Bangsa
Tiongkok dikenal sebagai bangsa yang memiliki adat- istiadat kehidupan
masyarakat dalam beberapa hal:
- Sangat mengagungkan kepercayaan terhadap hal- hal ghaib, roh – roh serta para leluhurnya. Dengan kata lain, mereka berfaham animisme (serba roh).
- Sangat menjunjung tinggi etika serta upacara – upacara dalam hidup bermasyarakat.
- Sangat mementingkan kehidupan mental daripada material (kebendaan).
Dengan
demikian, maka apabila ingin mendalami ajaran – ajarannya, terlebih dahulu
perlu memahami adat kepercayaan masyarakatnya.
Sebagai
bangsa yang kaya akan pandangan hidup kebatinan yang bijaksana, tradisi bangsa
tersebut dapat disejajarkan dengan bangsa india. Hanya ada sedikit perbedaan antara
kedua bangsa ini yang dalam cara menanggapi kehidupan duniawi sebagai sesuatu
yang penuh dengan samsara (penderitaan karena penjelmaan berkali- kali) yang
harus secepatnya mendapatkan kelepasan. Sedangkan bangsa Tionghoa Kuna
mempunyai pandangan sebaliknya yaitu menanggapi hidup duniawi penuh dengan
optimisme, karena jika hidup di dunia baik maka hidup di alam lain akan baik
pula.
I.
Pandangan Hidup Bangsa Tiongkok Kuna
Untuk
mengetahui bagaimana pandangan hidup bangsa Tiongkok kuna pada masa itu, dapat
diketahui melaui gambaran yang dikemukakan oleh seorang sarjana Tiongkok
bernama Dr. Lin Yu Tang yang menyatakan bahwa “Budi” itu adalah kekuatan yang
mencari keselarasan dengan dunia sekitarnya yaitu suatu sikap kejiwaan yang
terpuji dalam keseluruhan bentuk hidup yang luas sesuai dengan hukum dunia yang
paling tinggi yakni hukum Tao. Lidah manusia tidak mampu merumuskan dengan kata
– kata apapun juga tentang Tao itu. Sikap kejiwaan yang demikian itu dapat
membuka diri pribadi mereka. Tiongkok mempunyai tiga macam agama, ketiganya
merupakan satu agama. Ketiga agama tersebut adalah Kunfucianisme, Taoisme dan
Budhisme.
Mengingat
kuatnya tradisi, pandangan hidup rohaniah yang berlatar belakang pada
kepercayaan terhadap hal – hal ghaib itu, maka dapat dikatakan bahwa landasan
hidup keberagamaan bangsa Tiongkok adalah animisme yang dipadu dengan
theisme. Landasan ini dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan – pemujaan
terhadap leluhur (nenek moyang), langit dan alam sekitar. Oleh karena itu dalam
berbuat baik terhadap roh leluhur, biasanya orang yang telah meninggal dunia
ini dimakamkan di tanah milik mereka sendiri, serta membuat meja sembahyang
(altar) untuk kepentingan tersebut.
Selain
itu bangsa Tiongkok kuna selalu mengadakan upacara dengan tujuan untuk
menghormati Dewa –dewa. Upacaraselalu ditetapkan pada saat yang khusus dalam
kehidupan manusia. Sikap pemujaan semacam ini menimbulkan hal – hal yang tabu
dan sakral dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, kehidupan masyarakat
Tiongkok kuna baik kalangan bangsawan maupun rakyat jelata selalu diikat dengan
peraturan yang bertujuan mempertahankan adanya harmonisasi antara satu dengan
yang lain, antara manusia dengan manusia, antara bawahan dengan atasan, antara
manusia dengan makhluk lainnya, antara susunan dunia dengan sususnan yang ada
di langit, dan antara manusia dengan alam sekitarnya.
C.J.
Bleeker mengatakan bahwa bentuk awal dari konsep keberagamaan orang Cina itu
terdiri dari : pemujaan alam, pemujaan, atau penghormatan pada leluhur, dan
pemujaan terhadap langit.
II.
Riwayat Hidup Khonghucu
- Masa Kecil dan Masa Muda Khonghucu
Khonghucu
(Confusius) lahir d kota Tsou, di negeri Lu. Leluhurnya adalah K’ung Fangshu
(yang merupakan generasi kesembilan dari raja muda negeri Sung dan generasi
keempat sebelum Khonghucu). Fangshu adalah ayah Pohsia, dan Pohsia adalah ayah
Siok- Liang Hut. Hut adalah ayah Khonghucu, istrinya berasal dari seorang
wanita dari keluarga Yen. Murid – murid Khonghucu pada masa itu menyebutnya
Khonghucu atau Khongcu yang berarti “guru Khong”. Sarjana – sarjana barat
menyebutnya Konfucius.
Sewaktu
Khonghucu berusia tiga tahun, bapanya meninggal dunia dan dimakamkan di
Fangshan, yang terletak di bagian paling timur Negeri Lo (di Shantung)\. iapun
diasuh dan dibesarkan oleh ibunya. Guru guru yang mengajarnya sangat memujikan
kecerdasan Khonghucu. Sewaktu sudah dewasa, kecerdasan dan kebijaksanaanya
menjadi buah tutur dalam distrik kediamannya itu. Banyak orang datang
menjumpainya untuk bertukar pikiran maupun bertanyakan sesuatu hal
Ketika
Khonghucu berusia empat tahun, ia bermain dengan teman – teman sebayanya. Dalam
bermain, ia senang memimpin teman – temannya dalam nmenirukan orang – orang
dewasa melakukan upacara sembahyang. Pada ibunya, ia pernah meminta alat – alat
sembahyang tiruan yang disebut dengan Cao dan Too[8]. Alat – alat tersebut
ia letakkan di atas meja, kemudian ia memimpin teman – temannya untuk melakukan
sembahyang. Kedua alat tersebut selalu digunakan orang Cina dalam melakukan sembahyang.
Ini menunjukkan bahwa sejakkecil Khonghucu telah memperlihatkan sifat – sifat
yang mulia, yaitu sangat menghargai dan menghormati para leluhurnya.
Pada
usia tujuh tahun Khonghucu secara formal bersekolah di perguruan Yan Ping
Tiong yan Ping Tiong adalah orang yamg kemudian terkenal sebagai Perdana
Menteri Negari Cee. Di sekolah, Khonghucu dan teman – temannya diajari cara
menyiram, membersihkan lantai, Tanya jawab, budi pekerti, music, naik kuda,
memanah, bahasa, dan berhitung. Pendidikan formal Khonghucu hanya berlangsung
selama tujuh tahun dan setelah itu ( pada saat usianya 15 tahun) ia terpaksa
menuntut ilmu di luar sekolah. Oleh sebab itu, pada usianya 17 tahun ia
terpaksa meninggalkan sekolah untuk bekerja demi meringankan pekerjaan ibunya.
Pada
usia 19 tahun, Khnghucu menikah dengan seorang gadis dari keluarga Kian- Kwan
dari negeri Song. Acara pernikahan hanya dilakukan secara sederhana dan tidak
terlalu mencolok seperti yang dilakukan orang orang pada saat itu. Dari
pernikahan tersebut, ia mendapatkan seorang anak laki – laki yang diberi nama
Li atau Pik Gi. Li berarti Ikan Gurami, sedangkan Pik Gi adlah putra pertama
yang bernama ikan. Pik Gi tampaknya tidak secemerlang ayahnya, namun anaknya
(cucu Khonghucu) yang bernama Cu su berhasil meneruskan ajaran kakeknya
(Khonghucu) dengan membukukan kitab Tiong Yong (tengah sempurna).
Ketika
Khonghucu berusia 20 tahun, ia bekerja pada keluarga bangsawan besar Kwi-sun.
hal ini ia lakukan untuk membiayai kehidupan rumah tangganya.
Di
keluarga bangsawan besar Kwi-sun, Khonghucu diberi tugas sebagai kepala dinas
pertanian. Meskipun pekerjaan ini kurang sesuai dengan keahlian yang
dimilikinya, namun Khonghucu tetap dapat melaksanakan tugas itu sebaik-
baiknya.
Dalam
mengawasi seluruh pekerjaan pengumpulan hasil bumi keluarga bangsawan besar
Kwi-sun, Khonghucu selalu menjaga jangan sampai ada kecurangan dan pemerasan
yang dapat merugikan para petani. Karena sikapnya yang ramah ini, ia jadi
banyak tahu tentang persoalan yang dihadapi oleh para petani tersebut.
Dalam
pengaturan tata buku,ia melakukannya dengan penuh keseksamaan dan tertib.
Dengan kebijaksanaanya dalam memimpin, dalam wwktu yang tidakbegitu lama ia
dapat menertibkan pekerjaan yang dulunya tidak beres dan dapat memberantas
praktek – praktekilegal yang dapat merugikan rakyat banyak.
Keberadaan
Khonghucu pada kepala keluarga bangsawan besra Kwi- sun tidak hanya sebagai
pemimpin dinas pertanian tapi juga diserahi tugas untuk memimpin dinas
peternakan yag sudah cukup lama mempunyai masalah. Penyerahan tugas baru oleh
kwi-sun pada Khonghucu ini tentu saja tidak terlepas dari keberhasilannya dalam
memimpin dinas pertanian milik keluarga bengsawan besar tersebut. Tugas baru
ini ia terima dengan senang hati dan dengan kesungguhan hati pula ia menyelesaikan
berbagai masalah yang ada dalam dinas peternakan itu.
Sewaktu
ibunya meninggal dunia, iapun berkabung tiga tahun lamanya, menurut adat
istiadat Tiongkok. Masa tiga tahun itu dipergunakannya untuk memperdalam
pengetahuannya dalam bidang sejarah, sastra dan filsafat. Sehabis masa tiga
tahun itu ia tidak balik memegang jabatannya dalam pemerintahan, tapi membuka
perguruan.
- · Karir Sebagai Guru
Nama
Khonghucu makin harum dan para pelajar lambat laun makin berduyun dating untuk
belajar dari seluruh wilayah Lu, dan juga dari berbagai wilayah di luar Lu.
Sewaktu usianya 34 tahun maka para pelajar pada perguruannya itu sudah
berjumlah lebih 3.000 orang.
Wazir
besar wilayah Lu menganjurkan puteranya supya belajar kepada Khonghucu. Melalui
pitra wazir besar itu, maka Khonghucu pada akhirnya berkenalan dengan Duke of
Lu hal itu makin menambah harum nama ahli pikir muda itu.
Sekitar
498 SM, Konfusius memutuskan untuk meninggalkan rumahnya di Lu dan memulai
perjalanan panjang di seluruh China timur. Ia disertai oleh beberapa orang
muridnya (pengikut). Mereka mengembara di seluruh negara timur Wei, Sung, dan
Ch'en dan dalam beberapa kali kehidupan mereka terancam. Konfusius hampir
dibunuh di Sung.
Konfusius
diterima dengan hormat oleh para penguasa negara-negara yang ia kunjungi, dan
ia bahkan tampaknya telah menerima pembayaran sesekali. Ia menghabiskan banyak
waktunya mengembangkan gagasannya tentang seni pemerintahan, serta melanjutkan
ajarannya. Dia memiliki banyak pengikut, dan pemadatan sekolah Konfusianisme
mungkin terjadi selama bertahun-tahun. Tidak semua murid-Nya mengikuti Dia
dalam perjalanan. Beberapa dari mereka benar-benar kembali ke Lu dan mengambil
posisi dengan klan Chi. Ini mungkin telah melalui pengaruh mereka bahwa dalam
484 SM Konfusius diundang kembali ke Lu.
- Keberhasilan Khonghucu dalam Memimpin
Khonghucu
tidak hanya teguh dalam pendiriannya, menjadi teladan bagi semua orang, jujur,
hidup sederhana, memberikan nasehat pada orang lain, dan selalu berada di jalan
suci, tapi juga bnerhasil menegakkan program pemerintah, sehingga dalam waktu
yang begitu cepat, ia dapat menciptakan masyarkat adil dan makmur. Semua
golongan masyarakat memperoleh pekerjaan dan pendidikan yang dapat dirasakan
oleh seluruh golongan masyarakat. Untuk itu, dalam waktu yang relative singkat
dapat dibangun kesadaran moral yang tinggi, tidak penipuan, pemalsuan, korupsi
dan sebagainya. Dengan demikian, wajarlah jika daerah Tiongto yang dipimpin
oleh Khonghucu menjadi darah teladan. Dengan kenberhasilannya itu, Khonghucu
diangkat menjadi gubernur di daerah Tiongto, Khonghucu tidak bekerja sendiri,
ia dibantu oleh para muridnya. Berkat kerja sama ynag baik antara antara
pimpinan dengan bawahannya, atau antara guru dengan murid, daerah tersebut
menjadi makmur dan berjalan sesuai dengan kaedah – kaedah normal.
Berita
tentang keberhasilan Khonghucu dalam memimpin Tiongto tersebar kemana- mana,
dan hal ini juga didengar oleh raja muda Lo Ting Kong. Tak lama kemudian
tergeraklah hatinya untuk membuktikan kebenaran berita tersebut. Oleh karena
itu, pada suatu hari ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Khonghuc dsn
sekaligus membuktikan kebenaran tersebut, Raja Muda Lo Ting Kong barulah yakin,
apa yang ia dengar itu benar – benar terjadi. Setelah melihat keberhasilan itu raja,
Raja Muda Lo mengajukan usul kepada Khonghucu agar apa yang ia capai di Tiongto
dapat juga disebarkan ke seluruh negeri Lo. Dengan penuh keyakinan Khonghucu
berkata, “keberhasilan ini tidak hanya dapat dicapai di seluruh negeri
Lo, tapi juga bias diwujudkan ke seluruh dunia.”
Dilihat
konteks di atas, Khonghucu tidak hanya sebagai tokoh spiritual yang selalu
mempunyai pikiran brilian, tapi juga sebagai negarawan yang dapat mewujudkan
negeri yang adil dan makmur, yang ia bangun dengan landasan moral yang dulunya
tidak begitu banyak diperhitungkan oleh para penguasa.
Khonghucu
adalah seorang yang bermoral dan sangat menjunjung tinggi nilai – nilai moral.
Jika ia melihat seseorang yang bertingkah laku tidak sesuai dengan kaedah –
kaedah moral, maka ia tidak segan – segan untuk ikut memperbaikinya. Khonghucu
sangat prihatin melihat kehidupan orang masa itru, di mana mereka banyak tang
senang berfoya – foya, mabuk – mabukan, mengeruk hasil keringat rakyat, dan
sebagainya. Oleh karena itu ia merasa terpanggil untuk memperbaikinya.
Khonghucu
wafat pada 479 S.M. ajarannya dilanjutkan dan dikembangkan oleh cucunya, Tzu-
Szu, serta tokoh – tokoh yang lainnya seperti Meng-tze (372-289 S.M.). setelah
Khonghucu meninggal, ajarannya masih dirasakan sampai sekarang, bahkan seluruh
dunia mengenalnya, serta mempraktekkan ajarannya.
Dalam
mengajarkan ajaran- ajarannya Khonghucutidak suka mengkaitkan paham ketuhanan,
ia menolak membicarakan tentang akhirat dan hal – hal yanh bersifat metafisika,
ia hany aseoran Filosof sekuler yang mempermasalahkan moral kekuasaan dan
akhlak pribadi manusia yang baik. Namun dikarenakan ajaran – ajarannya lebih
banyak mengarah pada kesusilaan dan mendekati ajaran keagamaan maka ia sering
digolongkan dan dianggap sebagai pembawa agama
- III. Kitab Suci Agama Konghucu (Ngo King, Su Si dan Hau King)
Kitab
suci merupakan suatu pedoman agama bagi para pengikut suatu agama. Tanpa kitab
suci, sulit bagi kita untuk mengetahui kebenaran ajaran suatu agama. Kitab suci
suatu agama adalah kitab yang berisikan ajaran moral yang dapat dijadikan
pandangan hidup bagi para pengikutnya.
Untuk
mengetahui ajaran suatu agama, kita dapat melihat dari kitab – kitab yang
dimilikinya, karena tanpa adanya kitab, sulit bagi kita untuk mengetahui apa
sebenarnya yang terkandung dalam agama yang mereka anut, tidak hanya itu, kitab
suci juga dapat dijadikan bahan dalam membandingkan ajaran suatu agama dengan
yang lainnya. Begitu juga dengan agama Khonghucu, agama ini juga memiliki kitab
suci. Kitab – kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan
beragama umat Khonghucu adalah “Su Si” (kitab yang empat atau kumpulan dari
empat buah kitab) dan Wu Cing atau Ngo King (lima Kitab) dan Hau King.
- 1. SU SI / Shi Su / Empat Buku.
Adalah
Kitab Suci yang langsung bersumber pada Nabi Khongcu hingga Bingcu. Merupakan
Kitab Suci yang pokok dalam Ji Kau.
Kitab
Suci ini terhimpun dan terbukukan dari Nabi Khongcu oleh para penerusnya.
Terdiri dari :
- KITAB THAI HAK / Da Xue / Kitab Ajaran Besar. Ditulis oleh Cingcu / Zheng Zi atau Cham / Can alias Cu I / Zi Xing, murid Nabi Khongcu dari angkatan muda.
Terdiri dari 1 Bab utama 10 Bab uraian,
1753 huruf + 134 / V.Merupakan Kitab Tuntunan panduan pembinaan diri yang
berisi tentang etika dalam kehidupan keluarga, masyarakat, Negara dan dunia.
Dalam
kata pengantar kitab Thai hak tersebut dikatakan bahwa Thai Hak ini
adalah kitab warisan mulia kaum Khong yang merupakan ajaran permulaan untuk
memasuki pintu gerbang kebajikan. Dengan mempelajari kitab Thai Hak ini dapat
diketahui cara belajar orang zaman dahulu. Siapa yang akan mempelajari kitab –
kitab lainnya seperti Lun Yu atau Lun Gi (sabda suci), Tiong Yong atau Zhong
Yong (tengah sempurna), dan Bingcu atau Mencius, dapat mulai dengan mempelajari
kitab Thai Hak ini.
- KITAB TIONG YONG / Zhong Yong / Kitab Tengah Sempurna. Ditulis oleh Cu Su / Zi Shi alias Khong Khiep, cucu Nabi Khongcu.yang kemudian disusun lagi oleh Zi Hi.Terdiri dari satu Bab utama 32 Bab uraian, 3.568 huruf.Merupakan Kitab Keimanan bagi Umat Ji.
Kitab
Tiong Yong ini berarti tengah sempurna. “tangah” diartikan “tepat sasaran”,
ditambahkan lagi bahwa “tengah” itu “jalan yang lurus di dunia” dan “sempurna”
adalah “hukm tetap dunia”. Dapat juga dikatakan bahwa “tengah sempurna” itu
adalah berbuat sesuai dengan hukum alam.
Disamping
membicarakan mengenai Tiong Yong itu sendiri, kitab ini juga membicarakan
tentang arti agama, Thian (Tuhan Yang Maha Esa), susilawan (Kuncu), Tuhan dan
manusia yang susila (kuncu), serta membicarakan mengenai keperwiraan , ajaran –
ajaran etika, keimanan, jalan suci Tuhan Ynag Maha Esa, dan hukum – hukum yang
ada dalam alam ini.
- KITAB LUN GI / Lun Yu / Kitab Sabda Suci.
Merupakan kumpulan
perkataan Khonghucu, yang disusun para pengikutnya setelah Khonghucu wafat.
Kitab ini ada tiga macam, yaitu versi Naskah Kuno, versi Shi’I, dan versi Lu.
Yang kebanyakan dipakai sekarang adalah versi Lu. Antara ketiga versi itu
berbeda-beda.
secara umum kitab ini berisi tentang
Hak Ji (belajar), Wi Cung (pemerintahan), Pat Let (tarian/ seni), Li Jien
(cinta kasih), nama – nama orang, Hiang Tong (kampong), dan lain- lain.
Secara
khusus Lun Yu berisikan hal – hal yang berhubungan dengan pembicaraan dan
nasehat yang diberikan oleh Khonghucu yang berkaitan dengan kondisi masa
itu.
- KITAB BINGCU / Mencius / Kitab Bingcu. Sebagian ditulis Bingcu sendiri, sebagian merupakan catatan Ban Ciang / Wan Zhang dan Khongsun Thio / Gong Sunchou, murid-muridnya.
Terdiri dari 7 Bab, masing-masing A dan
B, 35.377 huruf.
Adalah kumpulan tulisan yang mencatat
percakapan Bingcu dalam menjalankan kehidupan masa itu dengan menegakkan ajaran
– ajran Khonghucu. Pendirian Bing Cu adalah mengungkapkan cinta kasih dan
kebenaran, menebarkan jalan suci, kebajikan, dan mengakui Tuhan Ynang Maha Esa
(Thian).
- 2. NGO KING (Lima Kitab)
Adalah
Kitab-Kitab Suci yang berasal dari para Nabi Purba dan Raja Suci, merupakan
Kitab-Kitab Suci yang mendasari Agama Khonghucu.
Ngo
King ini dihimpun, diedit, dibakukan, disusun, dan terbukukan oleh Nabi
Khongcu.
Terdiri
dari :
- SIE KING / SHI JING / KITAB SAJAK
kitab
ini terdiri dari 39.222 huruf yang berisikan kumpulan sajak ata nyanyian yang
bersifat lagu rakyat yang berasal dari berbagai negeri, sajak ini dibagi ke
dalam empat bagian nyanyian untuk upacara istana dan nyanyian untuk mengiringi
uapacara ibadah, yaitu:Kok Hong ( Nyanyian Rakyat ), Siau Nge ( Pujian kecil ),
Tai Nge (pujian besar), dan Siong ( Pemujaan / Puja ).
Sajak
yang tertua berasal dari Dinasti Siang 1766-1122 SM, sedngkan yang termuda
berasal dari jaman Raja Muda Ciu Ting Ong ( 605-586 SM).
Sie
King dibagi menjadi 4 Bab, yakni :
-
Kok Hong / Guo Feng / Nyanyian Rakyat atau Adat Istiadat
15
Buku 160 Sajak
-
Siau Nge / Xiau Ya / Pujian Kecil, pengiring upacara di istana.
8
Buku 80 Sajak
-
Tai Nge / Da Ya / Pujian Besar kepada Nabi Ki Chiang / Bun Ong
3
Buku 31 Sajak
-
Siong / Song untuk mengiringi upacara peribadahan
3
Buku 40 Sajak
Setelah
terjadi pembakaran Kitab-Kitab oleh Chien Sie Ong / Chin Shi Huang, para cedekia
di Jaman Dinasti Han mengumpulkan sajak-sajak yang tercecer. Ada beberapa macam
Kitab Sajak yang berhasil dihimpun oleh mereka. Yaitu:
1.
Lo Sie / Lu Shi, Sie King dari Negeri Lo.
Susunan
Sien Pwee atau Sien Kong / Shen Gong pada Jaman Han Bu Tee ( 140-87 SM ). Sien
Pwee memperolehnya dari Hau Kiu Poo ( Negeri Cee ), guru Khong An Kok / Kong An
Guo, keturunan Nabi Khongcu, tokoh aliran kuno.
2.
Cee Sie / Qi Shi, Sie King dari Negeri Cee.
Susunan
Wan Gong / Yan Gong, pada jaman Han King Tee ( 156-141 SM ), hidup sampai jaman
Han Bu Tee dalam usia lebih dari 90 tahun. Murid terkenal Heho Sicong.
3.
Han Sie / Han Shi, Sie King dari Negeri Han.
Disusun
oleh Han Ing / Han Ying, orang Negeri Yan pada jaman Han Bu Tee ( 179-157 SM ).
4.
Mo Sie / Mau Shi, Sie King orang Negeri Mo.
Disusun
oleh Mo Hing / Mau Heng, orang negeri Lo. Dilanjutkan oleh Mo Tiang / Mau
Chang. Inilah Sie King yang terkenal sampai sekarang. Disamping lestari, juga
dipercaya keasliannya. Sam Jie King Cu Kai Pwee Yau – Kitab Tiga Huruf – menyebut
versi ini..
- SU KING / Shu Jing / Kitab Hikayat kitab ini berisikan teks – teks dokumentasi sabda, peraturan, nasehat, maklumat para Nabidan raja – raja suci purba. Kitab yang tertua ber sal dari zaman sekitar abad ke-23 S.M. dan yang terakhir berasal dari zaman pertangahan dinasti Ciu, sekitar abad ke-6 S.M.
Su
King terdiri dari 25.700 huruf, tersisa 58 Bab.
Terdiri
dari 4 Buku 6 Jilid, yaitu :
1.
Gi su, 5 Bab, Hikayat Tong Giau ( 2357 – 2255 SM ) & Gi Sun ( 2255 – 2205
SM ) Didalamnya terdapat Giau Tian ( perundangan Baginda Giau ) dan Sun Tian (
perundangan Baginda Sun ).
2.
He Su, 4 Bab, Naskah-Naskah Dinasti He ( 2205 – 1766 SM ).
3.
Siang Su, 17 Bab, Naskah-Naskah Dinasti Siang ( 1766 – 1122 SM ).
4.
Ciu Su; A, B, C; 32 Bab, Naskah - Naskah Dinasti Ciu (1122-255 SM).[25]
- YA KING / Yi Jing / I Ching / Kitab Perubahan.
kitab ini
emgemukakan tentang system filsafat yang fantastis, yang menjelaskan arti dasar
tentang Yin (wanita) dan Yang (pria).
- Li Chi / buku tentang upacara – upacara.
Konfusius menyetujui beberpa upacara
tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawa kehalusan budi, keagungan
dan kesopanan ke dalam tingkah laku social mereka. Ia menyoroti asal – usul dan
pentingnya upacara – upacara kuno dan mengingatkan bahwa Li adalah suatu
pernyataan perasaan. Dengan mengkritik praktek –praktek yang merendahkan
derajat, ia menyatakan bahwa Li tanpa perasaan adalah tidak lain daripada
upacara – upacara yang pura – pura saja.
- Yeo / Buku tentang Musik
Pada zaman Konfucius music berhubungan
erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak – sajak kuno, ia juga
menyusun pasangannya berupamusik untuk setiap sajak yang telah diseleksinya. Ia
juga mengubah lagu- lagu yang lama dan membuat komposisi baru.
- Chu’un Ch’ii / Sejarah Musim Semi dan Musim Rontok
Berisi catatan kronologis tentang
peristiwa – peristiwa di negeri Lu mulai tahun pertama pemerintahan Pangeran
Yiu (722 S.M.) hingga tahun keempat belas dari pemerintahn Pangeran Ai (481
S.M). menurut Chu Chai, tema pokok kitab ini adalah menempatkan noram – norma
pemerintahan yang baik, menetapkan kembali pangeran – pangeran yang merebut
kekuasaan di tempat mereka semula dan menghukum menteri – menteri yang berbuat
salah sehingga perdamaian dunia dan persatuan dapat dipulihkan.
Selain
Kitab Ngo King dan Su Si, ada 1 kitab lagi yang tidak boleh tidak dipentingkan.
Yaitu:
- 3. HAUW KING / Xiao Jing / Kitab Bakti.
Ditulis
oleh Cingcu, murid Nabi Khongcu yang terdiri dari 18 Bab. Berisi percakapan
Nabi Khongcu dengan Cingcu. Merupakan Ajaran tentang Berbakti dan Memuliakan
Hubungan.
Zaman
dahulu, seorang murid wajib memulai pendidikan dengan belajar Hauw King, baru
kemudian belajar Su Si dan terakhir Liok King / Liu Jing / Enam Untaian /
Himpunan Kitab ( atau yang dikenal sebagai Ngo King).
DAFTAR
PUSTAKA
Ali
Mukti. Agama – Agama Di Dunia.( IAIN SUNAN KALIJAGA PRESS:
Yogyakarta,1988).
Arifin.
Menguak Misteri Ajaran – Ajaran Agama Besar. (Jakarta: Golden Trayon,
1995).
Hadikusuma
Hilman. Antropologi Agama bagian I (Pendekatan Budaya terhadap Aliran
Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Khonghucu di Indonesia). (PT. Citra Aditya
Bakti: Bandung, 1993)
http://confucianismcrew.blogspot.com/2008/08/kitab-kitab-suci-agama-khong-hu-cu.html
19-3-2012. 13.30
Sou’yb
Joesoef. Agama – agama Besar Di Dunia. (PT. Al Husna Dzikra: Jakarta,
1996),
Tanggok
M. Ikhsan. Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia
[1]
HM. Arifin, Menguak Misteri Ajaran – Ajaran Agama Besar, (Jakarta:
Golden Trayon, 1995), hal. 25.
[2]
Ibid, hal. 26.
[3]
Theisme adalah faham yang mengatakan bahwa Tuhan itu transcendence.
[4]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
(Jakarta : Pelita Kebajikan, 2005), hal.7
[5]
Ibid, hal. 9
[6]
Joesoef Sou’yb, Agama – agama Besar Di Dunia,
(PT.
Al Husna Dzikra: Jakarta, 1996), hal. 170
[7]
Cao adalah sejenis otak untuk menempatkan manisan
[8]
Tao adalah sejenis mangkok.
[9]
Sekolah yang dikelola oleh ayah Yan Ping Tiong.
[10]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
hal. 14
[11]Joesoef
Sou’yb, Agama – agama Besar Di Dunia,hal.171
[12]
Yang dipertuanwilayah Lu
[13]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,hal.17
[14]
H. Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama bagian I (Pendekatan Budaya terhadap
Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Khonghucu di Indonesia), (PT. Citra
Aditya Bakti: Bandung, 1993), hal.246
[16]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
hal. 27
[18]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
hal. 29-30
[19]
H. Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama bagian I (Pendekatan Budaya terhadap
Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Khonghucu di Indonesia), (PT. Citra
Aditya Bakti: Bandung, 1993), hal. 248
[20]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
hal. 30-31
[21]
Ibid, hal.38
[22]
Ibid, hal.40
[24]
M. Ikhsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia,
hal. 41
[26]
H. Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama bagian I (Pendekatan Budaya terhadap
Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Khonghucu di Indonesia), (PT. Citra
Aditya Bakti: Bandung, 1993), hal. 248
[27]
H.A. Mukti Ali, Agama – Agama Di Dunia,( IAIN SUNAN KALIJAGA PRESS:
Yogyakarta,1988), hal. 227
Tidak ada komentar:
Posting Komentar