab terkait.
- Ajaran Tentang Tuhan
Dalam Agama kongfutzu, atau biasa dibunyikan dengan Kong
Hu Cu, di kaitkan dengan nama pendiri agama ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM).
Ada yang menilai bahwa ajaran Kung Fu Tze bukanlah suatu agama melainkan
hanyalah ajaran tentang nilai-nilai (Ethika) saja, karena Kung Fu Tzu sendiri
menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib. bahwa sistem ajaran Kung
Fu Tzu itu mengenal pengakuan terhadap kodrat Maha Agung (Supreme Being),
serta mempercayai pemujaan terhadap arwah Nenek Moyang (Ancetors-Worship),
juga mengajarkan tata tertib Kebaktian. dengan landasan inilah seiring perkembangan
zaman ajaran Kung Fu Tze termasuk kepada ajaran keagamaan.
Pada suatu saat Khonghucu ditanya, dia tidak pernah berbicara tentang Tuhan,
atau ke ajaiban atau masalah kekuatan. Tapi tidak ada keraguan- keraguan bahwa
Khonghucu percaya pada Tuhan dan ia adalah seorang monoteis yang etis, ia
menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karena itu misinya
adalah membuat kehendak tersebut berlaku didunia ini. Dalam Khonghucu sendiri
istilah Tuhan disebut dengan Thian. Dalam kitab-kitab agama Khonghucu terdapat
banyak berbicara tentang Thian atau Tuhan YME. Diantaranya terdapat dalam kitab
She Cing (kitab puisi). Dalam kitab ini banyak berbicara tentang Tuhan YME.
Yang dalam umat Khonghucu disebut dengan Thien dan Shang Ti. Ada sebuah syair
dari kitab She Cing tersebut yaitu :
“ kekuasaan dan bimbingan dari Thian (Tuhan YME) sangat luas dan dalam hal
ini diluar jangkauan suara, sentuhan, atau penciuman” (She Cing IV Wen Wang
1/7).
“ Oh, betapa besarnya Shang Ti (Tuhan Yang Maha Kuasa), berkahnya
tercurahkan kebumi, dengan pandangan yang menyeluruh dengan perhatian yang
seksama mengatur segala makhluk didunia agar hidup dalam berkecukupan (She Cing
IV Wen Wang VII/I).”
Syair diatas, ditulis jauh sebelum Khonghucu lahir, menurut perkiraan para
ahli sejarah, Syair-syair tersebut ditulis kira-kira 1000 tahun sebelum
kelahiran Khonghucu atau sekitar tahun 1550 SM. Dari syair diatas bahwa dapat
dikatakan bahwa karya-karya klasik yang ditulis 1000 tahun sebelum kelahiran
Khonghucu tersebut, sudah mengenal konsep Tuhan yang mereka kenal dengan Thien
dan Shang Ti. Istilah Tuhan paling jumpai dalam kitab Su Cing dan She Cing,
bahkan beberapa kali diulang kata Thien dan Shang Ti, didalam kitab tersebut
istilah Thien dijumpai sebanyak 85 kali dan istilah Shang Ti dijumpai sebanyak
336 kali. Ini menunjukan bahwa umat Khonghucu juga memiliki konsep theistik.
Atau sebelum Khonghucu lahir punsudah memiliki konsep Tuhan sendiri, mereka
gambarkan konsep Tuhan sebagai suatu zat maha tinggi yang bisa mengatur
kehidupan manusia dibumi ini atau sebagai zat yang menciptakan adanya alam ini.
Agama
Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa
disebut Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat
diperkiarakan dan ditetapkan. Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha
Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha
Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha
Abadi Hukumnya (Zhen). Banyak sekali bahwa Khonghucu
berbicara tentang Tuhan, ini dilihat dari beberapa banyak kitab-kitabnya. Umat
Khonghucu pun juga mengenal istilah Thian Li dan Thian Ming.
a.
Thian Li
Thian
adalah Tuhan Yang Maha Esa atau sesuatu yang absolut, yang mutlak dab tidak
dijadikan oleh siapa pun. Segala sesuatu yang ada dialam semesta ini berjalan
menurut hukum-hukumnya (Thien Li), istilah Thian Li ini sebenernya bersumber
pada pada pengertian Thian yang mengalami penafsiran atau perluasan pada masa
Neo-Konfusianisme. Jadi Thian Li itu sendiri bukanlah nama lain dari Thian.
Akan tetapi dekat dengan pengertian firman Thian atau hukum-hukum dan peraturan
yang bersumber dari Thian.
b.
Thian Ming
Thian
Ming dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah dijadikan atau sesuatu yang
telah terjadi. Pangeran Chou pernah mengajarkan Thien Ming, yang isinya bahwa
Thien memberikan ketetapan kepada seseorang untuk memimpin bangsa atau negara.
Artinya bahwa seorang manusia harus menjalankan tuga dan kewajibannya sesuai
dengan kehendak Tuhan atau Thian. Intinya yaitu melakukan kebajikan, bila
seseorang tidak menjalankan kebajikan tersebut maka ia kehilangan amanat dan
tugas, artinya gagal dalam kehidupan ini, dan sebaliknya bila menjalankan atau
mengembangkan maka ia dikatakan sebagai manusia yang berhasil dalam
kehidupannya, yaitu menjadi keharmonisan dalam hidupnya.
Pengertian
dari Thian Li dan Thian Ming ini tidak jauh berbeda artinya, Thian Ming lebih
mengarahkan kepada perbuatan yang dilakukan kepada manusia sesuai dengan amanat
atau perintah dari Thian. Thian Li juga bersifat perintah, tetapi masih
bersifat umum, dan bersifat anjuran yang sudah dilakukan manusi, dalam hal ini
ada yang berhasil manjalankan peritah ini namun ada juga yang tidak. Dalam arti tidak menjalanka perintah, yaitu
tidak menjalankan amanat yang berasal
dari Thian tersebut.
B.
Ajaran Tentang Keimanan
Penyebaran
ajaran-ajaran Kong Hu Cu dimulai tidak lama setelah dia meninggal dunia.
Setelah berkabung karena kematiannya pendirinya yaitu Kong Fu Tze, para murid
Kong Fu Tze menyebarkan dan masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri
dalam melanjutkan pekerjaan penyebaran agamanya. Akan tetapi akibat
perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena
masing-masing mengembangkan system pemikiran tersendiri, sesuai dengan
kepentingan dan keyakinannya. Khonghucu juga memiliki ajaran tentang
keimanan, yang terdapat dalam kitab SuSi.
Keimanan kaum Kong Hu Cu
(Konfusius) tidak lepas dari kitab suci agama itu sendiri yang diyakini ditulis
oleh Konfusius sendiri yaitu :
- Shu Ching, Buku tentang sejarah. Aslinya mengandung 100 dokumen sejarah sejarah dinasti-dinasti kuno Cina dan mencakup suatu periode yang dimulai dari abad ke-24 S.M. sampai abad 8 S.M. Konfusius dikatakan telah menyusun dokumen-dokumen ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya. Dokumen ini tercampur dengan ajaran-ajaran agama dan moral.
- Shing Ching, yaitu buku tentang puisi, yaitu kumpulan sajak-sajak yang popular yang ditulis lima ratus tahun pertama dari dinasti Chan.
- Yi Ching, Buku tentangperubahan-perubahan. Buku ini mengemukakan system yang sangat fantastis menyangkut filsafat dan menjelaskan apa yang disebut dengan prinsip Yin (wanita) dan Yang (pria).
- Li, Chi, buku tentang upacara-upacara. Konfusius menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawakehalusan budi, keagungan dan kesopanan kedalam tingkah laku sosial mereka.
- Yeo, buku tentang music. Pada zaman konfusius music berhubungan erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak-sajak kuno ia juga menyusun pasangannya berupa music untuk setiap sajak yang telah diseleksinya.
- Chu`un Ch`ii, tentang sejarah musim semi dan musim rontok, yaitu catatan kronologis tentang peristiwa-peristiwa di negri Lu mulai tahun pertama pemerintahan pangeran Yiu (722 S.M) hingga tahun keempat belas dari pemerintahan pangeran Ai (481 S.M).
Dalam
agama Kong Hu Cu ada yang disebut pengakuan Iman, diantaranya ada delapan
Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
1.
Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang
Tian)
- Sing Sien Hong Thian ( sepenuh iman percaya tehadap Tuhan Yang Maha Esa).
- Bu Ji Bu Gi ( jangan mendua hati,
jangan bimbang).
- Siang Tee Liem Li ( Tuhan Yang Maha Tinggi Besertamu).
2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan
(Cheng Juen Jie De)
- Sing Cun Khoat Til ( sepenuh iman menjunnung kebajikan).
- Bu Wan Hut Kai ( tiada jarak jauh tak terjangkau).
- Khik Hiang Thian Siem ( sungguh hati Tuhan merahmati).
3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman
Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
- Sing Liep Bing-bing ( sepenuh iman menegakkan firman gemilang)
- Cun Siem Yang Sing ( jagalah hati, rawatlah watak seajati).
- Cik Tu Su Thian ( mengabdi Tuhan)
4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa
dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
- Sing Ti Kwi Sien ( sepenuh iman sadar adanya nyawa dan roh).
- Cien Siu Kwa Yok ( tekunlah membina diri, kurang keinginan).
- Hwat Kai Tiong Ciat (bila nafsu timbul, jagalah tetap terbatas tengah).
5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti
(Cheng Yang Xiao Shi)
- Sin Yang Haw Su ( sepenuh iman merawat cinta berbakti).
- Liep Sien Hing Too ( tegakkan didi menempuh jalan suci).
- I Hian Hu Boo ( demi memuliakan Ayah Bunda).
6. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani
Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
- Sing Sun Bok Tok ( sepenuh iman mengikuti genta rohani).
- Ci Cun Ci Sing ( yang terjunjung, Nabi agung).
- Ing Poo Thian Bing ( yang dilindungi firman Tuhan).
7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu
dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
- Sian Khiem Su Si ( sepenuh iman memuliakan SuSi).
- Thian He Tai King ( kitab suci besar dunia).
- Liep Bing Tai Pun ( pokok besar tegakkan firman).
8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci
(Cheng Xing Da Dao)
- Sing Hing Tai Too ( sepeunuh iman menempuh jalan suci yang Agung).
- Su Ji Put Li ( sekejap pun tidak terpisah)
Demikian delapan keimanan yang wajib
diimani oleh penganut agama Khonghucu. Konsep keimanan dalam agama Khonghucu
ini tidaj jauh dari keimanan seperti agama Islam, hanya yang berbeda hanya iman
kepada Qoda’ Dan Qodar, hari akhir, dan malaikat.
C.
Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati
Khonghucu tidak banyak berbicara banyak tentang hidup setelah mati, tapi ia
percaya akan keberadaan roh-roh, dan roh-roh yang berhubungan denga keluarga,
maka bagi keluarga anggotanya yang masih hidup harus mempersembahkan korban
kepadanya. Dalam sebuah korban yang disajikan dalam sebuah pesta atau sejajian,
karena bahwa roh-roh leluhur akan menikmati sejajian itu. Manusia berdo’a pada
nenek moyang atau para leluhur mereka, karena itu dinamakan perbuatan anak
lai-laki yang berbakti (Hau) pada orang tua. Penyebahan kepada roh-roh hanya
berlaku pada lingkungan keluarga saja yang telah meninggal. Pemujaan arwah nenek moyang telah
merupakan tradisi bagi bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze. Tradisi
tersebut dikukuhkan oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi bai
nilai-nilai lainnya.
“Layanan cinta kasih dan takzim kepada
ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita srta berkabung sewaktu mereka
meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi yang hidup.” (SBE, 3 :
488).
Menurut kepercayaan, ibu-bapak yang telah meninggal
tetap hidup berkelanjutan dan tetap mengawasi turunannya. Perembahan makanan
pada waktu-waktu tertentu itu bukan bersifat korban tebusan, tetapi perlambang
santap bersama yang dipandang sakral.
Karakteristik umum dalam agama orang
Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah
pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya
bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang
diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga menyakini bahwa
para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya,
roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan
keluarga. Namun,
jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa
keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada
mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan leluhur oleh keluarga
kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka
melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani
hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih
hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua
adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang
diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi
mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang
Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur di
depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan
keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu
para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur
itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga
mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur
menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih
hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga.
(Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus
Communication, 1977, hal. 2)”
Upacara
kematian dalam agama Khonghucu dapat diartikan sebagai proses pengurusannya
yang diikuti dengan berbagai upacara penghormatan yang dilakukan oleh keluarga
dan para umat Khonghucu yang ikut dalam upacara tsb. Dalam ajaran Khonghucu
proses penguburan ada yang tidak memakai peti dan penguburannya tidak terlalu
mendalam, maka tidak heran mayat yang dikubur akan menimbulkan bau tak sedap.
Ini adalah tradisi yang buruk bagi agama Khonghucu, maka ajaran ini
dihilangkan. Dan setiap penguburan ketika ibunya, itu dianggap seperti
isteri-isteri pembesar, membawa mayatnya kegunung Hong San dan dikuburkan
disebelah kuburan ayahnya. Tradisi secara sebelah-menyembelah ini masih
dilakukan oleh orang cina yang menganut agama Khonghucu di Indonesia. Karena
menurut Khonghucu manusia ialah makhluk utama, maka mesti tubuhnya tidak
bernafas lagi kita tetap menghormatinya.
Seorang Prof.
Filsafat dari universitas Tsing Hua mengatakan bahwa yang terpenting dalam
upacara kematian ialah upacara berkabung artinya ketika ibunya meninggal dunia, dia
melakukan perkabungan selama 27 bulan, dan dia juga melakukan pantangan selama
masa berkabung misalkan seperti tidak bersenag-senang dan dia mengisi
berkabungnya mengisi hal-hal yang bermanfaat menurut Khonghucu selama masa
perkabungan untuk berkerja. Hanya saja dia tidak memakai emas, tidak
mengunjungi pesta dan tidak mengadakan perayaan-perayaan dan Upacara penyajian
korban, terutama dari para
leluhur.
Dalam kitab SuSi tidak banyak kita jumpai ungkapan-ungkapan Khonghucu
tentang roh-roh. Meskipun demikian, bukan berarti Khonghucu tidak percaya
tentang dunia setelah kematian, bagi dia mengenal kematian dapat diketahui
setelah dia mengalami kehidupan.
“ Hwan Thi (salah seorang murid Khonghucu) bertanya tentang orang yang
bijaksana. Khonghucu menjawab, ia mengabdi kepada rakyat berdasarkan kebenaran,
ia juga menghormati kepada roh-roh tetapi dari jauh (dengan hormat yang jauh)
demikian orang yang bijaksana” (Lun Gi, Jilid VI: 22), maksud ayat diatas bahwa
orang yang berbakti tidak hanya berbakti kepada rakyat berdasarkan kebenaran
akan tetapi juga berbakti juga mengabdi
kepada roh, artinya bahwa umat Khonghucu juga mempercayai adanya kehidupan
setelah mati.
Dalam masyarakat Cina yang menganut paham konfucianisme, ide tentang Tuhan
dan kehidupan setelah mati tidak ditolak, dan juga tidak ditekankan untuk
diketahui. Dalam pikiran orang Cina langit dan kehidupan orang setelah mati
tidak begitu dibahas secara terperinci. Dalam trdisi orang Cina juga dalam
kehidupan sehari-hari terutama dalam upacara kematian, mereka mempersembahkan
berbagai korban untuk para leluhur atau para roh-roh keluarganya. Supaya
roh-roh tersebut mendapat ketenangan dialam surga. Mengingat kuatnya tradisi pandangan hidup
rahaniah yang berlatar belakang pada kepercayaan kepada ahal-hal ghaib itu.
Maka dapat dikatakan bahwa landasan hidup religius bangsa Cina adalah dalam
bentuk pemujaan-pemujaan terhadap para leluhur (nenek moyang) yang ada di
langit dan alam sekitarnya.
Roh-roh leluhur menempati suatu tempat penting dalam sanubari bangsa Cina,
karena leluhur yang telah meninggal dianggap masih melanjutkan kehidupannya
dalam lingkungan keluarga, maka dari itu arwanya dipuja oleh keluarganya. Maka
dari itu juga jenazah nenek moyang harus dikubur disekitar tanah lingkungan
milik keluarga yang bersangkutan. Lambang leluhurnya dibuat dalam bentuk “papan arwah” yang ditulis nama leluhur mereka, dan papannya
di taruh di kuil. Akhirnya penghormatan kepada leluhur tersebut senantiasa
mengalami peningkatan yang lebih tinggi lagi yakni meningkatan kearah
penghormatan terhadap “langit” sehingga menimbulkan pandangan adanya roh/dewa
yang lebih agung, yang ada diatas roh-roh para leluhurnya.
Nenek moyang yang sudah lama meninggal yang berdiam di dilangit dinamakan (Ti)
atas dasar perintah oleh nenek moyang lebih tinggi (Shang Ti).
Untuk membuktikan bahwa
Khonghucu benar-benar telah mengajarkan kehidupan setelah mati, Hiksu Tjhie
Thay Ing yang didapat dari kitab-kitabnya, sebagai berikut :
“ semangat aatau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang adanya roh
(sien), kehidupan jasad (phik) itulah adanya perwujudan tentang adanya
nyawa/jiwa badani (kui). Bersatu dengan harmonisnya nyawa dan roh dalam
kehidupan ini adalah tujuan pengajaran agama. Semua dilahirkan tumbuh
berkembang pasti mengalami kematian, yang mati berpulang kepada tanah, ini yang
berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani. Semangat jiwa rohani itu naik keatas,
memancarkan cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah sari
beratus benda dan makhluk, itulah pernyataan adanya roh.” (Lee Ki XXIV:13)
D. Kesimpulan
Khonghucu tidak pernah berbicara tentang Tuhan, atau ke
ajaiban atau masalah kekuatan. Tapi tidak ada keraguan- keraguan bahwa
Khonghucu percaya pada Tuhan dan ia adalah seorang monoteis yang etis, ia
menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karena itu misinya
adalah membuat kehendak tersebut berlaku didunia ini. Dalam Khonghucu sendiri
istilah Tuhan disebut dengan Thian. Dalam kitab-kitab agama Khonghucu terdapat
banyak berbicara tentang Thian atau Tuhan YME. Diantaranya terdapat dalam kitab
She Cing (kitab puisi). Dalam kitab ini banyak berbicara tentang Tuhan YME.
Yang dalam umat Khonghucu disebut dengan Thien dan Shang Ti.
Dalam kitab SuSi yang berhubungan dengan keimanan adalah
:
- Iman adalah jalan suci Thian
- Iman berfungsi menggerakan hati manusia kearah lebih baik.
- Iman itu dapat diperoleh kalau manusia dapat berbuat hal-hal yang baik.
- Untuk dapat menggembirakan orang tua. Manusia lebih dahulu memenuhi dirinya dengan iman.
Untuk lebih jelasnya agama Khonghucu berbicara tentang kehidupan setelah
mati, itu bisa dilihat dari berbagai banyak kitab-kitab Ngo King dan SuSi, dan
Khonghucu bukan berbicara tentang kehidupan setelah mati, hanya sederhana
mungkingambaran tentang eskatologi, akan tetapi untuk mebuktikannya, bahwa
Khonghucu juga berbicara tentang roh-roh para leluhur mereka yang telah meninggal.
Akan tetapi penjelasan ini hanya sedikit, tidak jelas apakah roh-roh nenek
moyang itu di neraka atau disurga, dan apa itu surga dan neraka dalam pandangan
Khonghucu secara detail. Maka dari itu dalam perkataan Khonghucu seperti
dikatakan hidup setelah mati, ia harus mengenal apa itu hidup, dan dilalui oleh
kehidupan terlebih dahulu.
Daftar Pustaka
1. Joesoef
Sou`yb, Agama-agama Besar di Dunia, (Al-husna Zikra: 1996)
2. Prof. Arifin, H.M. Menguak Misteri
Ajaran Agama-agama Besar. Golden Trayon Press, 1986, Jakarta, cet. 1
3. Mukti
Ali, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta : IAIN PRESS, 1988)
4. http://
Agama Konghucu.com
[2]
Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal
Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005,
hlm. 44
[3]
Ibid 48
[5]
Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal
Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005,
hlm. 53
[6]
http:// kematian dalam tradisi
Khonghucu, pada tanggal 01-05-2012, pada jam 08.09. Wib
[7]
Dr. M. Ikhsan Tanggok, Mengenal
Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia. Pelita kebajikan. Jakarta,2005,
hlm. 52
[8]
Prof. Arifin, H.M. Menguak
Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Golden Trayon Press, 1986, Jakarta, cet.
1, hal. 27
[9]
Ibid 28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar